Negara Yang Belum Diakui Dunia

  • Anak-anak kecil tetap bermain seperti biasa tak terpengaruh konflik politik.

    Anak-anak kecil tetap bermain seperti biasa tak terpengaruh konflik politik.

  • Mendorong troli penuh cabang-cabang kayu yang dipungut di Shushi, kota yang pernah direbut pasukan Armenia pada 1992.

    Mendorong troli penuh cabang-cabang kayu yang dipungut di Shushi, kota yang pernah direbut pasukan Armenia pada 1992.

  • Gayane, pelukis berusia 34 yang masih melajang. Kasus yang sangat jarang di Karabakh.

    Gayane, pelukis berusia 34 yang masih melajang. Kasus yang sangat jarang di Karabakh.

  • Air mancur di alun-alun yang mampet. Meskipun sumber air melimpah, pasokan air menjadi isu utama karena minimnya infrastruktur.

    Air mancur di alun-alun yang mampet. Meskipun sumber air melimpah, pasokan air menjadi isu utama karena minimnya infrastruktur.

  • Bus milik Halo Trust, organisasi internasional yang sudah 10 tahun di Karabakh mencari sisa-sisa ranjau.

    Bus milik Halo Trust, organisasi internasional yang sudah 10 tahun di Karabakh mencari sisa-sisa ranjau.

  • Istana presiden di Stepanakert, Ibu Kota Nagorno-Karabakh.

    Istana presiden di Stepanakert, Ibu Kota Nagorno-Karabakh.

  • Seorang polisi militer dan putranya tengah menanti bus di terminal di Stepanakert.

    Seorang polisi militer dan putranya tengah menanti bus di terminal di Stepanakert.

  • Jurij dan Laura yang dulunya berprofesi sebagai guru. Semasa perang, Jurij harus menggali parit untuk mencapai sekolah, sementara Laura harus menempuh jarak 5 kilometer.

    Jurij dan Laura yang dulunya berprofesi sebagai guru. Semasa perang, Jurij harus menggali parit untuk mencapai sekolah, sementara Laura harus menempuh jarak 5 kilometer.

  • Di Nagorno-Karabakh, setiap pemuda usia 18 hingga 20 tahun harus ikut wajib militer.

    Di Nagorno-Karabakh, setiap pemuda usia 18 hingga 20 tahun harus ikut wajib militer.

  • Sempat menjadi gudang sejata tentara Azerbaijan, Katedral Ghazanchetsots kini menjadi obyek wisata favorit turis.

    Sempat menjadi gudang sejata tentara Azerbaijan, Katedral Ghazanchetsots kini menjadi obyek wisata favorit turis.

  • Menanti bus bergerak di Stepanakert.

    Menanti bus bergerak di Stepanakert.

  • Penari dari Sekolah Tari Nasional tengah berlatih.

    Penari dari Sekolah Tari Nasional tengah berlatih.

  • Atraksi di pelataran biara tua di Gandzasar untuk menarik turis.

    Atraksi di pelataran biara tua di Gandzasar untuk menarik turis.

  • Seorang ahli kandungan di rumah sakit bersalin di Stepanakert.

    Seorang ahli kandungan di rumah sakit bersalin di Stepanakert.

  • Seorang pria di pegunungan di dekat Gandzasar.

    Seorang pria di pegunungan di dekat Gandzasar.

  • Dinding toilet memajang pelat-pelat nomor dari mobil yang dicuri selama perang.

    Dinding toilet memajang pelat-pelat nomor dari mobil yang dicuri selama perang.

  • Balapan keledai, acara tradisional yang digelar di Vank, sisi utara Karabakh.

    Balapan keledai, acara tradisional yang digelar di Vank, sisi utara Karabakh.

  • Seorang gadis asal Prancis menari di sebuah restoran lokal. Indikasi mulai datangnya turis di Nagorno-Karabakh.

