Rahasia Bahagia Maluku Utara

Maluku Utara bertengger sebagai provinsi paling berbahagia di Indonesia. Kesimpulan yang mencengangkan sekaligus membingungkan.

Pemandangan Danau Tolire Besar dengan latar belakangan Gunung Gamalama, Ternate. Danau ini banyak dikunjungi wisatawan asing maupun domestik, untuk melempar batu ke danau.

Oleh Eko Rusdianto
Foto oleh Yusuf Wahil

Sebuah sore di awal Februari, saya menemui Muhammad Amin, Perdana Menteri Kesultanan Tidore. Sosok yang hangat. Kami bercengkerama di teras rumahnya. “Saya selalu bilang ke orang-orang, jangan pernah makan sendiri jika ada orang yang belum makan,” katanya ramah. “Kalau Anda datang tadi di jam makan siang, pasti Anda wajib ikut. Tidak boleh menolak.”

Bajunya terusan putih, mirip jubah gamis Timur Tengah. Di usia 69 tahun, Amin lebih banyak menghabiskan waktunya sebagai pendakwah. Acap kali dia berceramah di masjid dan acara tahlilan. “Saya tak menemukan ada gereja di Tidore,” kata saya kepadanya. “Dulu ada,” timpalnya, “tapi sekarang berubah fungsi. Dulu kesepakatannya seperti itu.”

Dulu, kerusuhan Ambon 1999 merembes ke Maluku Utara. Di Ternate, ada sebuah tugu yang mengekalkan kenangan berdarah itu: patung manusia yang menggenggam parang. Di sini, warung-warung diberi kode warna “rasial” guna menandai suku pendatang pemiliknya. Merah, misalnya, melambangkan Bugis. “Kesepakatan” berbeda diterapkan di Tidore. Selain alih fungsi gereja seperti yang diungkapkan Muhammad Amin, muncul resistensi terhadap warga keturunan Tionghoa yang ingin membuka usaha. Pembangunan bergerak lambat. Tak ada toko besar ataupun bangunan mewah.

Kiri-kanan: Empat muazin sedang mengumandangkan azan di Masjid Sultan Ternate, masjid yang memiliki aturan unik berupa larangan memakai sarung bagi para jemaah pria; di Ternate, bangunan bertaburan dari bibir pantai hingga lereng Gunung Gamalama.

Ini pertama kalinya saya melawat Maluku Utara. Selama 10 hari, saya berkelana untuk mencari tahu kenapa Maluku Utara berada di peringkat pertama daftar provinsi paling berbahagia di Indonesia pada 2017. Nilainya 75,68 dalam skala 0-100. Menyusul di peringkat kedua, tetangganya Maluku, lalu Sulawesi Utara.

Statistik itu unik, juga mencengangkan. Membuka riwayatnya, bahagia sebenarnya kata yang jarang muncul. Puluhan dasawarsa sebelum dicengkeram paranoia kerusuhan, Maluku Utara berulang kali dicabik perang. Tanah produsen cengkih ini lama terperangkap dalam persaingan kerajaan-kerajaan Barat dalam menguasai sumber-sumber rempah di Timur Jauh. Dalam proses itu, serentetan perang pecah, kerap menyeret aktor lokal hingga memicu permusuhan di antara penguasa setempat.

Pada 1801 misalnya, Inggris dan pasukan Sultan Nuku dari Kesultanan Tidore mengepung Ternate selama dua bulan. Puluhan armada tekun menghalau setiap pergerakan dan memblokade semua akses. Taktik itu berhasil. Ternate akhirnya menyerah. Lebih dari dua abad sebelumnya, kebengisan atas nama rempah berlangsung pula di Benteng Kastela. Suatu malam, Sultan Khairun dari Ternate menghadiri jamuan atas undangan Gubernur Lopez de Mesquita. Usai pengawal sultan masuk benteng, gerbang dikunci dan pembantaian dimulai.

Atas dasar perasaan senasib sebagai tanah jajahan, Ternate dan Tidore kerap disandingkan sebagai dua bersaudara. Tapi penjajahan juga mewariskan perpecahan di antara dua pulau yang bertetangga ini. Tidore dan Ternate kerap memandang satu sama lain dengan sengit. Beberapa orang yang saya temui mengakuinya. “Ternate mulai bergeser dari adat; Tidore-lah yang masih mempertahankannya,” kata seorang yang saya temui. “Tidore itu kampung sunyi. Membosankan,” ujar orang yang lain.

