Proyek Masa Depan Rotterdam

Rotterdam kembali meluncurkan proyek-proyek inovatif, mulai dari peternakan terapung hingga menara terlangsing. Kota pelabuhan yang menarik bagi arsitek dan desainer.

Keindahan Rotterdam di kala senja. (Foto: Claire Droppert)

Oleh Yusni Aziz

Berbeda dari banyak kota di Belanda yang tekun merawat kanal dan kincir, Rotterdam giat menciptakan sesuatu yang baru, heboh, kadang melampaui zamannya. Pada 1989 misalnya, kota ini mengerek Witte Huis, pencakar langit pertama di Eropa. Pada 2014, ia melansir Market Hall, pasar indoor terbesar, termahal, dan termewah di Belanda.

Itu pula sebabnya Rotterdam ajek memikat mereka yang menggeluti dunia desain—termasuk saya. Pada 2011, saya pernah menetap di sini untuk menempuh studi pascasarjana jurusan arsitektur di Berlage Institute. Usai pindah ke Delft, 15 kilometer di utara, saya masih rutin kembali guna mencari referensi. Untuk disiplin arsitektur, Rotterdam menawarkan ekosistem yang cukup komplet. Selain kampus dan perpustakaan, ada ajang Architecture Biennale dan pusat studi arsitektur Het Nieuwe Instituut.

Kiri-kanan: Floating Pavilion dan Floating Forest merupakan bagian dari proyek masa depan Rotterdam yang bertujuan mengurangi beban kota sekaligus memaksimalkan lanskapnya sebagai kota delta (Foto: Rotterdam Partners); Witte Huis, gedung tinggi pertama Eropa, bersanding dengan gedung-gedung modern Rotterdam.

Tahun ini, Rotterdam mengumumkan perkembangan dari beberapa eksperimen menarik yang sedang digarapnya. Pada 2019, kota ini akan meresmikan Baan Tower, menara terlangsing di Eropa. Tingginya 150 meter, tapi luasnya hanya 400 meter persegi. Setelah Baan Tower, Depot Boijmans Van Beuningen akan dibuka untuk umum. Walau namanya Depot, wujudnya lebih mirip cangkir teh raksasa dengan tinggi 40 meter. Bangunan ini berfungsi sebagai sayap baru Museum Boijmans Van Beuningen. Selama ini, akibat keterbatasan area pamer, museum seni ini hanya bisa memajang sekitar delapan persen koleksinya.

Proyek revitalisasi kawasan pelabuhan juga akan dilanjutkan. Setelah pada 2013 merampungkan De Rotterdam, bangunan terbesar di Belanda, kota ini sekarang mengerek Fenixlofts, kompleks komersial dan residensial yang menempati bekas gudang-gudang bersejarah di Distrik Katendrecht. Jika tak ada aral melintang, properti bernilai €48 juta (sekitar Rp800 miliar) ini akan siap huni pada pertengahan 2019.

Baca juga: 7 Keajaiban Arsitektur RotterdamPesona Kecantikan Kota Rotterdam

Kompleks komersial dan residensial Fenixlofts yang masih dalam tahap pembangunan. (Foto: Ossip van Duivenbode)

Layaknya kota yang melek tren, Rotterdam juga bertekad mengejawantahkan konsep ramah lingkungan. Tahun ini, proyek Dutch Windwheel bakal dimulai. Gedung canggih berbentuk cincin raksasa ini merangkap tugas sebagai pembangkit listrik tenaga angin dan surya.  Dengan semangat “hijau” yang sama, Pemkot kini menggiatkan pemasangan atap rumput di puncak-puncak bangunan. Rotterdam bertekad menjadi kota bebas emisi pada 2050.

Eksperimen urban lain yang menyita perhatian adalah Floating Farm. Peternakan terapung yang beroperasi mulai pertengahan 2018 ini memproduksi 800 liter susu per hari guna memasok kebutuhan lokal sekaligus memangkas polusi akibat proses distribusi dari luar kota. Floating Farm merupakan bagian dari proyek masa depan Floating Community yang bertujuan mengurangi beban kota sekaligus memaksimalkan lanskap Rotterdam sebagai kota delta. Turunan dari proyek ini cukup beragam dan semuanya memakai embel-embel “terapung,” umpamanya hutan terapung, hunian terapung, serta paviliun terapung.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Oktober/Desember 2018 (“Laboratorium Langgas”).

Comments