Road Trip di Pedalaman Myanmar

Berkendara menembus dataran tinggi Negara Bagian Shan di timur Myanmar.

Lama tertutup akibat perang, jalan raya menuju Negara Bagian Shan di pojok timur Myanmar kini siap menyambut para petualang.

Teks & foto oleh Mark Eveleigh

“Kita hampir sampai di puncak Shan Yoma,” ujar Naung Naung saat mobil kami berhenti di tepi National Highway 4. “Konon katanya, jika Anda menjatuhkan sebutir telur dari sini, telur itu akan menetas sebelum menyentuh tanah.”

Saya tengah berada di salah satu sudut tersembunyi di Myanmar. Perjalanan saya dan Naung Naung dimulai dua hari silam. Bertolak dari Inle Lake, kami melakoni road trip ke arah timur negeri. Agenda utamanya adalah mengarungi Negara Bagian Shan, mulai dari Taunggyi, Ibu Kota Shan, menuju Kengtung di dekat kawasan Segitiga Emas. Di antara kedua tempat tersebut bersemayam Dataran Tinggi Shan Yoma, kawasan terpencil yang dikangkangi gunung dan dihuni komunitas-komunitas tribal.

Usai transit sejenak, kami kembali berkendara, kali ini menuju Hten San, situs ziarah di dekat Taunggyi. Saat saya datang, sekelompok wanita dengan kepala berbalut serban tengah mengiris sayuran di pelataran kuil yang dikelola oleh Koyin Lay. Di mata warga setempat, Koyin Lay ibarat Robin Hood versi Buddha. Tak sulit mengenalinya: dia mengendarai sebuah Hummer berkelir putih.

Saat masih berstatus samanera (calon biksu), Koyin Lay datang ke hutan ini dan mendirikan kuil di perut gua. Banyak orang tersentuh dengan perjuangannya. Kuilnya menerima banyak sedekah, salah satunya berupa jip Hummer. Sang donatur sepertinya ingin memberikan benda yang bisa bertahan lebih lama ketimbang makanan.

Saya meninggalkan kuil dan kembali bertemu para wanita pengiris sayuran. Mereka juru masak relawan dari komunitas etnis Pa-O. Serban mereka yang berwarna-warni melambangkan naga, nenek moyang dalam kepercayaan lokal.

Bisa menemui warga Pa-O adalah pengalaman yang berharga. Myanmar mengoleksi begitu banyak grup etnis. Merujuk statistik resmi, negara ini didiami 135 suku. Tapi statistik tersebut sejatinya acap luput menangkap kompleksitas demografis di lapangan.

Pa-O digolongkan sebagai satu dari empat subgrup Suku Karen, padahal antropolog pernah menghitung bahwa Pa-O sendiri memiliki 24 subgrup. Keputusan pemimpin baru Myanmar Htin Kyaw mendirikan Kementerian Urusan Etnis menjelaskan betapa rumitnya proses sensus penduduk.

Dari Hten San, sopir mengarahkan kendaraan 4WD kembali ke jalan raya. Naung Naung, pemandu saya, mengumumkan bahwa kami akan meninggalkan Daerah Otonomi Pa-O dan memasuki kawasan timur Negara Bagian Shan. Wilayah perbatasan ini bermuara ke Tiongkok, Thailand, dan Laos.

Dulu, orang asing dilarang memasukinya, dan alasannya mudah dimengerti. Menengok sejarah, kawasan timur Shan merupakan jalur utama para bandit penyelundup opium. (Myanmar kini masih bertengger sebagai produsen opium terbesar kedua setelah Afghanistan.)

Problem lainnya adalah perang. Selama empat dekade, wilayah ini menampung faksi-faksi pemberontak yang berupaya menggulingkan rezim militer Myanmar. Pertempuran berlangsung sporadis, tapi acap brutal. Persoalan kian rumit karena sayap-sayap militer yang berbasis suku itu juga kerap berperang satu sama lain.

Tapi itu dulu. Pada 2013, belahan timur Highway 4 telah diturunkan statusnya: dari daerah rawan perang menjadi “zona cokelat,” istilah yang kurang-lebih berarti “daerah dengan risiko terbatas.” Konsekuensinya: turis boleh berkunjung, tapi dengan izin khusus.

Tak lama setelah keputusan itu dilansir, Naung Naung memandu tim Top Gear berkendara di Highway 4. Itulah untuk pertama kalinya sejak kemerdekaan Myanmar wilayah rawan perang ini menerima orang asing.

Mobil saya kini mengarungi jalan yang dipenuhi tanjakan terjal dan tikungan tajam. Etape yang menegangkan, terlebih karena mayoritas mobil memiliki kemudi di sisi kanan, tapi negeri ini memberlakukan aturan berkendara di sisi kanan. Alhasil, setiap keputusan menyalip sangatlah berbahaya.

Aturan janggal tersebut mulai diterapkan pada 1970 oleh pimpinan junta militer Ne Win. Menurut dugaan banyak orang, dia terinspirasi dari mimpi atau barangkali wangsit bisikan peramal.

