Perjalanan Pesiar di Sungai Mekong

Kapal RV Mekong Pandaw bersandar di bantaran Sungai Mekong yang berpasir putih di Kampong Cham.

Kapal RV Mekong Pandaw bersandar di bantaran Sungai Mekong yang berpasir putih di Kampong Cham.

Sebuah operator tur menawarkan wisata pesiar di Sungai Mekong dengan menaiki kapal uap legendaris flotilla. Ekspedisi yang membuka mata akan transformasi yang membasuh negara-negara Indocina.

Oleh Reza Idris
Foto oleh Atet Dwi Pramadia

Andai Jepang tidak menginvasi Burma, Sungai Mekong kini mungkin akan riuh. Kota-kota bandar yang sibuk akan merekah di bantarannya. Kapal kargo dan tongkang akan memadati perairannya dengan mengangkut hasil bumi dan para saudagar. Tapi sejarah punya kehendak berbeda. Hari ini, Mekong adalah sungai kalem yang menawarkan tur-tur romantis menyelami lanskap interior Indocina.

Ini pertama kalinya saya menyambangi Mekong. Duduk di atas geladak kapal yang tertambat, saya menyaksikan sepenggal kehidupan masyarakat sungai. Rumah-rumah kayu berjejer. Kaum pria dan wanita berdagang di atas perahu kayu. Beberapa kapal berseliweran mengangkut ikan, buah, serta sayur-mayur. Barangkali panorama melankolis ini yang dulu menginspirasi penulis-penulis seperti Elaine Russell dan Marguerite Duras.

Di Indocina, Mekong adalah arteri kehidupan sekaligus saksi peradaban. Di masa lampau, kerajaan-kerajaan besar bercokol di tepinya, juga menggunakannya untuk memperluas kekuasaan. Mekong mengalir dari selatan Tiongkok, membentang 4.900 kilometer—setara jarak Banda Aceh-Maumere—kemudian menutup perjalanannya di Laut Cina Selatan. Di sungai agung inilah saya akan bertualang selama delapan hari. Menaiki kapal RV Mekong Pandaw, saya bertolak dari Ho Chi Minh City menuju Siem Reap.

“Ada satu aturan yang harus diperhatikan,” ujar Rorn Saroun, Ship Manager, sebelum trip bergulir, “yakni dilarang membawa bunga berwarna putih di atas kapal.” Semua orang terpaku menyimaknya. Dalam bahasa Inggris yang fasih, Saroun melanjutkan kata-katanya: “Bunga putih membawa nasib buruk. Bawa belanjaan kain boleh, bawa gelang boleh. Tapi bunga putih… jangan!” Penumpang tertawa, tapi Saroun sebenarnya tak sedang bergurau.

“Apa yang bakal terjadi?” tanya John, pria tambun asal Amerika. Saroun dengan santai menceritakan konsekuensi terburuknya: lambung kapal pecah, mesin mogok, dapur terbakar, atau kapal karam. Peringatan yang cukup aneh. Sejak kapan bunga melambangkan nasib buruk? Tapi kepercayaan mistis ini teguh diyakini oleh kru kapal, dan para penumpang pun tunduk pada wanti-wanti mereka. Lagi pula, bukankah ini esensi bepergian: menerima dan menghargai perbedaan?

Kiri-kanan: Desain klasik kapal RV Mekong Pandaw; Din Sotha, Kapten kapal.

Kiri-kanan: Desain klasik kapal RV Mekong Pandaw; Din Sotha, Kapten kapal.

Pagi baru saja dibuka di Pelabuhan My Tho. Angin sejuk berembus. Hawa kering Maret menyengat. Sembari menanti para kelasi menggugah logistik ke lambung kapal, saya dan penumpang lain menyeruput ginger ale dingin sembari menikmati pemandangan.

Dibandingkan seluruh kapal di pelabuhan ini, kapal saya tampak janggal, seperti alien yang tersesat. Beberapa warga menyebutnya kapal antik. Sebagian memujinya sebagai bahtera termewah di Mekong.

