Proyek Tak Berujung Duomo di Milano

Staf Veneranda bekerja sepanjang hari merestorasi Duomo.

Tambang Candoglia terletak di sebuah bukit di Val d’Ossola, sebuah tempat magis di mana kita bisa menikmati panorama elok Danau Mergozzo. Kendati demikian, di sini pula kita bisa melihat “sisi gelap” Duomo: lubang sedalam 150 meter, setinggi 55 meter, selebar 30 meter. Dari kegelapan inilah, sekali per tahun, marmer-marmer berkilap dipanen, digergaji, dan dipotong kotak.

Per tahunnya, Veneranda membutuhkan 100 meter kubik marmer guna memulihkan bagian-bagian tubuh Duomo. Sejak masa kekuasaan Gian Galeazzo hingga abad mesin melahirkan truk, balok-balok marmer dikirim menggunakan perahu yang disebut piatte. Dari Lembah Candoglia, bongkahan-bongkahan batu dikapalkan melalui Sungai Toce, Danau Mergozzo, Sungai Ticino, kemudian menyusuri kanal Naviglio Grande hingga akhirnya mendarat di Dermaga Sant’Eustorgio di Milan. Dari sini, memanfaatkan sistem pintu air cerdik garapan Veneranda, marmer bisa dengan mudah dibawa ke seutas jalan yang sekarang bernama Laghetto, hanya beberapa ratus meter dari Duomo.

Para aktor opera di katedral yang tengah mempersiapkan diri.

Pekerja Veneranda yang bersiap untuk memoles marmer baru di tubuh Duomo.

Ada satu kisah menarik tentang proses ekspedisi marmer itu. Berdasarkan titah Gian Galeazzo, perahu piatte yang mengangkut marmer dan materi konstruksi mendapatkan fasilitas bebas bea. Mereka bisa bergerak leluasa ke mana saja tanpa membayar retribusi. Guna membedakannya dari perahu lain, piatte menyematkan pelang bertuliskan Ad Usum Fabricae Operis (“untuk digunakan pabrik Duomo”). Kalimat ini, yang kemudian disingkat Ad UFO, melahirkan ekspresi populer yang hingga kini masih terdengar di utara Italia. Banyak orang memakainya untuk menandai segala hal yang gratis atau diperoleh dengan cara culas, sebab dulu banyak orang menyalahgunakan piatte untuk memasuki Milan tanpa membayar ongkos perahu. Satu hal yang berbeda dari proses pengiriman marmer hari ini, balok-balok besar tidak langsung memasuki Duomo, melainkan terlebih dulu diangkut truk menuju Certosa, laboratorium modern yang diasuh oleh Veneranda.

Perawatan Duomo amat menguras kesabaran. Hampir setiap hari, teknisi memukul-mukulkan palu ke seluruh sudut katedral. Mereka menguji kekuatan marmer, dekorasi, lengkungan, patung. Beberapa tukang menggerayangi menara dengan tubuh terikat tali. Tugas ini biasanya diberikan kepada mereka yang memiliki pengalaman mendaki gunung.

Para ahli dari Veneranda memeriksa kondisi marmer di tubuh Duomo.

Fasad megah Duomo di Milano, salah satu objek wisata populer di Milan.

Untuk mendeteksi kerapuhan marmer, caranya relatif simpel. Jika saat dipukul marmer mengeluarkan suara nyaring yang tajam, berarti tidak ada masalah. Tapi jika suaranya sayu, berarti bagian itu sedang sekarat dan mesti segera diganti, tak peduli meski wujudnya arca renta yang tak ternilai.

Di katedral, semua bagian yang rapuh didata dan digambar. Di tahap berikutnya, giliran laboratorium Certosa mengambil alih pekerjaan. Laboratorium ini dihuni oleh para perajin yang piawai dalam memangkas, memahat, dan menghaluskan marmer. Merujuk gambar kiriman teknisi, mereka memotong-motong marmer memakai bantuan pantograph dan kabel berlian.

Mesin memudahkan tugas yang menuntut akurasi dan presisi itu. Tapi mesin tak sanggup menuntaskan semua pekerjaan. Beberapa elemen gereja harus dibuat mengandalkan jiwa seni manusia, misalnya daun-daun acanthus, helai sayap malaikat, karangan bunga, gumpalan awan nimbus, dan ekspresi murka iblis. “Hanya tangan manusia yang bisa menyuntikkan kehidupan ke marmer, juga mencipta-ulang letupan emosi para pematung di masa lampau,” jelas Gino Giacomelli, manajer laboratorium Certosa.

Yang menarik disaksikan dari perawatan Duomo bukan hanya proses perbaikannya, tapi juga residunya. Di halaman Certosa, kita bisa menemukan salah satu keajaiban Milan yang begitu menyihir mata: kuburan massal berisi patung-patung usang koleksi Duomo. Bagaikan komposisi metafisik yang sureal, tempat ini menyuguhkan ratusan figur malaikat dan iblis, kesatria dan santo, martir dan monster, pahlawan dan nabi, serta penguasa, pendosa, dan aulia.

