Pelajaran dari Dili

Di awal kariernya, fotografer Made Nagi mendambakan penugasan di zona konflik. Di Dili, dia menemukan betapa pekerjaan itu menuntut lebih dari sekadar kemampuan memotret.

Bagi Nagi, pengalaman di Dili juga memberinya pelajaran penting yang berpengaruh dalam kariernya.

Oleh Cristian Rahadiansyah

Di banyak sudut kota, pasukan keamanan PBB bersiaga dan berpatroli. Di sejumlah lapangan, tenda pengungsi bertaburan. Suasananya mencekam. Jam malam diberlakukan. Di dalam gelap, tentara pemberontak bersembunyi dan semua orang hanya bisa menebak kapan mereka akan menyerang.

Itu kondisi Dili pada 2007. Bukan momen yang ideal untuk berkunjung sebenarnya, terkecuali bagi Made Nagi. Fotografer kelahiran Bali ini justru telah lama memendam hasrat bekerja di zona merah. Karena itu, ketika European Pressphoto Agency (EPA) menugaskannya berangkat ke Dili, dia tak pikir panjang untuk menyanggupinya. “Dulu saya beranggapan bertugas di daerah berbahaya itu sesuatu yang keren bagi seorang wartawan foto,” jelasnya.

Kala itu Nagi diminta meliput pemilu presiden pertama di Timor-Leste. Ada banyak peristiwa yang didokumentasikannya, termasuk perayaan Paskah yang berlangsung di Bukit Golgota pada periode minggu tenang. “Dari pelataran gereja, warga berjalan membawa salib ke puncak bukit,” kenangnya.

Bagi Nagi, pengalaman di Dili tak cuma membekas, tapi juga memberinya pelajaran penting yang berpengaruh dalam kariernya. Selama di Dili, dia kerap mengabaikan rasa waswas, lantaran merasa sudah mengenal medan hanya bermodalkan informasi dari internet. “Belakangan saya berpikir itu sebuah kesalahan,” ujarnya. “Kini, tiap kali meliput, saya selalu menempatkan diri untuk tidak sok tahu, jadi mudah beradaptasi di berbagai situasi.”

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi April/Juni 2018 (“Restrospect: Darurat Dili”).

Comments