Perang Kuliner Jakarta vs. Bali

Bali dan Jakarta bersaing ketat dalam perebutan gelar ibu kota kuliner Indonesia. Kami memetakan strategi dan amunisi keduanya.

 

Sarong.

Sarong.

TEMPAT TERBAIK DAN TERFAVORIT

Untuk menentukan tempat makan dan minum terbaik, subjektivitas mustahil dihindari. Tiga rujukan berikut berusaha mengatasi problem tersebut dengan meminta pendapat dan penilaian dari banyak pakar.

—Asia’s 50 Best Restaurants

Daftar ini dicetuskan pada 2013 sebagai cabang World’s 50 Best Restaurants oleh William Reed Business Media, penerbit majalah The Grocer dan Restaurant. Peringkat restoran disusun berdasarkan voting yang digelar di enam wilayah di Asia oleh Diners Club Asia’s 50 Best Restaurants Academy, grup berisi 318 figur berpengaruh di industri kuliner. Kecuali pada 2015, Indonesia selalu menempatkan satu wakil, dan semuanya berlokasi di Bali.

Mozaic, 2013, peringkat 50.

Selain berjasa menempatkan Ubud dalam peta kuliner dunia, Mozaic rutin mencetak koki-koki berbakat. Sajiannya memakai format degustation dengan harga yang relatif rendah hati. Mozaic telah memiliki sister restaurant bernama Spice yang berlokasi di Ubud dan Sanur. Jl. Raya Sanggingan, Ubud, Bali; 0361/975-768; mozaic-bali.com.

Sarong, 2014, peringkat 47.

Restoran ini berambisi mengangkat resep rumahan dan makanan jalanan Asia ke meja fine dining. Beberapa hidangan dieksekusi dengan metode orisinal, sementara sisanya merupakan buah eksperimen yang cerdik, misalnya menu pembuka berupa tempe yang ditindih irisan salmon. Jl. Petitenget 19X, Kerobokan, Bali; 0361/4737-809; sarongbali.com.

Locavore, 2016, peringkat 49.

Sesuai namanya, Locavore mengutamakan bahan-bahan lokal, mulai dari iga sapi asal Malang hingga rumput laut asal Lombok. Kendati demikian, konsep menunya tak semua asli Indonesia. Restoran ini dipimpin oleh duet koki berbakat Eelke Plasmeijer dan Ray Adriansyah. Jl. Dewi Sita, Ubud, Bali; 0361/977-733; locavore.co.id.

—Asia’s 50 Best Bars

Peringkatnya disusun berdasarkan voting oleh Asian Academy, grup beranggotakan 154 orang yang terdiri dari bartender, konsultan bar, duta merek, serta jurnalis. Dari 215 bar yang masuk babak kualifikasi, 50 terpilih sebagai yang terbaik dan lima masuk lis Bars To Watch. Asia’s 50 Best Bars baru dirintis pada 2016 sebagai cabang dari World’s 50 Best Bars yang diterbitkan saban tahun oleh majalah Drinks International.

Loewy, peringkat 32.

Kendati baru dibuka pada 2008, Loewy telah menyabet status “klasik” di Jakarta serta menjala banyak penggemar loyal. Tempat yang didesain dalam gaya retro New York dan Paris ini menyuguhkan beragam makanan, tapi daya tarik utamanya adalah koktail racikan Kiki Moka. Oakwood, Jl. Lingkar Mega Kuningan E4.2 No.1, Jakarta; 021/2554-2378; loewyjakarta.com.

 

Union, Plaza Senayan.

Union, Plaza Senayan.

Union, peringkat 35.

Pamornya melambung sebagai wadah untuk dilihat dan melihat, termasuk bagi selebriti dan sosialita Ibu Kota. Meski begitu, servisnya yang ramah dan cekatan berhasil dipertahankan. Selain di Plaza Senayan, Union telah hadir di Pondok Indah Mall dan Grand Indonesia. Plaza Senayan, Jl. Asia Afrika 8, Jakarta; 021/5790-5861; unionjkt.com.

Potato Head, Bars To Watch.

Potato Head Beach Club sebenarnya mengoleksi tiga restoran, tapi aneka koktail dari barnya senantiasa menjadi magnet utama. Mungkin itu sebabnya kelas koktail juga ditetapkan sebagai aktivitas andalan di Katamama, hotel baru yang berada satu kompleks dengan beach club. Jl. Petitenget 51B, Seminyak, Bali; 0361/4737-979; ptthead.com.

Rock Bar, Bars To Watch.

