Petualangan Tara Basro di Swiss

Peak Walk, objek wisata yang baru dirilis pada 2014.

Fajar baru menyingsing, tapi Swiss sudah menampakkan wajah tercantiknya. Duduk di kursi beledu, di dalam gerbong yang merayap gesit, Tara Basro menyerap pemandangan dari balik jendela: danau yang dinaungi pegunungan putih, rumah yang berserakan di dataran tinggi, kebun yang mengukir lereng. “Perjalanan kereta yang pernah saya coba di Eropa adalah dari Berlin ke Paris, dan itu saja sudah menyenangkan,” ujar Tara. “Tapi di Swiss, kita dijamu pemandangan yang menarik.”

Ini pertama kalinya Tara berkunjung ke Swiss, dan dia memilih metode wisata yang ideal. Eropa memiliki sistem transportasi kereta yang mumpuni, tapi Swiss adalah salah satu negara yang paling serius dalam mengemas perjalanan kereta sebagai aktivitas wisata.

Hampir setiap destinasi di negeri penghasil cokelat batangan ini telah dihubungkan oleh rel, dan seluruh rel tersebut dilalui oleh kereta wisata. Kereta jenis ini didesain sepenuhnya untuk memuaskan turis. Panduan wisata tersedia di tiap gerbongnya. Tiketnya mudah dipesan melalui situs biro pariwisata. Paket-paket perjalanannya bisa dikombinasikan dengan trem, bus, juga kunjungan ke ratusan museum.

Kiri-kanan: Suasana Avenue d’Ouchy dengan latar hotel legendaris Royal Savoy (busana oleh Farah Khan); gerbong Golden Pass Panoramic yang dilengkapi jendela kaca berukuran lapang hingga ke bagian langit-langit (busana oleh Sapto Djojokartiko).

Perjalanan Tara dimulai di Lausanne, kota elok di tepi danau. Lausanne memancarkan atmosfer kota kecil yang karismatik. Rumah-rumah warganya bertaburan di bukit. Populasinya hanya 130.000 jiwa. Di sini, kereta mendaki dan menurun mengikuti kontur lereng, membelah lembah dan meniti jembatan tipis. Hampir sepanjang perjalanan, penumpang dimanjakan oleh penggalan-penggalan wajah Danau Jenewa yang terhampar 580 kilometer persegi, kira-kira lima kali lebih luas dari Danau Singkarak. Saking luasnya hingga menyerupai lautan.

Kehidupan bergulir lamban di Lausanne. Menelusuri jalan-jalannya, kita bahkan akan merasakan betapa waktu seakan malas berputar. Lausanne didominasi bangunan sepuh peninggalan abad ke-13 dan 16. Banyak sudutnya dihubungkan oleh jalan dan jembatan batu. Ikon utama kota adalah Cathedral of Notre Dame yang bertitimangsa 1165. Tara mengunjunginya, mengagumi tiap detailnya, juga menyelami sejarahnya. Awalnya melayani umat Katolik, Notre Dame berubah menjadi rumah ibadah Protestan. “Interior katedral selalu mengagumkan. Saya terpesona oleh kolase kacanya—elemen yang paling memikat dengan motif yang bercerita,” jelas Tara.

Kiri-kanan: Suasana Stasiun Montreux (busana oleh Tory Burch); taman di Royal Savoy, hotel ikonis yang menempati bangunan cagar budaya di Lausanne (busana oleh Toton).

Menuruni 150 anak tangga, Tara mengunjungi alun-alun fotogenik Place de la Palud. Ketika melenggang di antara bangunan renta yang gigih melawan zaman, lajang kelahiran Jakarta ini kepincut oleh Town Hall, aula megah yang pernah dijadikan lokasi resepsi pernikahan musisi David Bowie dan supermodel Iman pada 1992.

Lausanne bukan cuma populer di kalangan pencinta sejarah. Kota ini menampung markas besar Komite Olimpiade, juga memiliki Museum Olimpiade dengan koleksi paling komplet di dunia. Magnet andalan Lausanne lainnya adalah museum fotografi Musée de l’Elysée dan pertunjukan Béjart Ballet.