RV Mekong Pandaw, kapal milik operator tur Pandaw Cruise, mengadopsi desain klasik khas Inggris. Wujudnya seperti baki yang ditumpuk. Tidak gagah seperti pinisi. Tidak flamboyan seperti yacht. Mulut dan pantatnya melengkung. Haluannya tak dilengkapi moncong lancip untuk menyayat air. Sebuah kapal yang tak berniat tergesa-gesa.

Hari beranjak siang dan RV Mekong Pandaw pun melepas simpul, membunyikan sirene, kemudian membuka ekspedisinya. Agenda pertama penumpang adalah makan siang. Di depan meja berisi hidangan seafood segar, semua orang saling menyapa, bertukar nama dan biografi singkat. Selain saya dan fotografer, kapal ini membawa belasan turis asal Amerika, Eropa, Meksiko, Australia, ditambah satu keluarga berdarah India.

RV Mekong Pandaw bergerak ke utara. Mengintip dari jendela restoran, perahu lalu-lalang di atas air berwarna karamel yang nyaris steril dari sampah. Di sempadan sungai, pohon-pohon berbaris. Di sebagian permukaan air, eceng gondok berkerumun.

Mekong mendapatkan pasokan airnya dari Dataran Tinggi Tibet. Dari kaki Pegunungan Himalaya, sungai ini melenggang melewati lembah-lembah dan ngarai-ngarai curam, kemudian membelah dan membasuh enam negara. Di sejumlah titik, ia bercabang, beranak-pinak, menyirami kehidupan di delta, rawa, dan hutan, juga menyuburkan ladang dan membasahi desa-desa nelayan.

Penumpang bersantai di geladak kapal RV Mekong Pandaw.

Penumpang bersantai di geladak kapal RV Mekong Pandaw.

Tapi saya berlayar di Maret, saat Mekong tak menjanjikan keamanan. Di musim kering ini, debit air susut dan nakhoda mesti ekstra waspada. Pandaw II, saudara tua RV Mekong Pandaw, pernah kandas akibat menghantam gundukan pasir. Saya tak tahu siapa yang salah: sang nakhoda lengah atau penumpang nekat menyelundupkan bunga putih. Ancaman gundukan pasir jugalah yang membuat kapal saya tidak berlayar selepas magrib. “Di kala malam gundukan pasir sulit terlihat,” ujar pemandu, Bao Giang.

Kelar beristirahat semalam, kapal mendarat di daerah Cai Be dan penumpang berpindah ke perahu motor kecil. Kami menelusuri kanal-kanal sempit, selanjutnya singgah di pasar terapung. Di sungai selebar delapan meter, sampan kayu berkerumun menjajakan sayur, buah, dan ikan. Perahu saya bermanuver zigzag di antara sampan pedagang, sesekali memperlambat lajunya agar penumpang bisa berbelanja. Kata pemandu, pasar ini dulu jauh lebih besar. Menyusutnya jumlah pedagang adalah akibat dari pembangunan banyak jalan dan jembatan. Ketimbang susah payah mendayung perahu, warga kini lebih memilih mengangkut dagangan dengan kendaraan bermotor.

Penumpang kemudian diajak bertamu ke permukiman warga. Kami meniti gang-gang sempit yang menyerupai labirin di mana pedagang menjajakan permen berbahan kelapa dan wine ular. Yang terakhir ini, katanya, mengandung ramuan sakti asal Tiongkok. “Satu-satunya wine yang membuat tubuh bugar,” canda Giang. Kaum pria lokal lazim mengonsumsinya untuk menjaga vitalitas. Tergoda mitos lokal itu, saya pun mencicipinya.

Matahari makin terik dan penumpang beranjak kembali ke kapal. Di etape berikutnya, kami meluncur ke kota bersejarah Sa Dec. RV Mekong Pandaw melenggang luwes di perairan tenang, menembus kompleks eceng gondok, bermanuver di antara gelondongan kayu. Di perjalanan, saya menyaksikan sejumlah kapal pengangkut pasir. “Hasil kerukan di sungai. Dipakai sebagai bahan konstruksi bangunan di Vietnam,” ujar Giang. Saking beratnya timbunan pasir, lambung kapal pengangkut nyaris terendam seluruhnya.