Bar ikonis ini telah menambah daya tampungnya nyaris tiga kali lipat. Tapi jika Anda datang di musim liburan, sebaiknya menginap di vila milik Ayana agar bisa mendapatkan akses sakti untuk menyalip antrean yang kadang mengular panjang. Ayana Resort, Jl. Karang Mas Sejahtera, Jimbaran, Bali; 0361/702-222; ayanaresort.com.

—Where Chefs Eat

Jika Michelin Guide mengandalkan penilaian terukur oleh para juri anonim dan TripAdvisor menggali komentar amatir konsumen, Where Chefs Eat lebih percaya pada selera para koki. Buku ini memuat 3.250 restoran di lebih dari 70 negara yang direkomendasikan oleh 630 koki terpandang, mulai dari Agus Hermawan dan Gaggan Anand, hingga para legenda sekaliber Ferran Adrià dan René Redzepi. Di terbitan perdana, buku ini memuat hanya empat restoran di Indonesia, sementara pada versi terbarunya, jumlahnya meroket jadi 25. Berikut daftar:

Skye
Menara BCA Lt. 56,
Jl. M.H. Thamrin 1, Jakarta; 021/2358-6996; ismaya.com.

Teba Mega Cafe
Jl. Four Seasons Resort, Pantai Muaya, Jimbaran, Bali; 0361/703-156; indo.com/restaurants/tebacafe.

Babi Guling Chandra
Jl. Teuku Umar 140, Dauh Puri Kauh, Denpasar, Bali; 0361/221-278.

Beautika
Jl. Hang Lekir 1, Kebayoran Baru, Jakarta; 021/7226-683; beautika-manado.com.

Watercress
Jl. Batu Belig 21a, Kerobokan, Bali; 0851-0280-8030; watercressbali.com.

Ryoshi
Jl. Raya Seminyak 17, Seminyak, Bali; 0361/731-152; ryoshibali.com.

Bandar Djakarta
Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta; 021/645-5472; bandardjakarta.com.

Cuca
Jl. Yoga Perkanthi, Jimbaran, Bali; 0361/708-066; cucaflavor.com.

Gourmet Cafe
Jl. Petitenget 77A, Kerobokan, Bali; 0361/8475-115; balicateringcompany.com.

Warung Babi Guling Ibu Oka
Jl. Tegal Sari 2, Ubud; 0361/976-345.

Cafe Batu Jimbar
Jl. Danau Tamblingan 75A, Sanur, Bali; 0361/287-374; cafebatujimbar.com.

Kura Kura
The Oberoi, Jl. Kayu Aya, Seminyak, Bali; 0361/730-361; oberoihotels.com.

Made’s Warung
Jl. Raya Seminyak, Bali; 0361/732-130; madeswarung.com.

Mama San
Jl. Raya Kerobokan 135, Banjar Br. Taman, Bali; T. 0812-3634-3386; mamasanbali.com.

Union
Plaza Senayan, Jl. Asia Afrika 8, Jakarta; 021/5790-5861; unionjkt.com.

Ju-Ma-Na
Banyan Tree Ungasan, Jl. Melasti, Banjar Kelod, Bali; 0361/3007-000; banyantree.com.

Sari Ratu Padang
Sunset Star, Ruko Ds Blok A, Jl. Dewi Sri, Bali; 0361/8947-482; sariratubali.baliklik.com.

Petitenget
Jl. Petitenget 40X, Kerobokan, Bali; 0361/473-3054; petitenget.net.

Vin+
Jl. Kemang Raya 45B, Jakarta; 021/7179-2577; vinplus.co.

Nyoman’s Beergarden
Jl. Pantai Mengiat, Nusa Dua, Bali; 0361/775-746; sendok-bali.com.

Ku De Ta
Jl. Kayu Aya 9, Seminyak, Bali; 0361/736-969; kudeta.com.

Sarong
Jl. Petitenget 19x, Kerobokan, Bali; 0361/4737-809; sarongbali.com.

Warung Kolega
Jl. Petitenget 98A, Kerobokan, Bali; 0361/4732-480.

Locavore
Jl. Dewi Sita, Ubud, Bali; 0361/977-733; locavore.co.id.

Cafe Zucchini
Jl. Oberoi 49, Seminyak, Bali; 0361/736-633; cafezucchini.com.

PILIHAN FESTIVAL KULINER

Tujuh pergelaran dalam kalender Jakarta dan Bali yang ditujukan bagi pencinta wisata lidah.

JAKARTA

Festival Pesona Kuliner Nusantara

Berniat merangkum tradisi dapur Nusantara, acara yang ditukangi oleh Kementerian Pariwisata ini menampilkan puluhan hidangan dari kawasan barat hingga timur Indonesia, misalnya ayam panggang bumbu rujak, sayur kapau, serta ketan sarikayo. Beberapa acara tambahannya meliputi demo masak, pentas tari tradisional, dan kompetisi foto bertema boga. Sejumlah komunitas, institusi pendidikan, serta asosiasi di bidang kuliner turut hadir memeriahkan pergelaran ini.