Raul Manini, salah seorang staf tambang yang berpose di depan bongkahan marmer raksasa.

Patung-patung itu menyiratkan kehidupan, tapi tubuh mereka telah keropos dikikis hujan, digerus angin dan polusi. Ajal mereka datang saat palu para pekerja mendapati tubuh mereka bersuara sumbang. Setelah itu, patung-patung direlokasi, diganti, walau tak selamanya dilupakan. Bus-bus turis rutin datang ke “kompleks makam” Certosa. Orang-orang singgah sejenak, memotret, lalu hengkang, mungkin tanpa menyadari mereka tengah menatap jejak iman dan waktu dari sebuah kota.

Banyak orang memang tak sadar jika Duomo sejatinya masih berproses. Sekitar 100.000 orang menziarahi katedral ini per pekannya, tapi mungkin hanya segelintir yang benar-benar memahami pekerjaan besar yang bergulir di sekitar, di dalam, dan di balik bangunan. Lihat misalnya lantai bawah Duomo yang menyimpan sebuah pabrik berisi mesin-mesin besar, toilet, gudang, klinik, dan kantin. Sekitar 40 orang yang bekerja di sini menganut moto “rumah Tuhan harus lebih baik dari semua rumah.”

Ketika di dalam katedral jemaah melayangkan doa, di bawah kaki mereka orang-orang bekerja keras menata batu, memotong marmer, menghaluskan kayu, dan menyambung kabel. Ketika di dalam katedral para turis sibuk memotret mahakarya seni religius, di atas kepala mereka para teknisi bergerak gesit layaknya tupai yang melacak marmer yang rapuh, menyeka patina pada relief-relief yang terpahat tinggi, memastikan Madonnina terus bersinar di langit Milan.

Seorang staf di bengkel pemotongan batu Veneranda Fabbrica del Duomo.

Ribuan arsip tentang konstruksi Duomo yang disimpan Veneranda.

Seperti kota Milan yang ditempatinya, Duomo terus berevolusi. Ia tak ubahnya organisme berbahan marmer yang dialiri darah rawan penyakit di pembuluhnya. Para pekerjalah yang memastikan makhluk renta ini tetap hidup. Saban hari sepanjang tahun, mereka melacak boroknya, menyembuhkannya, memastikannya tak menyerah pada usia.

Sudah lebih dari 600 tahun Duomo menyalurkan doa jemaah. Sejak peletakan batu pertamanya, rumah ibadah ini dirangkai secara bertahap dan lambat selama berabad-abad. Duomo adalah katedral gotik flamboyan yang sempat akan diganti ke gaya klasik oleh Kardinal Carlo Borromeo selepas periode Counter-Reformation. Duomo adalah juga gereja yang hingga abad ke-17 belum tuntas dikerek sampai-sampai bagian sayapnya sempat dijadikan jalur kereta kuda. Dan Duomo adalah rumah ibadah yang bagian fasadnya mulai dirampungkan pada 1807 atas perintah Napoleon. Akan tetapi, hingga kini, Duomo belumlah selesai.

Berjalan-jalan di Duomo kita bisa melihat kreativitas seni abad ke-20. Ada patung petinju Primo Carnera, Mussolini, juga Santo Benedetto Menni. Mungkin kelak kita akan melihat wajah Paus Francis, sebab Duomo memang masih membuka diri pada perbaikan, pada perubahan, layaknya kota Milan yang terbuka pada dunia.

Dan “terbuka” adalah kata yang pas untuk menggambarkan Duomo. Keputusan Gian Galeazzo memakai marmer Candoglia ketimbang bata memicu revolusi teknik rekayasa bangunan di Milan, sekaligus memaksa pihak kontraktor menyewa insinyur, arsitek, pematung, dan lapidaries (ahli potong batu mulia) dari banyak kawasan di Eropa. Sejak itu, Duomo terus menjadi persinggahan bagi banyak orang dengan latar budaya yang berbeda. Ia adalah ruang berbagai pengalaman, gagasan, juga keahlian. Duomo merupakan katedral gotik yang “paling Eropa,” sebagaimana Milan merupakan kota Italia yang “paling Eropa.”

Jika kelak berkunjung ke Duomo, luangkan waktu untuk bersantai di alun-alunnya. Selepas hujan, marmer di sekujur bangunan akan menembakkan rona jambon. Pancarannya mungkin sejenak membingungkan nalar, sebab marmer Duomo mewakili kalkulasi yang tak tepermanai: enam abad, tapi aslinya 800 ratus juta tahun. Rumah ibadah ini dirangkai dari kerang dan pasir yang berasal dari masa ketika tahun belum dihitung.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Maret/April 2017 (“Gedung Tak Berujung”).



Comments

Related Posts

11720 Views

Book your hotel

Book your flight