Perjalanan Lifestyle Retreats di 2017

Jose Luis Calle.

Pendiri Grup Lifestyle Retreats berbicara tentang kiprah perusahaannya dan strateginya di 2017.

Oleh Reza Idris

Ide di balik Lifestyle Retreats?
Idenya tercetus akhir 2004 usai saya menuntaskan masa dinas dua tahun sebagai General Manager The Bale di Nusa Dua. Properti ini berjalan baik dan saya menikmati hidup di Bali, tapi terasa ada sesuatu yang belum terpenuhi. Dalam trip solo di Surabaya, ide Lifestyle Retreats saya rumuskan usai menyepi selama tiga hari, kemudian saya luncurkan pada April 2005.

Strategi menghadapi persaingan di Bali?
Berpegang pada konsep dan keunikan dari tiap properti Lifestyle Retreats. Kami menekankan karakteristik masing-masing dan membedakannya dengan properti lain di Bali. Sebenarnya kami tengah mencari lokasi baru untuk properti di Ubud—proyek terakhir dalam portofolio kami di Bali, sebelum kemudian bersiap menatap lokasi lain di Nusantara.

Airbnb menghadirkan ancaman?
Airbnb sebenarnya sudah lama berkiprah, tapi tidak pernah diformalkan. Siapa yang tak pernah menginap di rumah teman? Menurut saya, kami harus fokus pada hal terbaik yang kami lakukan dan tak perlu khawatir berlebihan tentang orang lain. Bagi saya, tak ada masalah dengan Airbnb, selama secara legal propertinya terdaftar dan memberi kontribusi seperti pajak.

Fasilitas kolam renang di The Bale, Nusa Dua Bali.

Tren hotel di 2017?
Destinasi andalan seperti Seminyak dan Nusa Dua akan terus memikat pasar yang variatif. Sementara konsumen yang telah matang dan wisatawan dunia akan mengidamkan sesuatu yang lebih. Tidak harus luks, tapi fokus pada pengalaman. Saya melihat akan munculnya proyek atau aktivitas yang menekankan pada pengalaman, serta destinasi di luar radar.

Gebrakan Lifestyle Retreats tahun ini?
Kami siap meluncurkan The Bale Phnom Penh di Kamboja pada 1 September 2017—properti yang menandai ekspansi Lifestyle Retreats ke luar negeri. The Bale Phnom Penh akan menampilkan hunian retret berisi 18 suite yang ditata menatap sungai.

Desain menjadi unsur yang kian penting?
Desain harus bercampur sempurna dengan konsep properti. Berdasarkan pengalaman saya berkolaborasi dengan arsitek terpandang semacam Kengo Kuma atau firma Snohetta, pengembang atau investor harus menaruh kepercayaan pada arsitek dalam mengeksekusi sebuah konsep. Kendala yang sering ditemui adalah bentrokan antara kreativitas arsitek dan selera investor.

Unit Pavilion di The Bale, Nusa Dua dengan pemandangan lapangan golf.

Arsitek favorit?
Grup Lifestyle Retreats berkolaborasi dengan banyak arsitek terpandang untuk tiap propertinya. Beberapa favorit saya adalah Antony Liu dan Ferry Ridwan dari Studio TonTon yang mendesain The Bale; Patisandhika Sidarta untuk The Bale Phnom Penh; serta Tan Hock Beng dari MAPS Design untuk proyek kami berikutnya di Vietnam.

Momen personal terbaik di grup Lifestyle Retreats?
Merayakan 10 tahun kelahiran perusahaan bersama investor dan pengembang melalui acara makan bersama di Jakarta. Saya berkesempatan mengucapkan terima kasih atas dukungan dan persahabatan mereka selama bertahun-tahun.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Januari/Februari 2017 (“In The Spotlight”).



Comments

Related Posts

3933 Views

Book your hotel

Book your flight