 

Suasana Jakarta Food & Fashion Festival.

Suasana Jakarta Food & Fashion Festival.

Jakarta Fashion & Food Festival

Busana dan makanan memang kombinasi yang terkesan janggal, tapi Jakarta Fashion & Food Festival ternyata sukses menuai animo publik. Bagian dari program Enjoy Jakarta, festival ini menyuguhkan antara lain acara Kampoeng Tempo Doeloe yang diikuti oleh 100 UKM dengan sajian lebih dari 200 menu; ekshibisi keju dan wine yang melibatkan sejumlah kedutaan asing; serta peragaan busana yang memamerkan rancangan desainer lokal. jfff.info.

Jakarta Foodies Meet

Awalnya ditujukan menarik minat warga membeli apartemen di Puri Orchard, Jakarta Foodies Meet menjelma jadi ajang tahunan bagi pencinta makanan. Konsepnya cukup unik: mengajak pengunjung melakoni wisata lidah keliling dunia dengan mencicipi aneka kreasi dapur dari banyak negara yang disajikan oleh hampir 100 stan. Jakarta Foodies Meet digelar dua kali saban akhir pekan di akhir tahun, dan tahun ini adalah episode ketiganya.

Jakarta Street Food Festival

Berniat menaikkan citra Kelapa Gading sebagai destinasi wisata makan, Jakarta Street Food Festival menyuguhkan beragam hidangan Indonesia dan mancanegara yang dikemas dalam konsep jajanan kaki lima dan disebar di area La Piazza, Mal Kelapa Gading. Suguhan lain festival adalah kompetisi food styling serta pentas musik yang menampilkan musisi-musisi lokal. malkelapagading.com.

BALI

Festival Bazar Expo Kampung Kuliner Bali

Ajang besutan Pemkot Denpasar ini bertujuan mempromosikan kekayaan kuliner Bali sekaligus mengumumkan ke publik bahwa masakan di pulau ini bukan cuma nasi campur, ayam betutu, atau babi guling. Festival ini juga dimeriahkan lomba memasak, kompetisi penyajian hidangan lokal, serta beberapa acara tambahan semacam pameran hewan dan pusaka. Pada 2015, festival ini berlangsung di April dan bertempat di lapangan Taman Kota Lumintang.

 

Para peserta Ubud Food Festival dalam mengenal sesi bumbu lokal.

Para peserta Ubud Food Festival dalam mengenal sesi bumbu lokal.

Ubud Food Festival

Sukses dengan ajang tahunan Ubud Writers & Readers Festival, Janet DeNeefe pada 2015 memprakarsai Ubud Food Festival, pergelaran tiga hari yang menghadirkan antara lain kelas memasak, diskusi seputar makanan, pemutaran film, dan lokakarya bertema kopi. Di episode keduanya pada Mei 2016, ajang ini sukses mendatangkan sekitar 60 koki dan figur terpandang. Acara utamanya dipusatkan di Taman Kuliner sementara acara sampingannya diadakan di sejumlah hotel. ubudfoodfestival.com.

Bali Interfood

Bienial bagi praktisi dan pengusaha boga, Bali Interfood tak cuma menyuguhkan beragam kreasi restoran dan menggelar kompetisi kuliner, tapi juga membahas tren dan inovasi di dunia dapur, serta memamerkan kemasan, produk, dan peralatan terbaru dalam industri pangan. Ajang yang bergulir di Nusa Dua Convention Centre ini didukung antara lain oleh PHRI, Asosiasi Juru Masak, Asosiasi Barista, serta Badan Promosi Pariwisata Daerah. bali-interfood.com.

PILIHAN AHLI

Bali atau Jakarta, tempat mana yang berhak menyandang mahkota ibu kota kuliner Indonesia? Untuk menjawabnya, kami meminta pendapat dari enam pakar kuliner terpandang.

 

Vindex Tengker

Vindex Tengker, mantan Executive Chef The Dharmawangsa yang kini menjabat Vice President Inflight Service Garuda Indonesia.

Vindex memilih:

“Jakarta. Sebuah ibu kota negara sepertinya memang harus memiliki semua jenis kuliner, mulai dari street food hingga fine dining. Masakan asing seperti Korea, Jepang, India, Amerika, Prancis, dan Jerman tersedia di Jakarta. Begitu juga restoran waralaba internasional seperti Din Tai Fung dan Genki Sushi. Masing-masing kota madya di Jakarta juga memiliki keunikan tersendiri dalam hal tawaran makanan. Dan tidak ketinggalan, Jakarta mempunyai restoran historis seperti Cafe Batavia, Rendezvous, dan Oasis.”

