Petualangan Spiritual di Kelimutu

  • Tiwu Nuwa Muri Koo Fai atau biasa dikenal dengan Danau Anak Muda bertengger di ketinggian 1.639 meter di atas permukaan laut.

    Tiwu Nuwa Muri Koo Fai atau biasa dikenal dengan Danau Anak Muda bertengger di ketinggian 1.639 meter di atas permukaan laut.

  • Penduduk lokal pergi ke gereja untuk ibadah mingguan.

    Penduduk lokal pergi ke gereja untuk ibadah mingguan.

  • Penenun ikat di Moni.

    Penenun ikat di Moni.

  • Semburat fajar di Gunung Kelimutu.

    Semburat fajar di Gunung Kelimutu.

  • Marcus Gawa, pemandu lokal di Gunung Kelimutu.

    Marcus Gawa, pemandu lokal di Gunung Kelimutu.

  • Tiwu Nuwa Muri Koo Fai (atas) dan Tiwu Ata Polo (bawah).

    Tiwu Nuwa Muri Koo Fai (atas) dan Tiwu Ata Polo (bawah).

  • Vila di Kelimutu Ecolodge.

    Vila di Kelimutu Ecolodge.

  • Makan siang yang disajikan di restoran lokal.

    Makan siang yang disajikan di restoran lokal.

  • Fajar menyingsing di Gunung Kelimutu.

    Fajar menyingsing di Gunung Kelimutu.

  • Para penumpang angkutan umum lokal di Moni; kota terdekat dari Gunung Kelimutu.

    Para penumpang angkutan umum lokal di Moni; kota terdekat dari Gunung Kelimutu.

  • Kuda; hewan ternak yang banyak ditemukan di desa-desa Gunung Kelimutu.

    Kuda; hewan ternak yang banyak ditemukan di desa-desa Gunung Kelimutu.

  • Para wanita dengan pakaian terbaik sedang menuju gereja untuk ibadah mingguan.

    Para wanita dengan pakaian terbaik sedang menuju gereja untuk ibadah mingguan.

  • Tiwu Ata Mbupu atau Danau Orang Tua.

    Tiwu Ata Mbupu atau Danau Orang Tua.

Click image to view full size

Tiga danau vulkanis, tiga warna air, tiga wadah astral bagi bersemayamnya roh-roh manusia. Gunung Kelimutu mengundang kita untuk melakoni petualangan spiritual di atap Flores.

Oleh Fatris MF
Foto oleh Muhammad Fadli

Di jantung Pulau Flores, pada ketinggian 1.690 meter di atas permukaan laut, tiga danau berlainan warna menganga menghadap langit dan menantang awan. Ketiganya dikelilingi kampung-kampung kecil penuh kabut yang dihuni “malaikat-malaikat’” ramah pemulia tamu. Tiga danau yang disucikan penduduknya. Danau Kelimutu berjarak 50 kilometer lebih dari Kota Ende, tempat Soekarno mencetuskan Bhinneka Tunggal Ika. Konon, ketika dibuang penjajah ke kota kecil ini, Soekarno pernah termenung di bawah pohon sukun sembari merumuskan semboyan yang tepat untuk sebuah entitas politik yang kelak akan lahir. Negara mengenangnya dalam wujud patung batu setinggi empat meter yang dipahat dengan dimensi kurang proporsional di taman kota; sang bapak bangsa seolah mengidap penyakit kaki gajah.

Flores sedang menikmati musim hujan. Hutan-hutan di pulau ini bagai kanvas hijau yang mahaluas. Saya datang usai menempuh perjalanan selama 30 jam dari Labuan Bajo; berlayar melintasi Pulau Rinca dan Pulau Komodo yang dipenuhi kawanan naga purba. Saya menyusuri jalan berliku yang dibingkai jurang-jurang terjal, serta melewati kaki gunung api yang jumlahnya kelewat banyak untuk pulau seluas 14.300 kilometer persegi. Setidaknya, ada 11 vulkan yang terdeteksi. Beberapa masih aktif, contohnya Egon, Kelimutu, Poco Ranakah, Lewotobi, dan Iya. Di waktu malam, mereka menerangi langit dengan cahaya merah dari pucuknya.

Flores bagaikan mata berlian dalam jaringan cincin api Nusantara. Topografi alamnya yang beragam—dataran tinggi, danau, juga hutan beserta burung-burung penghuninya—direpresentasikan dalam berbagai corak tenun yang begitu memikat di pasar-pasar tradisional. Dalam bahasa Portugis, “Flores” berarti bunga. Kini, Flores sedang berbenah untuk menggaet lebih banyak turis. Banyak ruas jalan antar-kabupaten hampir mulus. Hotel dan resor ramai berdiri. Pulau ini juga tercantum dalam 15 destinasi yang diprioritaskan pemerintah dalam program Destination Management Organization (DMO). Modalnya bukan cuma alam yang menawan, tapi juga masyarakat yang sangat ramah.

Share this Article


Comments

Related Posts

6441 Views

Book your hotel

Book your flight