Pesona Keindahan Alam dan Laut Togean

  • Pamornya masih di bawah Raja Ampat, namun keindahan alamnya memiliki pesona tersendiri. Foto dipotret dari bukit di atas SD Tangkian.

    Pamornya masih di bawah Raja Ampat, namun keindahan alamnya memiliki pesona tersendiri. Foto dipotret dari bukit di atas SD Tangkian.

  • Emmi, penyelam asal Finlandia yang kini menjadi dive master di resor Kadidiri Paradise.

    Emmi, penyelam asal Finlandia yang kini menjadi dive master di resor Kadidiri Paradise.

  • Dari Gorontalo, Togean bisa dijangkau menggunakan feri selama 12 jam.

    Dari Gorontalo, Togean bisa dijangkau menggunakan feri selama 12 jam.

  • Bermain bersama ubur-ubur tanpa sengat di danau.

    Bermain bersama ubur-ubur tanpa sengat di danau.

  • Laut biru dan alam bawah lautnya yang menawan menjadi alasan para turis mengunjungi Togean.

    Laut biru dan alam bawah lautnya yang menawan menjadi alasan para turis mengunjungi Togean.

  • Cengkeh merupakan salah satu hasil perkebunan utama di Togean.

    Cengkeh merupakan salah satu hasil perkebunan utama di Togean.

  • Perpaduan antara pantai berpasir putih dan laut biru yang digemari turis.

    Perpaduan antara pantai berpasir putih dan laut biru yang digemari turis.

  • Salah satu suite di Kadidiri Paradise dengan balkon menghadap laut.

    Salah satu suite di Kadidiri Paradise dengan balkon menghadap laut.

  • Bungalo yang tersebar di Kadidiri Paradise.

    Bungalo yang tersebar di Kadidiri Paradise.

  • Menyelam melihat bangkai pesawat bomber menjadi aktivitas favorit penyelam. (Foto: Dedy Cono)

    Menyelam melihat bangkai pesawat bomber menjadi aktivitas favorit penyelam. (Foto: Dedy Cono)

  • Alam bawah laut Togean yang menawan. (Foto: Dedy Cono)

    Alam bawah laut Togean yang menawan. (Foto: Dedy Cono)

  • Salah satu desa di Togean.

    Salah satu desa di Togean.

Click image to view full size

*Artikel ini memenangkan penghargaan Anugerah Pesona Bahari 2015 dari Kementerian Pariwisata Indonesia.

Togean kian bersinar sebagai destinasi selam, tapi statusnya sebagai taman nasional masih terkatung-katung selama 11 tahun. Mungkinkah kepulauan di Teluk Tomini ini menyambut turis tanpa melupakan konservasi?

Oleh Cristian Rahadiansyah
Foto oleh Atet Dwi Pramadia

Gulita kian erat memeluk Togean, tapi pesta belum hendak berakhir. Lagu Californication masih mengalun di restoran, bersaing dengan gelak tawa turis-turis yang merayakan malam dengan minuman nasional Indonesia—Bir Bintang.

“Diego dijuluki ‘anak petani’ di sana,” Luca berusaha membuat malam kian cair dengan lelucon tentang sepak bola Indonesia. Di depan gelas-gelas penuh gelembung, remaja asal Amsterdam itu bercerita panjang tentang Diego Michiels, pemain tim nasional berdarah blasteran. “Diego bergabung dengan klub paling payah di Belanda, dan dia pun jarang dimainkan,” katanya lagi.

Ini hari Selasa, terlalu dini untuk sebuah pesta. Tapi di Togean agaknya tak ada yang peduli dengan hari. Semua hari terasa sama. Semua hari adalah hari libur. Hidup begitu merdeka dari perangkap kalender. Yang dipikirkan orang paling besok menyelam di mana, bakal melihat apa, jam berapa.

Laut biru dan alam bawah lautnya yang menawan menjadi alasan para turis mengunjungi Togean.

Andri Yusuf bergabung dalam kemeriahan. Di usia muda, dia telah menekuni profesi impian: manajer penginapan di pulau tropis. Kami berbincang di serambi. Di depan kami, pantai pasir putih membentang. Jauh ke seberang, dua pulau cantik terapung—juga milik keluarga Andri. Remaja ini belum lama diwisuda. Cita-citanya menjadi pengacara. Tapi apalah pentingnya menjadi pengacara jika sudah bisa mengelola sebuah resor dan dua pulau?

Kata Andri, saban tahun, sekitar 3.000 pelancong menginap di resornya. Karyawannya 15 orang. “Tapi hari ini cuma ada 10 orang,” kata Andri resah. “Sekarang musim panen cengkih. Lima staf pulang untuk bantu panen.” Akibat karyawan berkurang, Andri terpaksa menambal posisi-posisi yang lowong. Hari sebelumnya, dia menjemput saya di dermaga dengan tangan penuh noda oli. Tak seperti calon pengacara memang.

Pariwisata di Togean kembali bergairah selepas kerusuhan Poso. Sejumlah resor bermunculan, hingga persaingan berebut karyawan kiat ketat. Anehnya, tak banyak yang mau melamar. Mungkin ini yang disebut kutukan di tanah yang subur. “Di sini orang tak perlu bekerja untuk cari makan,” Andri kembali mengeluh. “Cukup berjalan ke laut dan cari ikan, orang sudah bisa makan. Tinggal panjat pohon kelapa dan jual buahnya, sudah bisa dapat uang.”

Botol-botol bir dingin terus terhidang. Suara debur ombak berkelindan dengan gelak tawa. Saya undur diri dari keriuhan, lalu menyelinap ke kamar dan mengunci pintu. Entah kenapa saya mengunci pintu. Tempat ini terapung di tengah laut. Tak ada celah bagi maling untuk kabur. Gorontalo di utara terpisah 12 jam. Ampana di selatan berjarak tiga jam. Dan malam ini tidak ada feri. Kapal hanya berlayar menjelang senja, itu pun tidak setiap hari. Togean bagaikan rumah yang terkurung lautan dengan pintu-pintu yang sering terkunci. >>

Share this Article


Comments

Related Posts

7683 Views

Book your hotel

Book your flight