Petualangan Menyelam di Sipadan

  • Sebuah kapal yang kerap mengantarkan para penyelam bersandar di Pulau Sipadan.

    Sebuah kapal yang kerap mengantarkan para penyelam bersandar di Pulau Sipadan.

  • Pulau Sipadan steril dari resor komersial maupun hunian. Fungsinya kini lebih sebagai konservasi dan wisata diving. (Foto: Getty Images)

    Pulau Sipadan steril dari resor komersial maupun hunian. Fungsinya kini lebih sebagai konservasi dan wisata diving. (Foto: Getty Images)

  • Jika beruntung, penyelam bisa menemukan kawanan big-eye travelly di bawah laut Sipadan. (Foto: Getty Images)

    Jika beruntung, penyelam bisa menemukan kawanan big-eye travelly di bawah laut Sipadan. (Foto: Getty Images)

  • Ikan Giant bumphead parrotfish yang ukurannya lebih besar dibanding yang ada di perairan Indonesia.

    Ikan Giant bumphead parrotfish yang ukurannya lebih besar dibanding yang ada di perairan Indonesia.

  • Glass shrimp, udah dengan kulit tubuh transparan yang jamak di temui di bawah perairan Mabul dan Kapalai.

    Glass shrimp, udah dengan kulit tubuh transparan yang jamak di temui di bawah perairan Mabul dan Kapalai.

  • Pantai berpasir putih dan air berwarna turkuois juga menjadi daya tarik tersendiri di Pulau Sipadan.

    Pantai berpasir putih dan air berwarna turkuois juga menjadi daya tarik tersendiri di Pulau Sipadan.

  • Pemandangan mentari terbenam diambil dari Makbul.

    Pemandangan mentari terbenam diambil dari Makbul.

  • Pembekalan sebelum diving dilakukan sangat serius guna meminimalisasi pengrusakan alam.

    Pembekalan sebelum diving dilakukan sangat serius guna meminimalisasi pengrusakan alam.

  • Porcelain crab, salah satu satwa unik di perairan dangkal Makbul.

    Porcelain crab, salah satu satwa unik di perairan dangkal Makbul.

  • Pulau Sipadan dengan lautnya yang mengundang.

    Pulau Sipadan dengan lautnya yang mengundang.

Click image to view full size

Kendati riwayatnya menyisakan pahit dan kasus penculikan turis masih berlangsung, Sipadan terus menjadi teladan bagi bisnis diving yang ramah lingkungan.

Oleh Trinity

Pulau Sipadan steril dari resor komersial maupun hunian. Fungsinya kini lebih sebagai konservasi dan wisata diving. (Foto: Getty Images)

Ingat Sipadan dan Ligitan? Dua pulau terluar Indonesia yang “diambil” Malaysia pada 2002? Keduanya terletak di Negara Bagian Sabah, tepatnya di sisi timur Pulau Borneo. Bagi yang pernah ke Derawan, Sipadan dan Ligitan terletak di utaranya.

Sengketa kepemilikan Sipadan dan Ligitan mencuat sejak 1967. Indonesia dan Malaysia mencantumkan kedua pulau tersebut dalam wilayah kedaulatannya masing-masing. Banyak media nasional menuduh Malaysia “mencuri” Sipadan dan Ligitan, walau sebenarnya status kepemilikan pulau diputuskan oleh Mahkamah Internasional atas asas “effective occupation.” Penjajah Malaysia, Inggris, telah menjadikan Sipadan dan Ligitan suaka burung dan memungut pajak telur penyu sejak 1930, serta membangun mercusuar pada 1960-an. Pertimbangan majelis lainnya didasarkan pengamatan kedua pulau itu sejak lama dikelola oleh Malaysia.

Terlepas dari konflik tanah, Sipadan berkembang menjadi destinasi diving, sementara Ligitan yang berada di sisi timurnya tidak dihuni maupun dijadikan situs diving karena jaraknya yang terlampau jauh. Saya mengunjungi Sipadan pada September 2014. Terlepas dari status kepemilikannya yang sempat menghebohkan, Sipadan tersohor sebagai salah satu destinasi selam terbaik di dunia. “Saya pernah melihat tempat lain seperti Sipadan, 45 tahun silam, tapi sekarang tidak lagi. Sipadan bagaikan karya seni yang tak ternoda,” ujar Jacques Cousteau, pria asal Prancis yang dijuluki “bapak diving dunia.” Membaca komentarnya yang penuh pujian, saya pun memasang ekspektasi tinggi.

Demi menjaga kelestarian alam, pada 2004 pemerintah Malaysia merelokasi semua resor yang berdiri di Sipadan. Akomodasi turis dipusatkan di Pulau Mabul, Pulau Kapalai, atau di Kota Semporna yang terletak di mainland Borneo. Kami menginap di Borneo Divers yang terletak di Mabul, sisi selatan Sipadan.

Begitu speedboat merapat ke dermaga, saya disambut oleh Freddy dan Emily—dua dive master (DM) Borneo Divers yang sudah dijadwalkan untuk memandu saya. Keduanya asli Sabah. Karakter wajahnya kontras dari orang Semenanjung Malaysia yang selama ini kita kenal. Freddy dan Emily berkulit lebih terang dan bermata sipit, mirip orang Dayak. Bahasanya pun berbeda dari logat Melayu. Belakangan saya sadar mengapa saya sering dikira orang Sabah, karena wajah saya memang mirip mereka. Tapi begitu saya buka mulut, mereka langsung tahu asal saya sebenarnya. >>



Comments

Related Posts

7402 Views

Book your hotel

Book your flight