 

William Wongso

William Wongso, pengusaha restoran, duta kuliner nasional, serta penulis buku Flavors of Indonesia: William Wongso’s Culinary Wonders.

William memilih:

“Bali. Dengan pertimbangan Bali memiliki suasana rileks dan kuliner yang dinamis, kecuali untuk menu lokalnya yang monoton. Pilihan menu lokal di Bali tidak sebanyak inovasi di restoran pimpinan koki asing. Di Jakarta, tingkat kemacetan luar biasa, sementara di Bali semuanya lebih mudah. Pulau ini didesain sedemikian rupa agar semua orang bisa menikmati makanan. Tapi soal kualitas, Jakarta lebih menonjol. Untuk masakan Jepang misalnya, ada lebih banyak restoran Jepang premium di Jakarta, begitu juga untuk Chinese food. Di Bali tidak gampang menjual masakan dengan harga premium.”

 

Ari Parikesit

Arie Parikesit, editor buku Makansutra Indonesia dan pendiri Kelana Rasa Culinary, operator tur yang mempromosikan warisan dapur Nusantara.

Arie memilih:

“Jakarta. Di kota ini terdapat banyak representasi kuliner dari daerah-daerah di Nusantara—salah satu faktor penting untuk menjadi ibu kota kuliner. Jakarta juga mengoleksi beragam restoran yang menawarkan menu lokal dan internasional, dari Italia sampai Jepang. Bali, meski memiliki banyak restoran mancanegara berkelas, lebih rajin melahirkan tren-tren makanan, misalnya raw food atau organik. Kendati begitu, Jakarta masih memiliki banyak pekerjaan rumah, salah satunya soal kebersihan, khususnya untuk kedai-kedai kecil.”

 

Chris Salans

Chris Salans, pemilik restoran Spice dan Mozaic di Ubud, mantan juri Top Chef Indonesia, penulis buku Mozaic: French Cuisine, Balinese Flavours.

Chris memilih:

“Jika bicara kuliner secara komprehensif, tidak diragukan lagi Bali layak dijadikan ibu kota kuliner Indonesia. Jika menyimak daftar Asia’s 50 Best Restaurants, ada Locavore, Sarong, dan Mozaic. Kuliner Barat lebih kuat di Bali. Menunya dirancang untuk wisatawan. Besarnya pasar mancanegara ini membuat sejumlah investor asing berani mengucurkan dananya di Bali. Ryan Clift, koki dari Grup Tippling Club, berencana membuka restorannya di sini. Grup restoran asal Sydney kabarnya juga siap mengambil alih lahan yang ditempati Mozaic Beach Club. Persaingan lebih ketat di Bali. Kuliner lebih kreatif dan inovatif, sedangkan di Jakarta saat ini masih konservatif.”

 

Chef Degan

Degan Septoadji Suprijadi, nominator Best Asian Chef 2012, mantan juri MasterChef Indonesia, pemilik Cafe Degan di Bali.

Degan memilih:

“Sulit menentukan jawabannya. Masing-masing tempat memiliki kekuatannya tersendiri. Untuk menu Indonesia, Jakarta lebih unggul dan variatif. Sedangkan di Bali, masakan asing berlimpah dengan kualitas dan bahan yang lebih baik. Untuk bahan edible flower misalnya, di Bali kita bisa membelinya di supermarket, tapi di Jakarta harus membeli dari pemasok khusus. Dalam hal desain, restoran di Jakarta lebih baik, sementara di Bali banyak restoran yang didesain minimalis, namun dengan suasana dan pemandangan yang menarik.”

 

Yohan

Yohan Handoyo, pakar wine, Deputy CEO Sababay Winery, penulis buku Rahasia Wine.

Yohan memilih:

“Bali. Pertimbangan pertama: kualitas makanan. Mencari bahan berkualitas di Bali lebih mudah dibandingkan di Jakarta. Koleksi wine di Bali pun lebih beragam. Di Jakarta, jika kita hendak makan ke tempat yang layak dan memiliki sommelier berkualitas, pilihannya tidak lebih dari 10 tempat. Tapi di Bali, opsi tempatnya lebih banyak. Pertimbangan kedua: sumber daya manusia. Bali menciptakan lebih banyak kegiatan, mulai dari kumpul-kumpul hingga seminar. Sebagai produsen wine, saya rutin mengikuti acara seperti apresiasi koki.”

Untuk membaca tentang 51 restoran ikonis di Jakarta dan Bali pilihan kami, klik di sini.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi September/Oktober 2016 (“Raja Kuliner”)



Comments

Related Posts

2074 Views

Book your hotel

Book your flight