Selama empat hari berkelana di Swiss, Tara memilih jalur Golden Pass Line yang dioperasikan oleh Grand Train Tour of Switzerland. Jalur ini membentang dari kota Lausanne hingga Gstaad, mencakup sembilan stasiun dengan jarak total hampir 200 kilometer. Tara melawat ke Swiss di musim dingin, sebuah momen di mana kereta merupakan moda wisata yang ideal. Seraya melompat dari satu kota ke kota lain, aktris yang membintangi film A Copy of My Mind ini bisa menikmati pemandangan tanpa harus melulu sibuk merapatkan jaket dan bertarung dengan suhu yang beringsut di bawah titik beku.

Kiri-kanan: Escalier du Marche, tangga buatan abad ke-13 yang dipagari kios dan kafe (busana oleh Fendi); ruang bawah tanah bekas penjara yang telah disulap menjadi gudang wine di Chateau de Chillon (busana Farah Khan).

Meninggalkan Lausanne, Tara kembali ke gerbong dan meluncur ke Montreux. Lokasinya di barat Swiss, tak jauh dari perbatasan dengan Prancis. “Suasananya mirip kota pesisir di Prancis,” kesan Tara tentang kota ini.

Montreux memiliki tempat khusus di hati para penggemar musik. Ajang terbesarnya adalah Montreux Jazz Festival, festival jazz terbesar di Eropa. Montreux juga merupakan tempat ditulisnya Smoke on the Water, tembang klasik Deep Purple yang terinspirasi peristiwa kebakaran sebuah kasino pada 1971. Dan jika Anda menemukan patung Freddie Mercury di Montreux, itu karena Queen merekam sejumlah album mereka di kota ini, termasuk album terakhir Made in Heaven.

Tara datang saat Montreux menggelar pasar malam menyambut Natal. Ini momen terbaik untuk merasakan denyut kehidupan kota. Layaknya window shopping versi jalanan, Tara berpindah dari satu stan ke stan lain, melihat-lihat pernak-pernik Natal dan mencicipi aneka penganan khas lokal. “Fondue dan ikan perch adalah dua menu yang paling wajib dicoba,” jelas Peraih Piala Citra 2015 ini.

Kiri-kanan: Balkon suite di Royal Savoy menyuguhkan panoramakota yang ditaburi bangunan berfasad cantik (busana oleh Farah Khan); Cathedral of Notre Dame, rumah ibadah sekaligus ikon kota Lausanne yang bersemayam di kawasan Kota Tua (busana dan aksesori oleh Fendi).

Jika Lausanne memiliki Cathedral of Notre Dame sebagai ikon kota, Montreux memiliki Chateau de Chillon, kastel yang paling banyak dikunjungi turis di Swiss. Bangunan ini dikerek pada abad ke-13 di tepi danau. Konon katanya, kastel inilah yang menginspirasi istana dalam film Little Mermaid. Tara menjelajahi interior Chateau de Chillon, termasuk bertamu ke kamar-kamar dan ruang bawah tanahnya. “Tempat ini membuat saya berpikir apa yang akan ada di dunia 800 tahun lagi.”

Sekitar 70 persen kawasan Swiss ditumbuhi perbukitan. Walau tidak memiliki laut, negeri ini mengoleksi sekitar 1.500 danau. Kehadiran jalur rel yang ekstensif di lanskap menantang tersebut merupakan sebuah pencapaian rekayasa sipil. Sejak rel pertamanya dibentangkan pada 1847 guna menghubungkan Zurich dan Baden, Swiss agresif memperluas koneksi rel dan menjadikan kereta moda terbaik untuk menjangkau pelosok negeri.

Kini, di Swiss, kereta menyatukan wilayah layaknya bendera nasional. Selepas Montreux, pemberhentian berikutnya adalah Pegunungan Col du Pillon. Dari Stasiun Gstaad yang bertengger di ketinggian 1.050 meter, Tara berpindah ke kereta gantung, kemudian melayang ke Botta 3000, bangunan putih karya arsitek tersohor Mario Botta.

Daya tarik utama Botta 3000 adalah Peak Walk, jembatan suspensi yang menghubungkan dua puncak gunung. Di tempat yang menguji kadar akrofobia ini, Tara melakoni sesi pemotretan, tantangan berkesan tentunya bagi seorang pranatacara Amazing Race Asia. “Jembatannya memang terlihat tipis, tapi tenang saja, kita berada di salah satu konstruksi paling aman di Swiss,” ujar Francesca Martini, pemandu setempat.

