Proyek Ambisius Disney di Asia

Berkah lain yang juga disyukuri Disney dari penundaan proyeknya adalah kehadiran jaringan rel kereta cepat pada 2008. Jaraknya kini telah menembus 20.000 kilometer, dengan target 30.000 kilometer pada 2020. Proyek infrastruktur ini memungkinkan mobilitas antarkota yang lebih cepat, sekaligus menawarkan alternatif bagi moda pesawat yang selalu padat dan rawan telat akibat kesibukan di bandara-bandara utama. Di Shanghai, Stasiun Disney kini telah tercantum dalam jaringan metro. Turun dari gerbong, penumpang cukup berjalan sejenak untuk menjangkau gerbang resor, sebelum kemudian meniti bulevar lapang yang bersisian dengan danau di Wishing Star Park.

Di pertengahan Oktober, saya kembali berkunjung ke Disney Shanghai. Saya datang di Senin, tapi atmosfer tetap meriah. Beragam manusia berkeliaran: pasangan remaja yang romantis, kawanan mahasiswa, grup pensiunan, serta keluarga muda yang menuntun kakek nenek mereka.

Pemberhentian pertama bagi mayoritas pengunjung adalah World of Disney Store, toko yang menyewakan busana dan aksesori tokoh-tokoh fantasi. Gadis-gadis cilik umumnya menggemari gaun taffeta kuning Snow White, sementara wanita remaja cenderung memilih bando Minnie Mouse.

Kiri-kanan: Dua pengunjung cilik di depan air mancur bertema Mickey Mouse; pengunjung mengenakan atribut Disney.

Sebagian pengunjung datang dari provinsi- provinsi yang jauh. Minat pelancong domestik di RRT memang sedang bergeser. Awalnya hanya menyerbu objek-objek utama yang “direkomendasikan” oleh pemerintah, sebut saja Tembok Besar dan Forbidden City, banyak orang kini mulai melirik tempat-tempat yang lebih trendi, bergengsi, dan berkarakter internasional.

Disney Shanghai dibangun dalam skala yang disesuaikan dengan standar Tiongkok: gigantik. Jika ingin menikmati banyak wahana, tiap orang mesti berjalan jauh. Di depan tiap wahana terdapat lahan luas untuk berjaga-jaga jika pengunjung tumpah ruah. Waktu tunggu untuk mengakses atraksiatraksi populer sekitar 30-60 menit—cukup lama, tapi Disney setidaknya memberikan solusi guna mereduksi lelah. Tim cekatan berisi 10.000 “karakter Disney” bergerak efisiendan bersikap ramah untuk membantu pengunjung. Guna memecah kerumunan,pihak pengelola juga memanfaatkan sejumlah terobosan teknologi. Kita bisa memantau antrean melalui Disney App dan membeli karcis melalui WeChat, aplikasi komunikasi yang populer di Tiongkok.

Memasuki Pirates of the Caribbean: Battle for the Sunken Treasure, saya duduk di perahu kayu dan melakoni tur. Di samping saya duduk pasutri sepuh asal Provinsi Shandong,yang menjadikan Disney Shanghai penutup bagi ekspedisi panjang melintasi Nanjing, Hangzhou, dan Suzhou. Keduanya terkesima menikmati proyektor berteknologi tinggi dan rollercoaster air. Saat Kapten Jack Sparrow bertutur dalam bahasa Mandarin, sang bapak mengatakan betapa kehidupan di Tiongkok kini jauh lebih baik.

Kiri-kanan: Wahana Treasure Cove di mana pengunjung bisa bertemu karakter Kapten Jack Sparrow; mengarungi
danau dalam atraksi Explorer Canoes di Treasure Cove.

Berpindah ke wahana lain, saya bertemu seorang pemuda usia 20-an yang berlibur selama dua hari bersama pacarnya. Keduanya datang dari Xi’an dengan menaiki kereta ekspres anyar yang mampu melahap jarak 1.400 kilometer dalam waktu hanya enam jam. Sang perempuan berlari di samping parade Mickey’s Storybook Express, sementara sang pemuda sibuk memotret memakai GoPro. Tembang Let it Go dari film Frozen berkumandang di udara.

Ada banyak tempat makan di sini, dan hampir semuanya mengakomodasi selera lokal. Di kompleks Disneyland, saya menemukan sebuah rumah teh Tiongkok yang menghidangkan pork knuckle rebus berbentuk Mickey dan piza dengan irisan bebek Peking. Di sebelah Walt Disney Grand Theatre, ada restoran tersohor Wolfgang Puck Kitchen dan gerai perdana Cheesecake Factory di Tiongkok. Sementara di kompleks Disneytown, sebuah desa fotogenik berisi rumah-rumah shikumen khas Shanghai, kuliner lokal dijajakan oleh puluhan gerai, termasuk Crystal Jade, Toast Box, atau Hatsune. Bukan hanya restoran-restoran ternama itu yang laris diserbu. Di dekat stasiun metro Disney Shanghai, mereka yang berkocek cekak lebih memilih menambal perut dengan mi instan yang dijajakan toko-toko kelontong.

Sejauh ini, sihir Disney sukses membius banyak orang. Tapi tempat ini tak sepenuhnya bebas cela. Di masa-masa awal beroperasi, sejumlah media memberitakan antrean panjang dan perilaku buruk pengunjung, termasuk aksi saling dorong, baku pukul, hingga kencing sembarangan. Melihat fenomena itu, banyak warga Shanghai menerapkan strategi “wait-and-see” sebelum membeli tiket seharga RMB370 (sekitar Rp700.000) di hari kerja atau RMB499 khusus akhir pekan dan hari libur.



Comments

Related Posts

8436 Views

Book your hotel

Book your flight