Potret Suku Abui di Alor

  • Tenun warna-warni yang dipakai ketika pentas tari.

    Tenun warna-warni yang dipakai ketika pentas tari.

  • Berjualan tenun bisa mendatangkan uang yang cukup banyak.

    Berjualan tenun bisa mendatangkan uang yang cukup banyak.

  • Kain tenun menjadi bagian tak terpisahkan suku Abui.

    Kain tenun menjadi bagian tak terpisahkan suku Abui.

  • Anak-anak kecil yang sudah mulai tersentuh kehidupan modern.

    Anak-anak kecil yang sudah mulai tersentuh kehidupan modern.

  • Jagung yang disimpan hingga mengering sebagai persediaan makanan.

    Jagung yang disimpan hingga mengering sebagai persediaan makanan.

  • Suasana Desa Takpala.

    Suasana Desa Takpala.

  • Wanita memegang peranan penting dalam menghasilkan tenun.

    Wanita memegang peranan penting dalam menghasilkan tenun.

  • Menjual cinderamata bikinan tangan adalah salah satu sumber pemasukan warga Desa Takpala.

    Menjual cinderamata bikinan tangan adalah salah satu sumber pemasukan warga Desa Takpala.

  • Wanita Abui juga mementaskan tarian untuk turis.

    Wanita Abui juga mementaskan tarian untuk turis.

  • Bagi wanita Abui, formasi putaran di sekitar mesbah dalam Tari Lego-lego melambangkan kekuatan dan persatuan.

    Bagi wanita Abui, formasi putaran di sekitar mesbah dalam Tari Lego-lego melambangkan kekuatan dan persatuan.

  • Rambut terurai dan tubuh dibalut kain tenun adalah ciri khas wanita Abui.

    Rambut terurai dan tubuh dibalut kain tenun adalah ciri khas wanita Abui.

  • Gelang adalah salah satu aksesoris wajib wanita Abui.

    Gelang adalah salah satu aksesoris wajib wanita Abui.

  • Wajah kesatria Abui.

    Wajah kesatria Abui.

  • Lantai dua rumah tradisional fala foka menampung dapur dan ruang tidur.

    Lantai dua rumah tradisional fala foka menampung dapur dan ruang tidur.

  • Tradisi berburu sudah lama ditinggalkan. Kini busur hanya untuk keperluan ritual.

    Tradisi berburu sudah lama ditinggalkan. Kini busur hanya untuk keperluan ritual.

  • Salib pada makam, bagian dari akulturasi antara ajaran samawi dan keyakinan adat Takpala.

    Salib pada makam, bagian dari akulturasi antara ajaran samawi dan keyakinan adat Takpala.

  • Hiasan kepala kesatria Abui yang terbuat dari bulu ayam.

    Hiasan kepala kesatria Abui yang terbuat dari bulu ayam.

  • Kesatria Abui menyambut tamu dengan tarian.

    Kesatria Abui menyambut tamu dengan tarian.

  • Sembari menggenggam perlengkapan perang, Martinus mementaskan Tari Cakalele di Desa Takpala, Alor.

    Sembari menggenggam perlengkapan perang, Martinus mementaskan Tari Cakalele di Desa Takpala, Alor.

Click image to view full size

Warga sebuah kampung adat di Alor berusaha mempertahankan tradisi di tengah zaman yang sudah jauh meninggalkan mereka. Potret mini dari dilema budaya di Nusantara.

Oleh Yoppy Pieter

Warna cakrawala segera berganti jingga. Di ujung hari, waktu yang bergulir lambat mengantarkan saya ke Kampung Adat Takpala. Hati tiba-tiba membuncah: di senja yang larut ini, mungkinkah orang Abui tetap membukakan pintunya bagi tamu? Ternyata semua di luar dugaan. “Halo, selamat sore,” sapa Martinus, pria yang dituakan di kampungnya.

Dua tahun lamanya Takpala tersemat dalam benak. Saya dulu melihatnya di televisi. Warga kampung ini tampil begitu bersahaja dan menghipnotis. Saya kini datang menyapa mereka, menyapa orang-orang yang menantang laju peradaban, di kabupaten yang teronggok paling timur dalam gugusan Nusa Tenggara Timur.

Fala foka beratap piramida berjejer kokoh. Beruntung saya masih diperkenankan untuk melihatnya lebih dekat. Fala foka didirikan di atas filosofi hidup Suku Abui. Di dalamnya terdapat empat ruang yang tersusun mengikuti formasi limas. Pada hakikatnya, rumah ini memainkan banyak peran, sebagai pelindung, ruang tidur, lumbung, dan gudang pusaka. Di lantai dua, lantai bambu berderit ngilu di ruangan tanpa cahaya. Sebuah pelita lalu disulut dan lekukan-lekukan di interior terlihat jelas.

Saat menengadah, tampak tumpukan jagung memenuhi lantai tiga. Di ruang teratas, pusaka-pusaka direbahkan. Fala foka memicu rasa sesak. Saya merasa terkungkung lalu memutuskan untuk keluar. Duduk di tepian, saya melemparkan pandangan ke Martinus, rumah-rumah tetangga, juga pohon-pohon asam rimbun yang menghadirkan keteduhan. Ada yang janggal di sini. Tak seorang pun berpakaian adat.

Modernisasi telah menyentuh kampung ini. Begitu pula ajaran-ajaran samawi. Protestan dan Katolik telah mengisi kartu-kartu identitas sipil, walau titel agama belum sepenuhnya mengambil alih kepercayaan terhadap bulan, matahari, sungai, hutan, dan laut. Ada fragmen-fragmen tertentu di mana konsep Trinitas dipilih dalam menuntun hidup. Penduduk Takpala masih merawat mesbah, sebuah mikrokosmos dalam kepercayaan nenek moyang yang diamini Abui.

Mesbah, peninggalan Zaman Megalitikum, adalah tumpukan batu di mana persembahan digelar. Sebuah situs yang sakral. Sulit dimungkiri, waktu sudah jauh meninggalkan Suku Abui. Dan mereka tidak sendiri. Banyak warga pribumi sudah terlempar dari roda zaman yang berputar kencang. Banyak pihak berusaha mempertahankan mereka, tapi upaya ini tak melulu dilandasi niat bijak yang tulus. Banyak warga suku justru diubah menjadi artefak yang dikomersialisasikan, juga obyek yang dipertontonkan.



Comments

Related Posts

5485 Views

Book your hotel

Book your flight