Seluruh penumpang berkumpul di restoran untuk menikmati makan siang. Hanya di jam makan semua orang duduk bersama. Selebihnya, mereka menyebar untuk menikmati fasilitas kapal. RV Mekong Pandaw punya banyak penawar bagi rasa jemu. Kapal uap yang kerap dijuluki Flotilla ini terbagi dalam empat tingkat. Dek paling atas, yang membentang sepanjang dua kali lapangan futsal, menampung bar serta ruang kongko berisi bangku kayu, sofa rotan, dan kursi leyeh-leyeh. Sementara dek paling bawah menaungi ruang kebugaran, spa, serta lounge indoor dengan perpustakaan mini.

Kiri-kanan: Kabin penumpang; menikmati pemandangan saat kapal menyusuri Sungai Tonle Sap yang dipenuhi enceng gondok.

Kiri-kanan: Kabin penumpang; menikmati pemandangan saat kapal menyusuri Sungai Tonle Sap yang dipenuhi enceng gondok.

Kiri-kanan: Kapal pesiar ini dilengkapi fasilitas mumpuni, termasuk koleksi wine; Seong Narith, koki RV Mekong Pandaw.

Kiri-kanan: Kapal pesiar ini dilengkapi fasilitas mumpuni, termasuk koleksi wine; Seong Narith, koki RV Mekong Pandaw.

Kamar-kamar penumpang disebar di dua dek tengah. RV Mekong Pandaw mengoleksi 24 kabin dengan kapasitas total 48 orang. Kabin saya, nomor 316, didandani dalam gaya klasik: kombinasi kayu jati dan mahoni dengan sentuhan aksen tembaga di pojok-pojok ruangan. Berkat kehadiran pintu geser, saya bisa menyerap pemandangan sekaligus menghirup udara segar dari atas matras.

Tiba di Sa Dec, penumpang turun untuk melihat-lihat kehidupan kota. Satu atraksi utama di sini adalah napak tilas kehidupan novelis ternama Prancis, Marguerite Duras. Dari 1928 hingga 1932, dia menetap di sini dan menjalin cinta dengan pria lokal bernama Huynh Thuy Le. Kisah itulah yang mengilhami L’Amant, novel romantis yang pada 1992 diadaptasi ke film berjudul The Lover.

Kediaman Huynh Thuy Le masih berdiri. Sempat dihuni kantor polisi, rumah bercorak kolonial ini disulap menjadi objek wisata usai diakuisisi oleh badan pariwisata setempat sembilan tahun silam. Sembari menyeruput teh panas dan mengunyah manisan jahe, penumpang mendengarkan Giang bercerita perihal desain unik bangunan. Di atas lahan 258 meter persegi, rumah Huynh Thuy Le menampilkan fasad bergaya Prancis, lantai bermotif yin-yang khas Vietnam, serta sebuah kubah beraliran Romawi.

Mengunjungi tempat penuh kenangan semacam itu adalah tawaran utama RV Mekong Pandaw. Di balik kemewahannya, kapal ini sejatinya berniat mengajak kita bernostalgia—suguhan yang sejalan dengan arsitektur kapal. RV Mekong Pandaw menerbangkan ingatan kita ke sebuah masa di saat Irrawaddy Flotilla Company (IFC) merajai bisnis ekspedisi di Indocina. Sejarah mencatat, ketika Inggris sibuk menjajah Burma (nama lama Myanmar), kapal-kapal uap Flotilla berfungsi mengangkut hasil bumi, membawa delegasi VIP, mengirimkan pasukan ke pedalaman yang sulit ditembus kendaraan. Kala itu, lebih dari 600 kapal merayap di sungai-sungai di kawasan ini, terutama Ayeyarwady. >>



Comments

Related Posts

4155 Views

Book your hotel

Book your flight