Pelesir di Tanah Kelahiran Freddie Mercury

Stone Town, tanah kelahiran Freddie Mercury dan bekas pelabuhan budak, menebarkan pesonanya lewat kombinasi antara budaya Afrika Timur dan situs-situs bersejarah.

Kiri-kanan: Pemuda setempat menyusuri lorong dengan sepedanya; panorama dari Beit el-Ajaib, struktur tertinggi di Stone Town.

Stone Town berlokasi di semenanjung berbentuk segitiga di pesisir barat Unguja. Luasnya sekitar tiga kilometer persegi dengan dua sisi terluarnya dibingkai oleh laut, sedangkan sisi dalamnya berbatasan dengan Creek Road. Pantainya yang berpasir kini nyaris hilang ditelan pembangunan. Namun begitu, ada cukup banyak obyek yang menarik dieksplorasi di tengah kompleks lorongnya: dua gereja, setidaknya dua kuil Hindu, dan sekitar 40 hingga 50 masjid, tergantung siapa yang menghitung. Stone Town didiami kurang lebih 20.000 orang dan pernah ditinggali beberapa tokoh penting dari periode yang berbeda, di antaranya penjelajah sekaligus misionaris asal Skotlandia, David Livingstone. Freddie Mercury, vokalis grup rok asal Inggris, Queen, juga terlahir di sini. Saya tadinya berharap bisa melihat semacam monumen baginya, tapi ternyata tidak ada.

Namun saya berhasil menemukan rumah Tippu Tip, pedagang budak tersohor. Zanzibar, pelabuhan budak utama di Afrika Timur, adalah tempat terakhir di muka bumi bagi perdagangan manusia secara terbuka. Saat bisnis sedang subur, sekitar 15.000 budak dilelang setiap bulan. Pada 1873, Sultan Zanzibar meneken sebuah dekrit yang menghapuskan praktik tersebut. Namun para pelakunya, termasuk Tip, terus beroperasi secara ilegal. Rumah milik Tip, sebuah bangunan luas nan bobrok, kini dimiliki oleh pemerintah dan ditempati oleh keluarga lokal. Saya bertemu seorang pria yang duduk di luar kediaman terkenal itu. Dia mengaku tinggal di situ, lalu mengundang saya masuk. Ajakan yang saya tampik.

Berbeda dari rumah Tip, saya tak ragu saat memasuki Christ Church Cathedral, gereja yang didirikan pada 1873 di pasar budak. Jantung spiritual penganut Anglikan Zanzibar ini tampil muram, namun eksistensinya dibanggakan sebagai simbol dari berakhirnya perdagangan budak. Di dalamnya terdapat jendela kaca patri, bangku kayu, serta altar yang berdiri kokoh di lokasi bekas area pencambukan. Benda yang juga memikat adalah Livingstone Cross. Kayu bahan salib ini diambil dari sebuah pohon di daerah yang kini bernama Zambia. Di bawah naungan pohon itulah sang eksplorator, David Livingstone, mengembuskan napas terakhirnya.

bohemian rhapsody
Seorang warga melintas di dekat komplek benteng Arab Fort di Stone Town.

Christ Church Cathedral memiliki menara jangkung, tapi ia bukan struktur tertinggi di Stone Town. Gelar tersebut dipegang oleh Beit el-Ajaib atau “Rumah Ajaib,” istana empat lantai di tepi pantai. Tak satu bangunan pun boleh menyalip tingginya, begitu sultan bertitah dulu. Ketika dikonstruksi pada 1883, Rumah Ajaib ini memang tampak ajaib: memiliki listrik, pasokan air, dan sebuah elevator. Sayangnya, semua “keajaiban” itu gagal menyelamatkannya dari kehancuran pada 1896 dalam sebuah perang yang dikenang sebagai yang tersingkat di dunia. Alkisah, pasukan angkatan laut Inggris mengakhiri makar yang baru dimulai seorang sultan muda, dalam waktu kurang dari 45 menit. Christ Church Cathedral sekarang menampung sebuah museum, serta kamar-kamar lapang dan apak yang dipenuhi artefak dan koridor panjang yang suram.

Saya mengunjungi benteng uzur Arab Fort yang tiap Juli dijadikan wadah sebuah festival film, serta Forodhani Park, taman berlapis rumput tempat orang-orang bersantai layaknya kadal di kaki pohon rindang. Gema azan menjalar melewati atap-atap rumah saat para pedagang mendirikan kios-kios seafood dan menyusun meja berkaki jenjang, lalu menempatkan sejumlah kepiting capit besar dan lembaran daging ikan untuk dipanggang. Di tepi taman, meriam tua masih menodong laut, dan di perairan nun jauh di sana, beberapa kapal pesiar bergoyang dan memantulkan cahaya. Matahari terbenam dan kehidupan di Stone Town melenggang bersama waktu. Saya beranjak, lalu melebur dalam kerumunan di pesisir. Menambah satu lagi pendatang di Stone Town.

Detail
Stone Town

Rute
Dari Jakarta, Anda bisa menggunakan Qatar Airways via Doha (qatarairways.com) atau Emirates via Dubai (emirates.com) menuju Dar Es Salaam, Ibu Kota Tanzania, disambung penerbangan ke Zanzibar selama 20 menit menggunakan Precision Air.

Momen
Cuaca terbaik di Zanzibar berlangsung di musim kemarau, dari Juni hingga Oktober.

Penginapan
Untuk menyelami kehidupan di Stone Town, pesanlah kamar di Emerson Spice (Tharia St.; 255-24/223-2776; emersonspice.com; doubles mulai dari $200), bangunan yang berdiri pada 1836 dan telah direstorasi. Jika ingin lebih dekat dengan pantai dan berjarak dari kota, The Residence Zanzibar (Mchamgamle; 255-24/555-5000; theresidence.com; vila mulai dari $730) layak dipertimbangkan.

Dipublikasikan perdana di DestinAsian Indonesia edisi Maret-April 2013 (“Cawan Labirin”).