Bau sentimen itu tercium pula dalam bahasa. Di Tidore, oyo artinya makan. Di Ternate, itu artinya buang air besar. Di Ternate, oho artinya makan; di Tidore itu artinya buang air besar. Terpisah hanya 20 menit perjalanan dengan perahu, Ternate dan Tidore seperti datang dari rahim peradaban yang berbeda.

Kiri-kanan: Hasma, wanita pendatang asal Sulawesi Selatan, menata aksesori berbahan besi putih di Ternate; Hatija memetik buah di kebunnya yang berlokasi di Desa Kalaodi, Tidore.

Tapi saya kali ini datang bukan untuk bicara soal pertikaian, melainkan mencari rahasia kebahagiaan. Untuk itu, saya mesti bertamu ke lembaga yang tahu persis pangkal persoalannya: Badan Pusat Statistik Maluku Utara.

Bangunannya kaku. Seantero interiornya dipenuhi meja oval. Sebuah peragaan disiplin yang membuat sesak. Kepada seorang petugas saya memperkenalkan diri sebagai orang yang penasaran dengan cara mengukur tingkat kebahagiaan. Sang petugas tersenyum. Misfaruddin, Kepala BPS Maluku Utara, kemudian datang memberi sambutan dan memperkenalkan stafnya. Dimulai dengan doa, lalu sepatah kata.

Saya mengamati deretan kolom yang sarat angka. Di kolom pendidikan tertulis penduduk Maluku Utara menghabiskan rata-rata 8,2 tahun di bangku sekolah, artinya mentok pada tingkat SMP. Tapi tingkat kriminalitas sangat rendah. “Hampir dikatakan tidak adalah kriminalitas. Kita bisa lupa kunci motor seharian di pinggir jalan dan besok pagi bangun, motor itu masih di tempat itu,” kata Misfaruddin.

Maluku Utara dibentuk Oktober 1999. Provinsi ini terdiri dari 10 kabupaten dan kota, terpecah dalam 805 pulau di mana 82 di antaranya berpenghuni. Ternate, Tidore, Tobelo, Jailolo, dan Sofifi adalah beberapa kota utamanya. Menurut proyeksi BPS, populasi Maluku Utara pada 2017 mencapai 1,2 juta jiwa.

Baca juga: Cara Ambon Mencetak PenyanyiElegi Tanah Rempah5 Magnet Wisata Kei Kecil

Penggalan relief dan mural yang mengenang tragedi Ramadan Berdarah di Kelurahan Maliaro, Ternate.

Berstatus kepulauan, luas daratan provinsi ini hanya 24 persen dari total luasnya. Dengan lanskap itu, tentu saja akses terhadap barang curian menjadi sukar. Untuk kasus ini, saya memahaminya. Tapi apakah kadar kebahagiaan berbanding terbalik dengan tingkat pendidikan?

“Di Tobelo, salah satu jenis kebahagiaan saya adalah bisa meminum bir kapan pun,” kata Jesaya Banari. Kami bersulang. Jesaya seorang dosen di Politeknik Perdamaian Halmahera di Tobelo, sekitar 120 kilometer dari Ternate. Saya ke Tobelo karena setiap orang saya temui menganjurkan saya melihat kota ini sebagai representasi kebebasan di Maluku Utara.

Saya datang dengan menumpang feri selama tiga jam dari Pelabuhan Bastiong di Ternate. Tiba di Sofifi, pusat kota provinsi yang menjemukan, saya menaiki angkutan umum selama empat jam menuju Tobelo. Mobil melaju lekas menyusuri jalan mulus, kecuali saat melewati pos TNI. Di sini, mobil wajib melambat, volume musik harus dikecilkan, kaca jendela mesti diturunkan. Semua pengendara melakukannya. Kebebasan ada batasnya di hadapan tentara.

Dalam banyak hal, Tobelo terasa berbeda dari tetangganya. Saya menangkap geliat kesenangan. Di sini ada zona lokalisasi. Tidak resmi tentu saja. Warung-warung berdinding kayu dan beton berdempetan di dekat Tempat Pelelangan Ikan. Musik berdentum dengan kualitas yang memekakkan telinga. Saya teringat perkataan seorang warga beberapa hari sebelumnya: “Tobelo sudah begitu bebas, dan itu bahaya.”

Comments