Kami berhenti untuk makan siang di sebuah kedai. Sekarang kami telah berada sangat dekat dengan Segitiga Emas, kawasan penghasil opium di pegunungan yang melintasi Myanmar, Laos, dan Thailand. Dialek lokal menyerupai bahasa Thailand. Di dalam kedai, saya menawar harga air kemasan dengan bahasa Thailand yang terbatas, dan si penjual tampak memahaminya.

Warga Pa-O mengenakan serban, aksesori yang melambangkan naga, nenek moyang dalam kepercayaan lokal.

Dalam perjalanan ke Kengtung, kami akan transit di Kunhing untuk menginap semalam. Jaraknya masih beberapa jam lagi dari sini. Sebelum mobil bergerak, Naung Naung membawa saya ke sebuah desa untuk berkenalan dengan salah satu suku yang nyaris tak dikenal dunia.

“Orang-orang Palaung, seperti kelompok lain di daerah ini, memiliki pasukannya sendiri,” jelas Naung Naung. “Lihat orang-orang yang berjalan ke arah kita itu. Menurut kamu, mereka pria atau wanita?”

Dengan senapan yang dipanggul di atas bahu, kedua pemburu yang mendekati kami jelas terlihat maskulin. Tapi, jika dilihat lebih saksama, salah seorang pemburu memiliki rambut panjang yang terurai, sementara rekannya memiliki poni tipis. Stereotip gender saya kian melenceng saat akhirnya tiba di desa suku Palaung. Usai mendaki tangga, kami bertamu ke sebuah rumah panjang reyot di mana sekelompok wanita sedang menenun. Pria Palaung ternyata tak pernah menggunting rambut mereka, sementara kaum wanitanya mencukur rambut usai melahirkan anak pertama, lalu menjaganya tetap pendek hingga akhir hayat.

Kami mendarat di Kunhing sebelum senja, kemudian menikmati makan malam berisi menu daging babi mentah hasil fermentasi. Saat kami tengah bersantap, empat orang datang menghampiri. Kata Naung Naung, mereka polisi yang menyamar. Setelah sabar menanti kami kelar makan, keempatnya memeriksa izin perjalanan kami, lalu hengkang dari hotel usai menyadari semua berkas telah sesuai prosedur.

Perjalanan hari berikutnya berlangsung lebih dramatis. Mobil menanjak dan berliku gesit, menembus dataran tinggi, melewati desa-desa yang berserakan di lereng. Turis adalah makhluk langka di sini. Itu mungkin sebabnya banyak orang memotret kami. Di sepanjang Highway 4, kami menikmati keramahan yang menjadi ciri warga Shan. Tabiat yang bertahan meski mereka telah melewati konflik bersenjata selama bertahun-tahun.

Menjelang petang, kami transit di sebuah warung untuk menemui Sai Hla Shue, seorang pemimpin adat lokal. Dulu, selama perundingan gencatan senjata, dia bekerja sebagai negosiator antara kubu militer dan berbagai kelompok pejuang kemerdekaan Shan. Ditemani secangkir teh, Sai Hla Shue menuturkan betapa sukarnya menemukan titik kompromi guna meredakan pertikaian, baik antara pemerintah dan gerilyawan, maupun di antara sesama pemberontak.

“Shan State Army dan Shan Nationalities League for Democracy telah sepakat untuk mematuhi perjanjian gencatan senjata yang diteken pada 1991,” jelasnya, “tapi Liberation Party dan Restoration Council of Shan State sepertinya belum bisa berpaling dari perang.”

Saya berharap perang tak lagi pecah di sini. Warga sedang dimabuk optimisme bahwa kabinet sekarang akan berupaya sekuat mungkin mengakhiri perang. Aspirasi yang tak berlebihan sebenarnya. Untuk pertama kalinya sejak 1962, Myanmar dipimpin oleh pemerintahan yang terpilih demokratis.

Warga Shan kini mendambakan perdamaian yang langgeng. Mereka juga merindukan kesejahteraan yang dulu dinikmati saat Myanmar berstatus lumbung beras Asia Tenggara. Wajar jika orang rindu pada zaman emas itu. Pada 1920, Universitas Rangoon memiliki tingkat akademis yang menyaingi kampus elite sekaliber Oxford.

Kiri-kanan: Meski status rawan telah diturunkan, kawasan timur Highway 4 masih jarang dikunjungi pelancong; Naung Naung, seorang pemandu, menikmati pemandangan Pegunungan Shan Yoma dalam perjalanan ke Kengtung. Pria ini pernah memandu tim Top Gear di Shan.

Pada 1950-an, Myanmar mengekspor beras. Sayangnya, selepas kudeta militer 1962, negeri ini perlahan terjerumus ke sumur kemiskinan. Hasilnya: Myanmar resmi digolongkan sebagai “least developed country” oleh PBB pada 1987. Jika George Orwell—yang bekerja sebagai aparat kolonial di Burma pada 1922—berkunjung ke sini beberapa dekade lebih lambat, dia bakal menemukan diktator yang jauh lebih sadis ketimbang rezim Big Brother yang ditulisnya dalam novel Nineteen Eighty-Four.

