Restoran Terbaik di Dunia 2018

Massimo Bottura (baju hitam), koki dan pendiri Osteria Francescana. (Foto oleh Osteria Francescana)

Lebih dari seribu ahli restoran dan kuliner dari seluruh dunia telah memberikan suaranya untuk menentukan siapa yang layak masuk daftar World’s 50 Best Restaurants, ajang prestisus yang popularitasnya nyaris menyamai daftar Michelin.

Untuk 2018, malam penganugerahannya dilakukan di Bilbao, Spanyol pada 19 Juni silam.  Tahun ini, restoran yang berhak menyandang gelar terbaik adalah Osteria Francescana di Modena, Italia. Restoran yang pernah menjadi juara pada 2016 tersebut menggeser juara tahun lalu, Eleven Madison Park, yang kini duduk di posisi keempat. Osteria yang dipimpin oleh koki Massimo Bottura menyuguhkan hidangan Italia inovatif yang dikemas dalam pilihan 10 dan 12 sajian tasting menu.

Membayang-bayangi Osteria, di posisi kedua bertengger El Celler de Can Roca (Girona, Spanyol); Mirazur (Menton, Prancis) di posisi ketiga; Eleven Madison Park (New York, AS) di posisi keempat; dan Gaggan (Bangkok, Thailand) di posisi kelima. Sebelumnya, Gaggan juga dikenal sebagai juara Asia’s 50 Best Restaurants.

Salah satu hidangan penutup di Osteria Francescana. Restoran ini menjual paket makannya dengan harga mulai dari $600 per orang. (Foto oleh Osteria Francescana)

Seperti tahun-tahun sebelumnya, daftar 50 restoran terbaik di dunia ini didominasi oleh restoran-restoran di Eropa. Asia hanya menempatkan enam wakil, yakni tiga di Tokyo, dua di Bangkok, dan satu restoran di Singapura. Klik di sini untuk melihat daftar lengkapnya.

Meskipun dianggap sebagai salah satu daftar restoran terbaik bergengsi, World’s 50 Best Restaurants kali ini menuai banyak kritik dari kalangan jurnalis dan koki. Situs kuliner eater.com menyebut penghargaan tersebut cukup sexist dengan hanya memasukkan lima restoran yang melibatkan koki wanita. Eater.com juga menganggap daftar itu kurang variatif karena didominasi oleh restoran-restoran mahal di Eropa. Bahkan Hong Kong, yang memiliki sederet restoran berbintang Michelin, tidak dilirik sama sekali.

Hal senada juga ditulis oleh foodandwine.com. Media kuliner tersebut beranggapan bahwa sudah saatnya World’s 50 Best Restaurants lebih menghargai koki wanita atau koki dari berbagai ras serta membuat daftarnya menjadi lebih variatif.

Dominique Crenn, koki restoran Atelier Crenn. Koki ini juga tampil dalam acara Chef Tables di Netflix. (Foto oleh Matt Edge)

Kasus lain yang menjadi bahan perbincangan adalah tidak dimasukkannya Atelier Crenn, restoran bintang dua Michelin di San Francisco, ke daftar. Padahal restoran tersebut bertahun-tahun termaktub di daftar dan kokinya, Dominique Crenn, diganjar penghargaan World’s Best Female Chef pada 2016. Menurut beberapa spekulasi, keputusan tersebut ada hubungannya dengan kritik Dominique kepada San Pellegrino yang dilontarkan pada September 2017. Melalui akun Instagramnya, Dominique mengkritisi San Pellegrino—sebagai penyelenggara—karena tak ada satupun wanita dalam barisan jurinya. Ahli kuliner lain yang tak menganggap daftar ini serius adalah mendiang Anthony Bourdain. Seperti dikutip dari thedailybeast.com, pada 2017 presenter dan koki itu sempat menyebut daftar World’s Best Restaurants ini sebagai omong kosong.

Comments