Kiri:-kanan: Taman di Chateau de Chillon, kastel yang menginspirasi istana di film Little Mermaid (busana oleh Toton); berpose di Peak Walk, jembatan suspensi yang menghubungkan dua puncak gunung (busana oleh Sapto Djojokartiko).

Baru diresmikan pada akhir 2014, Peak Walk langsung melesat sebagai objek wisata favorit. Suguhannya mengagumkan sekaligus mendebarkan: pemandangan puncak-puncak agung Alpen dari ketinggian 3.000 meter. “Saya takut ketinggian, tapi panorama tempat ini membuat saya lupa,” ujar Tara.

Panduan

—Rute

Zurich dan Jenewa adalah dua gerbang internasional utama Swiss yang dilayani oleh banyak maskapai, di antaranya SWISS (swissair.com) via Singapura dan Emirates (emirates.com) via Dubai. Dari kedua kota tersebut, kita bisa menjangkau banyak destinasi wisata di seantero Swiss dengan menaiki kereta. Hampir setiap sudut negeri ini telah dihubungkan oleh rel, dan semua rel itu dilalui oleh kereta wisata.

Untuk berkelana lebih praktis di Swiss, manfaatkan Swiss Travel Pass (swisstravelsystem.com) yang menyediakan tiket terusan dengan durasi variatif, mulai dari empat, delapan, hingga 15 hari. Tiket ini mencakup perjalanan dengan kereta, trem, dan bus, serta akses ke sekitar 500 museum.

—Penginapan

Kota Lausanne mengoleksi banyak hotel yang menempati bangunan bersejarah, salah satunya Royal Savoy (royalsavoy.ch). Hotel legendaris yang menampung 196 kamar dan suite ini menghuni gedung renta yang berstatus cagar budaya. Lokasinya strategis: sekitar dua menit dari stasiun kereta bawah tanah Delices dan sekitar 10 menit berjalan kaki dari tepian Danau Jenewa. Di kota Montreux, salah satu hotel yang layak dipertimbangkan adalah Eurotel (eurotel-montreux.ch), hotel berisi 156 kamar dan suite yang berada di lokasi yang strategis: menata Danau Jenewa dan berjarak hanya empat kilometer dari Chateau de Chillon, kastel yang mengilhami istana di film The Little Mermaid.

—Informasi

Operator kereta Grand Train Tour of Switzerland (grandtraintour.swisstravelsystem.com) menawarkan delapan jalur untuk mengarungi Swiss. Rutenya mencakup pemberhentian di banyak destinasi populer seperti Lausanne, Montreux, Zurich, Gstaad, serta beberapa titik di kaki Pegunungan Alpen. Anda juga bisa menemukan paket-paket perjalanan yang mencakup tur kereta gantung, pesiar di danau, serta kunjungan ke desa-desa tua. Pilih gerbong Golden Pass Panoramic untuk sensasi terbaik.

Sesuai namanya, wagon ini didesain untuk memaksimalkan pengalaman menyerap panorama. Jendela-jendelanya tak cuma dipasang di samping kursi penumpang, tapi juga di bagian langit-langit. Untuk informasi lain seputar objek wisata dan jadwal acara di Swiss, kunjungi situs Biro Pariwisata Swiss (myswitzerland.com).

Makan & Minum

  • Cafe de Grancy; Restoran bergaya kontemporer di L ausanne dengan spesialisasi fonduecafedegrancy.ch.
  • Brasserie de Montbenon; Interiornya dipercantik kolase gelas kaca, langit-langit yang tinggi, serta mezzanine zigzag. Restoran di Lausanne ini berkiblat pada tradisi dapur Swiss-Prancis. brasseriedemontbenon.ch.
  • Chateau d’Ouchy; Restoran fine dining yang menatap marina dan Danau Jenewa, serta memiliki daftar wine yang impresif. chateaudouchy.ch.
  • TOM Café; Satu-satunya tempat makan di Museum Olimpiade Lausanne, persisnya di lantai dua bangunan. olympic.org.
  • Restaurant Les 4 Saisons; Tempat kongko untuk menyapa warga lokal di Montreux. Lokasinya lima menit berjalan kaki dari distrik belanja Grand Rue. les4saisonsmontreux.com.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Januari/Februari 2017 (“Swiss Magis”).



Comments

Related Posts

4312 Views

Book your hotel

Book your flight