Proyek Dokumenter Umat Katolik

Ng Swan Ti memotret kehidupan umat Katolik dan perayaan Paskah di sejumlah tempat di Jawa dan Flores.

Pastor V. Kirdjito (kiri) meninggalkan tepi sungai Lamat usai misa di desa Tangkil, Magelang, Jawa Tengah, pada April 2003.

Judulnya: Catholicism in Indonesia. Dalam proyek dokumenter yang digarap dari 2000-2005 ini, Ng Swan Ti memotret kehidupan umat Katolik dan perayaan Paskah di sejumlah tempat di Jawa dan Flores. Foto-foto karyanya pernah dipamerkan di tiga ajang bergengsi: Noorderlicht, Jakarta Biennale, dan DongGang Photo Festival. Melalui proyek ini, kita menyaksikan sepenggal wajah Katolik di Indonesia. Tapi bukan itu tujuan utama Ng Swan Ti sebenarnya. Alih-alih, dia beriktikad menjawab makna Katolik dalam dirinya sendiri.

Ng Swan Ti terlahir pada 1972 di keluarga penganut Konghucu di Malang. Atas alasan pragmatis, misalnya mendaftar sekolah dan membuat KTP, dia memilih Katolik. (Kala itu Konghucu belum diakui sebagai agama resmi.) Ng Swan Ti mengikuti kursus agama Katolik, lalu dibaptis saat duduk di bangku kuliah. Di permukaan, dia seorang Katolik tulen. Akan tetapi, berhubung pilihannya dipicu keterpaksaan, imannya tak mantap. Waktu itu, Ng Swan Ti memahami agama dan iman “sebatas ritual dan kewajiban ke gereja setiap Minggu.”

Dari kegelisahan itulah tercetus gagasan Catholicismin Indonesia. Ng Swan Ti, yang waktu itu masih bekerja di perusahaan roti, memakai fotografi untuk mengeksplorasi tema Katolik sebagai elemen identitas, terutama identitasnya sendiri. “Awalnya saya memilih tempat atau acara yang menggabungkan ritual Katolik dengan budaya Jawa,” kenangnya. “Kemudian saya memilih Flores di mana mayoritas penduduknya beragama Katolik.”

Baca juga: Dokumentasi Unik Kantor KedutaanWarna dan Tawa Parade Samanera  

Selama enam tahun menggarap Catholicism in Indonesia, dia memotret dan berziarah, juga bertanya dan mencari makna. Berkat proyek itu, Ng Swan Ti, yang kini menjabat Managing Director PannaFoto Institute, kemudian menyadari fotografi sebenarnya bisa menjalankan fungsi pencerahan, bukan hanya bagi pemirsanya, tapi juga si fotografer. “Saya menemukan fotografi sebagai medium untuk mempelajari hal-hal yang belum saya pahami dalam skala privat.”

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Oktober/Desember 2018 (“Proyek Walang Hati”).

Comments