Pesta Harian di Perbatasan India-Pakistan

Tiap Agustus, India dan Pakistan merayakan hari kemerdekaannya. Tiap sore, warga kedua negara berjumpa di perbatasan untuk menegaskan mereka sudah berpisah. Silaturahmi janggal yang emosional.

Pasukan Keamanan Perbatasan India yang melangkah dengan tegap. (Foto: iStock/Roland Brack)

Oleh Hairun Fahrudin

Dalam bajaj yang terus bergetar, sebuah notifikasi SMS muncul di telepon genggam: “Welcome to Pakistan.” Melihat pojok layar, sinyal operator seluler India sudah raib, digantikan oleh sinyal milik operator Pakistan. Kening saya berkerut. Perbatasan India-Pakistan sebenarnya masih berjarak dua kilometer dari posisi saya.

“Tolong ingat-ingat di mana saya parkir,” kata Amrit, sopir bajaj. Menurutnya, usai parkir nanti, dia tak akan bisa lagi dikontak, sebab sinyal operator seluler India ditiadakan di area perbatasan demi alasan keamanan. Mendarat di tujuan, atas alasan keamanan pula, saya memotret pelat nomor bajaj milik Amrit.

Perbatasan India-Pakistan membentang sepanjang 2.900 kilometer. Hampir tiap jengkalnya diterangi lampu. Begitu banyak dan terang lampunya hingga garis pemisah ini bisa dilihat dari luar angkasa. Kendati begitu, meski panjangnya setara jarak Aceh-Yogyakarta, perbatasan ini hanya memiliki dua pos yang bisa dilalui publik, salah satunya Wagah, tempat yang kini saya datangi.

Usai berjalan sekitar satu kilometer, saya tiba di tujuan. Sebuah baliho menginformasikan bahwa Lahore, salah satu kota besar di Pakistan, berjarak hanya 23 kilometer dari sini. Pakistan terasa kian dekat, walau bukan berarti mudah dijangkau. India dan Pakistan adalah dua tetangga yang cemas menatap satu sama lain. Lalu lintas barang dan manusia di antara keduanya sangat dibatasi.

Warga yang berbondong-bondong menuju Wagah untuk menyaksikan upacara penurunan bendera.

Wagah berada sekitar 40 menit berkendara dari Amritsar, Negara Bagian Punjab. Berkat lokasinya yang mudah dijangkau, pintu ini menjadi favorit banyak orang untuk menyeberang ke Pakistan. Tapi bukan itu sebabnya Wagah begitu ramai saban sorenya, juga sore ini. Mayoritas orang, termasuk saya, sebenarnya datang demi menyaksikan upacara penurunan bendera. Sebuah upacara harian paling meriah dan paling janggal di dunia yang digelar sejak 1959.

Menuju lokasi upacara, seluruh pengunjung diwajibkan melewati detektor logam. Seluruh barang bawaan digeledah dengan saksama oleh petugas. Pemeriksaan ini kelewat ketat, lebih ketat dari bandara di Indonesia. Petugas bahkan meminta saya menyalakan kamera, demi memastikan keasliannya. Proses ini mengakibatkan antrean mengular panjang, sebab pengunjung mencapai ribuan. Untungnya bagi saya, warga asing diberikan jalur antrean terpisah.

Seremoni baru bergulir beberapa jam lagi, tapi tribune penonton sudah hampir penuh. Untungnya, lagi-lagi, warga asing mendapatkan privilese. Turis dipersilakan mengisi barisan depan yang berada paling dekat dengan pagar perbatasan. Menempati area “VIP” ini, saya bisa melihat dengan jelas kerumunan di sisi Pakistan. Di sana, sebagaimana di masjid, laki-laki dan perempuan duduk terpisah. Tempat duduk penonton juga berbentuk tribune, tapi ukurannya lebih kecil. Perbedaan lainnya adalah foto yang dipajang. Di sini ada potret Mahatma Gandhi. Di sana, Muhammad Ali Jinnah, bapak bangsa Pakistan.

Tampak dua penjaga yang berjaga di gerbang perbatasan Wagah.

Massa terus berdatangan dan tribune kian sesak. Selang beberapa menit, suasana berubah buncah. Kontingen India memutar musik Bollywood dengan volume tinggi, sementara delegasi Pakistan mengumandangkan ayat Alquran lewat pengeras suara. Rasanya seperti menyaksikan dua kampung yang sedang adu petasan. Tak kuat mendengar kebisingan ekstrem itu, beberapa orang terpaksa menutup telinga.

“Kompetisi” di perbatasan ini mencerminkan perseteruan di tingkat nasional. India dan Pakistan telah lama bersaing dan bersitegang di banyak sektor, mulai dari politik luar negeri hingga turnamen kriket. Kita mungkin bisa mengibaratkannya dengan hubungan antara Indonesia dan Malaysia, tapi dalam skala yang jauh lebih panas, sengit, dan intens.

India dan Pakistan ibarat saudara kandung yang dipaksa pisah rumah, dan permusuhan di antara saudara memang kerap lebih brutal. Perpisahan itu terjadi pada 1947. Pascapenjajahan, pemimpin Hindu dan Muslim gagal meneken kesepakatan untuk membentuk India yang bersatu. Wilayah British India yang didominasi penganut Islam menjadi negara Pakistan, sedangkan kawasan mayoritas Hindu menjadi India. Di sini, revolusi terpaut dengan agama dan geopolitik.

Comments