Pemimpin oposisi Aung San Suu Kyi pernah mengajak turis memboikot Myanmar, karena menurutnya biaya visa hanya akan membuat junta bertambah kaya. Ajakannya sempat membuat saya ragu mengunjungi Myanmar, walaupun pada 1994 saya akhirnya memasuki negara misterius ini. Waktu itu saya menyewa sepeda motor di Thailand dan berkendara selama tiga hari menuju zona militer Three Pagodas Pass di Myanmar. Pengunjung tak perlu memiliki visa di sini, tapi mereka dilarang bermalam. Alhasil, saya menghabiskan hanya beberapa jam di Myanmar, mencukur rambut di sebuah salon lokal, lalu kembali ke Thailand.

Hari ini, 22 tahun setelahnya, saya kembali ke Myanmar dan menemukan wajah negeri yang sudah berubah. Suu Kyi berhasil menembus lingkaran kekuasaan. Kabinet baru yang dikepalai sipil memerintah dari ibu kota baru Myanmar, Naypyidaw. Tentu saja, perubahan tak berlangsung sama di semua wilayah. Berada di “zona cokelat,” saya masih harus melapor secara reguler kepada aparat dan mengalami pemeriksaan dokumen.

Tiap kali hendak menyeberangi sungai, kami mesti berhenti sejenak untuk mendapatkan restu dari penjaga. Di waktu-waktu itu, saya biasanya menyembunyikan kamera agar tidak dikira sedang memotret bunker beton yang mengawal kedua ujung jembatan.

Pos pemeriksaan semacam ini beroperasi hingga pukul 18:00. Di malam hari, kendaraan turis dilarang melintas. Atas alasan itulah kami melintasi Sungai Salween di pagi hari. Seorang penjaga mengingatkan bahwa kami boleh memotret, tapi dilarang memarkir kendaraan. Saya melongok dari jendela dan melihat panorama di kaki jembatan. Dua orang nelayan tengah mendayung sampan menembus kabut yang berembus pelan. Bambu bergoyang lesu di bantaran yang damai. Air berkelok kalem melewati sebuah pulau di tengah sungai.

Oleh warga, Sungai Salween dijuluki “Sungai Berkah.” Sungai ini membelah Shan dari utara ke selatan, mengaliri banyak sawah dan ladang. Irigasi yang bersumber dari Sungai Salween berperan vital dalam industri pertanian lokal. Meski luasnya kurang dari seperempat wilayah Myanmar, Shan memproduksi sekitar 60 persen buah dan sayuran di negeri ini.

Mobil meninggalkan perbukitan dan meluncur ke Kengtung, ujung ekspedisi kami. Di perjalanan, Naung Naung teringat masa remajanya saat penguasa mengisolasi warga dari dunia. “Para jenderal begitu paranoid sampai-sampai telepon genggam dikategorikan barang ilegal,” kenangnya. “Pada 2001, Anda harus membayar $4.000 untuk sebuah telepon genggam!”

Nelayan lokal membelah kabut tipis yang melayang di atas Sungai Pang, anak Sungai Salwean.

Untungnya, zaman telah berganti. Tirani runtuh dan demokrasi menyingsing. Karena itulah Naung Naung bisa dengan leluasa dan lantang mengeluhkan masa lalu negerinya yang mencekam. Dan dia bukan satu-satunya orang yang tengah mensyukuri kebebasan. Banyak orang antusias menyambut fajar baru. Ada semacam euforia yang menular dari desa ke desa. Warga belajar berbicara jujur tentang negara mereka sendiri, tanpa harus berbisik-bisik seolah sedang dimata-matai oleh agen rahasia. Setelah bertahun-tahun dikurung isolasi dan represi, mereka kini mulai meraba-raba makna sebenarnya dari kebebasan berbicara dan pers.

Uniknya, di masa ketika akses terhadap informasi terbuka, televisi dan parabola tak lantas laris diburu. Warga justru lebih suka menyerap berita melalui telepon genggam. Myanmar versi baru, dengan segala kegamangannya, ternyata cukup progresif dalam merayakan era mobile technology.

Detail

—Rute
Penerbangan ke Naypyidaw, Ibu Kota Myanmar, dilayani oleh Bangkok Airways (bangkokair.com). Untuk penerbangan ke Yangon, opsi maskapainya lebih beragam, di antaranya Singapore Airlines (singaporeair.com), AirAsia (airasia.com), dan Vietnam Airlines (vietnamairlines.com).

—Informasi
Operator tur Khiri Travel (khiri.com) menawarkan banyak paket perjalanan untuk menjelajahi Myanmar, termasuk ke daerah-daerah pelosok yang jarang disambangi turis. Perjalanan darat mengarungi Negara Bagian Shan bisa dikemas sesuai permintaan dan lazimnya dibanderol mulai dari Rp2.500.000 per orang per hari, mencakup pemandu, izin wisata, serta kendaraan dan bensin.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Januari/Februari 2017 (“Tabir Timur”).



Comments

Related Posts

3017 Views

Book your hotel

Book your flight