Pesona Kecantikan Kota Rotterdam

Apa jadinya jika tongkat pembangunan diserahkan kepada seniman, arsitek, dan desainer? Rotterdam, kota yang pernah binasa diganyang perang, menyediakan jawabannya.

Oleh Cristian Rahadiansyah
Foto oleh Donang Wahyu

“Kamu harus lihat pasar terbaru kami,” ujar Anne Klapmuts, staf komunikasi Biro Pariwisata Rotterdam. “Baru setahun dibuka, pengunjungnya sudah menembus delapan juta orang.”

Di sebuah kafe, Anne penuh semangat menceritakan pasar kebanggaan kotanya. Dan sebenarnya bukan cuma Anne. Hampir semua brosur pariwisata di kota ini, termasuk majalah yang terselip di kursi pesawat dalam penerbangan saya dari Jakarta, tengah menceritakan pasar tersebut. Pasar yang menjadi ikon baru Rotterdam, tulis sebuah artikel. Pasar indoor terbesar di Belanda, tulis artikel lainnya. “Pasar yang sangat menakjubkan,” tambah Anne.

Tergoda oleh semua promosi tersebut, saya pun berkunjung ke pasar kebanggaan Rotterdam, walau saya sebenarnya datang dengan perasaan was-was. Menghabiskan masa kecil di kawasan Ciledug, saya mengenang pasar sebagai tempat yang suram. Di sana, pasar bersinonim dengan bau peluh dan amis, cipratan tanah becek di betis, juga ricau ayam yang menyebalkan. Di Ciledug, pasar bukanlah objek wisata, apalagi tempat yang menakjubkan.

 

Fasad Market Hall, pasar modern yang pembangunannya menghabiskan biaya triliunan rupiah.

Fasad Market Hall, pasar modern yang pembangunannya menghabiskan biaya triliunan rupiah.

Keluar dari stasiun kereta bawah tanah, udara dingin berkesiur. Saya merapatkan jaket, membuka peta, lalu melacak lokasi pasar, tanpa saya sadari pasar itu sebenarnya sudah menjulang persis di depan mata. Bentuknya memang kelewat megah untuk sebuah pasar. Lebih mirip hasil kawin silang antara hangar pesawat, apartemen, dan mal.

Namanya menjelaskan wujudnya: Market Hall. Di kakinya berbaris aneka restoran, salah satunya milik koki selebriti Jamie Oliver. Sementara di tubuhnya terdapat lebih dari 200 unit apartemen yang disusun melingkar. Kata Anne, ada sebuah griya tawang di bagian puncak pasar. Saya tak bisa membayangkan seorang jutawan di Jakarta akan mengatakan: “Datanglah ke penthouse saya. Lokasinya di atas Pasar Ciledug.”

Usai melewati gerbang Market Hall, saya disambut oleh grup pengamen yang berdandan rapi layaknya musisi jazz di lobi hotel. Interior pasar ini resik dan rapi. Kedai-kedai berbaris disiplin. Ikan, buah, dan sayur ditata cantik layaknya tas jinjing di butik premium. MVRDV, firma yang merancang pasar ini, lazim menangani kantor dan apartemen.

Saya menjelajahi Market Hall seperti orang udik yang baru pertama kali melihat taman rekreasi. Saya berpindah dari satu kedai ke kedai lain: mencicipi lumpia yang dibuat imigran asal Cina, pho bo Vietnam, juga batangan cokelat buatan Italia. Barang semenit, saya mendongak, mengagumi langit-langit pasar yang dilapisi mural: sebuah lukisan raksasa yang dibuat oleh duet seniman Arno Coenen dan Iris Roskam. Di Ciledug, langit-langit pasar biasanya dihiasi ayam-ayam yang kabur karena menolak disembelih.

Persis pukul delapan malam, pasar ditutup, tapi tak lantas ditinggalkan. Mural seluas lapangan sepak bola di langit-langitnya ditembak cahaya, membuat Market Hall laksana Sistine Chapel dari abad ke-21. Semua orang yang lewat pasti berhenti barang sejenak guna mengaguminya.

Malam kian dingin, tapi saya belum beranjak. Saya duduk di pelataran pasar, di antara para turis yang sibuk memotret mural, kemudian bertanya-tanya: untuk apa sebuah kota menyewa seniman dan arsitek bertarif mahal demi membangun sebuah pasar? Buat apa menggelontorkan Rp2,8 triliun untuk sekadar mendirikan tempat berbelanja sayuran dan ikan?

 

Area komersial di Rotterdam dengan lampu jalan yang artistik.

Area komersial di Rotterdam dengan lampu jalan yang artistik.

Seperti yang saya temukan kemudian, meramu desain yang memukau ternyata telah menjadi tabiat Rotterdam sejak lama. Dan uniknya, semua itu bermula dari sebuah perang akbar, persisnya dari sebuah serangan sadis salah seorang tokoh paling bengis dalam sejarah—Hitler.

Di samping Sungai Meuse yang membelah kota, sesosok pria berdiri dengan mulut menganga. Matanya menatap nanar. Ekspresinya menyiratkan murka. Pria itu membuka tangannya ke arah langit, seperti sedang menanti benda jatuh dari angkasa. Dadanya berlubang. Jantungnya hilang. Seniman Rusia Ossip Zadkine memahat patung itu tak lama setelah Rotterdam dilumat bom. Dia menamai karyanya The Destroyed City, persis seperti kondisi kota saat itu. Pada hari laknat 14 Mei 1940, Hitler mengutus skuadron Luftwaffe untuk menyapu Rotterdam. Sejarah mencatat, 80.000 orang menjadi tunawisma dan 800 nyawa melayang.

Betapapun ganasnya, serangan itu hanyalah sebuah proyek percontohan. Hitler ingin memperlihatkan kepada kota-kota lain di Belanda perihal nasib yang bakal menimpa jika menolak sujud di kakinya. Kita tahu, Nazi kemudian tumbang dan Belanda lepas dari horor perang. Dari balik puing dan bara itulah keajaiban Rotterdam dimulai. >>



Comments

Related Posts

3578 Views

Book your hotel

Book your flight