Pulihnya Kejayaan City Palace Wina

Acara peresmian di ballroom lantai dua.

Keluarga darah biru Liechtenstein berhasil memulihkan kejayaan City Palace sekaligus memberikan kita alasan baru untuk berkunjung ke Wina.

Empat tahun, 500 pekerja, $130 juta. Pangeran Hans-Adam II menanam investasi besar untuk merenovasi Stadtpalais Liechtenstein (palaisliechtenstein.com).Bangunan yang sering disebut City Palace ini mulai dibuka untuk publik sejak Mei 2013. “Sangat penting bagi kami untuk merenovasi City Palace, aset keluarga kami sejak 1694. Saya merasa kami memiliki kewajiban untuk merawatnya demi generasi mendatang,” kata sang pangeran.

Kiri-kanan: Suasana ballroom ketika tak ada acara; fasad City Palace, istana yang dibuka kembali usai restorasi selama empat tahun.

Ruang Bouquet.

Kisah manis dan pahit mewarnai sejarah bangunan. Didirikan di abad ke-17 oleh dua arsitek terpandang, Domenico Martinelli asal Italia dan Gabriel de Gabrieli asal Swiss, City Palace sempat dijuluki salah satu istana pribadi paling impresif di tanah Eropa. Properti Baroque ini sempat dipugar pada abad ke-19 dalam gaya Rococo Revival, tapi kemudian rusak oleh hujan bom di masa Perang Dunia II dan bahkan atapnya sempat tertimpa pesawat Sekutu.

Kiri-kanan: Salah satu sudut ruang Bouquet; tangga menuju lantai dua.

Interior berlapis kertas emas.

City Palace kini telah kembali ke masa kejayaannya. Ruangan-ruangannya yang anggun telah disulap menjadi museum berisi karya-karya seni fenomenal dari era Neoclassicism dan Biedermeier. Melalui tur yang wajib dipesan khusus, publik bisa menyaksikan lukisan dan furnitur buatan seniman tersohor Austria sekaliber Friedrich von Amerling, Friedrich Gauermann, dan Ferdinand Georg Waldmüller. Bagi mereka yang hendak menggelar pesta-pesta eksklusif bergaya bangsawan, pengelola gedung menyediakan area bersejarah di lantai satu dan dua. Kandil megah berisi 1.200 lampu LED yang tergantung di langit-langit memang dihasilkan dari interpretasi modern atas keglamoran masa silam. Tapi warna-warna emas di sisi interior diciptakan sepenuhnya dari metode klasik yang autentik: mengoleskan 150 ribu lembar daun emas selama 54 ribu jam kerja.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Juli/Agustus 2013 (“Hikayat Aristokrat“)



Comments

Related Posts

3640 Views

Book your hotel

Book your flight