Olah Kreatif Tenun Flores

Dari Didiet Maulana hingga Oscar Lawalata, sejumlah perancang sukses mengolah tenun jadi busana kontemporer. Oleh Studio Noesa, kain khas Indonesia sekarang diaplikasikan ke beragam produk aksesori, contohnya dompet, tali kamera, hingga passport holder. Annisa Hendrato, Chief Marketing Officer Noesa, menjelaskan proses dan tantangan bisnisnya.

DestinAsian IndonesiaCamera strap merupakan produk pertama Noesa.

Wawancara oleh Flo Warikar

Kisah pendirian Noesa?
Saat berlibur di Desa Watublapi, Nusa Tenggara Timur, pada 2012 silam, saya dan Cendy Mirnaz [salah seorang pendiri Noesa] melihat rangkaian proses pembuatan tenun dengan warna memikat yang belum pernah kami lihat sebelumnya. Berniat memperkenalkan tenun Flores pada khalayak ramai, kami mulai memutuskan untuk mengembangkan bisnis ini bersama salah seorang teman kuliah kami, Shinta Uli.

DestinAsian Indonesia
Kiri-kanan: Annisa Hendrato, Chief Marketing Officer Noesa; proses pewarnaan yang memakan waktu cukup lama. (Foto: Noesa)

Proses awal menjalin hubungan dengan perajin?
Rasa penasaran membuat kami datang langsung ke rumah para perajin tenun. Ketika itu kami diantar oleh orang lokal, David Daniel, ke kampung kelompok perajin tenun Watubo. Kebetulan, waktu datang ke Watublapi, banyak ide langsung muncul dan terealisasi pada 2013. Awalnya hanya ingin branding Watublapi dengan menjual kain-kainnya dengan nama brand yang sama. Produk pertama yang kami jual adalah camera strap, itu pun dari tenun yang sudah kami beli sebelumnya. Melihat permintaan semakin banyak, akhirnya kami berkolaborasi dengan Watublapi untuk menyediakan bahan dasar untuk produk Noesa. Tak hanya itu, kami juga mendirikan homestay bernama Orinila di Watublapi.

DestinAsian Indonesia
Bahan dasar untuk membuat tenun khas Maumere.

Tantangan mengolah tenun?
Berkolaborasi dengan perajin tenun tidak mudah, karena kami juga harus tahu makna kain tenun tersebut. Saat memutuskan untuk menekuni bisnis ini, kami kembali lagi ke Watublapi dan tinggal bersama para perajin selama empat bulan untuk benar-benar memahami cara pembuatan sampai makna motifnya. Banyak motif yang tidak boleh sembarang potong karena di dalamnya terdapat filosofi tertentu. Bahkan, ada beberapa motif yang maknanya hanya boleh diketahui oleh anggota keluarga saja. Proses pewarnaan benang dan menenun membutuhkan waktu yang lama. Satu bulan merupakan waktu tercepat untuk menghasilkan satu lembar kain tenun berwarna biru.

Seluruh warna dibuat dari bahan natural?
Pewarna alami kami pertahankan karena tidak menghasilkan limbah. Biasanya kami menggunakan daun turi untuk warna hijau, kunyit untuk warna kuning, mengkudu untuk warna merah, dan indigo untuk warna biru. Kami bisa menggabungkannya untuk menghasilkan warna lain.

DestinAsian Indonesia
Tiny Zipper Wallet, produk terbaru Noesa yang dirilis bulan ini.

Respons publik?
Di luar ekspektasi. Pada 2015, kami mengadakan acara Plewo Doi di Dia.Lo.Gue [Kemang, Jakarta Selatan] bersama Dana SAM dan Rujak Center for Urban Studies. Waktu itu kami mengadakan workshop dan mendatangkan 22 perajin tenun dari Watublapi untuk ikut berpartisipasi. Sejak saat itu, kami baru menyadari bahwa antusiasme anak muda Jakarta begitu tinggi.

Comments