Review Sony Nex-5T oleh Rony Zakaria

  • Sony NEX-5T warna hitam.

    Sony NEX-5T warna hitam.

  • Mobil di World Trade Center, Jakarta, yang dipotret menggunakan ISO 3.200.

    Mobil di World Trade Center, Jakarta, yang dipotret menggunakan ISO 3.200.

  • Pada kondisi pencahayaan normal, foto Patung Panahan di kawasan GBK menghasilkan detail warna yang baik.

    Pada kondisi pencahayaan normal, foto Patung Panahan di kawasan GBK menghasilkan detail warna yang baik.

  • Kemampuan fokus yang cepat pada Nex-5T memudahkan dalam menangkap momen, seperti pada foto kucing liar di Gelora Bung Karno.

    Kemampuan fokus yang cepat pada Nex-5T memudahkan dalam menangkap momen, seperti pada foto kucing liar di Gelora Bung Karno.

Click image to view full size

Praktis dan responsif, Sony Nex-5T adalah kamera mirrorless yang ideal bagi fotografer pemula, sebelum melangkah ke DSLR.

Oleh Rony Zakaria

Ini kali pertama saya mencoba kamera mirrorless dengan interchangeable lens layaknya kamera DSLR. Kesan awal saya, Nex-5T, terasa nyaman. Bodinya kecil, tapi solid di genggaman. Gripnya terasa begitu pas untuk ukuran tangan orang Asia. Sayangnya, kamera berdesain ergonomis ini alpa memberi ruang “pijakan” untuk kelingking, hingga sedikit mengurangi kesempurnaannya.

Saya tidak membutuhkan buku panduan untuk mengoperasikannya. Menu dan fiturnya bersahabat, termasuk bagi pemula. Namun, pengoperasian menu Nex-5T kurang efisien. Untuk melakukan format pada SD card, misalnya, terdapat jeda agak lama untuk menembus menu utama dan memutar tombol putar untuk mencari pilihan “delete,” lalu memilih “all in folder.” Mungkin prosedur ini dirancang guna mencegah pengguna secara tak sengaja menghapus foto.

Respons fokus yang cepat menjadi poin plus. Suatu kali, demi menghemat daya baterai, saya mematikan kamera. Saat kamera kembali dinyalakan dan siap untuk memotret, fokus Nex-5T sangat cepat, dan dengan dukungan teknologi Fast Hybrid AF, pada pencahayaan normal hampir tidak ada jeda antara momen membidik dan mengunci fokus. Sebaliknya, saat dicoba untuk memotret pada kondisi low-light, kecepatan fokus berkurang, tapi masih cukup responsif.

—Fitur & Menu
Salah satu fitur yang layak dicoba adalah Speed Priority Continuous. Walaupun saya selalu menggunakan single-shot mode, rasanya tetap menyenangkan usai mengetahui Nex-5T dilengkapi kemampuan memotret 10 frame per detik. Layaknya kamera DSLR, Nex-5T memiliki mode yang lengkap, mulai dari Aperture Priority, Shutter Priority, hingga Manual. Bagi mereka yang malas repot, pilih setelan Programmed.

Ketika saya memakai Nex-5T untuk memotret di jalan dan bus, orang di sekitar tampak cuek. Ukuran yang bersahaja menjadi keunggulan Nex-5T. Sayangnya, saat saya menekan tombol shutter, hal tersebut berubah. Semua orang langsung melihat ke arah saya disebabkan suara mechanical shutter yang terlampau keras, boleh dibilang lebih keras dari suara shutter DSLR kebanyakan. Bisa dipastikan, kamera ini tidak mungkin dipakai untuk memotret pentas teater atau balet yang menuntut suasana hening.

—Kualitas Foto
Dengan sensor CMOS ukuran APS-C (sama dengan ukuran sensor DSLR umumnya), Nex-5T menghasilkan ukuran file sekelas DSLR. Kualitas resolusi 16,1 megapiksel terasa pas, dalam artian ukuran file yang dihasilkan tidak terlampau kecil, pun tidak kelewat besar. Dengan kualitas maksimum file Nex-5T, saya dapat mencetak foto ukuran 60 x 90 sentimeter dengan kualitas apik.

Masih penasaran dengan kemampuan Nex-5T, saya mencobanya di malam hari dengan setting ISO tinggi. Performanya ternyata sangat baik dan hasil fotonya sangat memuaskan. Saya bisa mencetak foto 8R dengan kualitas yang baik meski menggunakan setting ISO 3.200. Sebetulnya, Nex-5T memiliki setting ISO hingga 25.600. Namun, dari hasil uji coba di lapangan, saya sangat tidak menyarankannya. Pada ISO 3.200 ke atas, kualitas foto cenderung soft disebabkan proses noise reduction dalam sistem kamera.

—Fitur
Tren kamera digital mirrorless dengan interchangeable lens tampaknya sangat dipahami oleh Sony. Nex-5T dilengkapi lensa kit E 16-50mm f/3.5-5.6 PZ OZZ yang merupakan lensa all around untuk beragam kondisi. Berbekal sensor APS-C, crop factor menaikkan range lensa 1,5 kali menjadi 24-75 milimeter, hingga cukup mumpuni untuk beragam keperluan dasar, seperti close-up portrait, lanskap, atau reportase.

Beberapa teknologi terkini seperti LCD dengan teknologi layar sentuh juga telah diadopsi Nex-5T. Meski demikian, saya lebih mudah mengoperasikannya menggunakan tombol putar. Layar LCD dapat digerakkan hingga sudut 180 derajat menghadap ke depan kamera—fitur yang berguna dalam self-portrait. Satu-satunya sistem yang membuat penasaran adalah pengiriman hasil foto langsung ke smartphone menggunakan teknologi NFC (Near Field Communication).

Caranya: dekatkan jarak kamera dan smartphone, lalu tunggu beberapa detik agar kedua peranti terkoneksi. Khusus peranti Apple, Anda mesti memakai setting manual dengan menggunakan Wi-Fi. Di sini, saya menemui kesulitan.

Baterai Nex-5T cukup ampuh untuk pemakaian selama sehari. Mengandalkan baterai yang terisi penuh, saya memproduksi sekitar 300 gambar (setting RAW + JPEG) tanpa mengaktifkan fitur video recording. Secara umum, Nex-5T merupakan kamera mirrorless bagi pengguna yang mencari kamera dengan kemampuan hampir setara DSLR, tapi dengan ukuran yang lebih ringkas, sehingga tas kamera tidak diperlukan.

SPESIFIKASI TEKNIS
Sensor: Exmo APS HD CMO S 16,1 megapiksel. ISO: Still images (ISO100-25.600), Auto (ISO100-3.200). LCD screen: Touch panel, lebar 7,5 cm. Dimensi: 110,8 x 58,8 x 38,9mm. Contoh fitur: NFC (untuk koneksi nirkabel ke smartphone), Fast Hybrid AF (untuk autofocus tajam dan akurat), Speed Priority Continuous (memotret hingga 10 frame per detik)

Uji coba dilakukan selama dua hari menggunakan kamera Sony Nex-5T yang dipinjamkan oleh iris Worldwide Indonesia.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Jan/Feb 2014 (“Semi Pro”)



Comments

Related Posts

7145 Views

Book your hotel

Book your flight