    Seorang gadis asal Prancis menari di sebuah restoran lokal. Indikasi mulai datangnya turis di Nagorno-Karabakh.

  • Seorang anak kecil sebelum balapan keledai.

    Seorang anak kecil sebelum balapan keledai.

  • Paspor penduduk tak diakui dunia karena status negaranya. Bila ingin bepergian ke luar negeri, penduduk harus menggunakan paspor dari Armenia.

    Paspor penduduk tak diakui dunia karena status negaranya. Bila ingin bepergian ke luar negeri, penduduk harus menggunakan paspor dari Armenia.

  • Menanti mempelai pria datang.

    Menanti mempelai pria datang.

  • Grigory, bagian dari generasi perang yang kini kerja serabutan.

    Grigory, bagian dari generasi perang yang kini kerja serabutan.

  • Seorang anak kecil di taman bermain di Shushi. Organisasi dari Armenia banyak menggelontorkan dana untuk membangun fasilitas bermain publik.

    Seorang anak kecil di taman bermain di Shushi. Organisasi dari Armenia banyak menggelontorkan dana untuk membangun fasilitas bermain publik.

  • Seorang tentara yang cedera permanen semasa perang.

    Seorang tentara yang cedera permanen semasa perang.

  • Pusat kota Stepanakert, meskipun kondisi politik tak menentu, pembangunan tetap berjalan.

    Pusat kota Stepanakert, meskipun kondisi politik tak menentu, pembangunan tetap berjalan.

  • Sebuah toko yang menjual gaun pengantin dan peralatan pernikahan di pusat kota.

    Sebuah toko yang menjual gaun pengantin dan peralatan pernikahan di pusat kota.

Click image to view full size

Fotografer Francesco Alesi berkunjung ke Nagorno-Karabakh, negara merdeka yang hingga kini belum diakui dunia, guna memotret kehidupan yang merekah di tengah gencatan senjata.

oleh Cristian Rahadiansyah

Apakah layak mengorbankan kedamaian demi mengejar status? Di Nagorno-Karabakh, tak ada jawaban tunggal.

Setelah Uni Soviet runtuh, sejumlah kawasan memereteli tirai besi yang dulu memenjarakan mereka dengan teror dan dogma. Di banyak tempat, tokoh revolusi bermunculan untuk merumuskan identitas baru, menetapkan tapal batas baru, melahirkan negara-negara baru. Nagorno-Karabakh ikut serta dalam gelombang separatis tersebut, tapi nasibnya kini masih terkatung-katung.

Nagorno-Karabakh, sebuah negara tanpa pantai di Kaukasus, mengumandangkan kemerdekaannya pada 1991. Pemerintah republik lalu disusun, paspor dicetak, dan presiden dilantik. Tapi, setelah 23 tahun berlalu, dunia masih enggan mengakuinya. Ibarat memiliki ijazah dari kampus yang tak terdaftar, proklamasi mereka berakhir sebagai naskah keramat. Di abad modern ini, kemerdekaan bukan sekadar pencapaian, tapi juga kesepakatan. Sayangnya, kali ini, ada banyak pihak yang tak sepakat.

Nagorno dalam bahasa Rusia berarti “pegunungan,” sedangkan Karabakh dipetik dari bahasa Persia dan bermakna “kebun hitam.” Tapi penduduk di sana lebih suka memakai nama kuno negara mereka, Artsakh. Tahun lalu, mereka merayakan 200 tahun Pakta Gulistan, di mana Nagorno-Karabakh menjadi kawasan Suku Armenia pertama yang bergabung dengan Kekaisaran Rusia.

Pergeseran garis-garis perbatasan telah merombak konstelasi tersebut. Secara geografis, Nagorno-Karabakh kini berada di dalam rahim Azerbaijan, negara kaya minyak yang berpopulasi mayoritas Muslim. Namun, secara demografis, Nagorno-Karabakh didominasi warga Kristen Armenia, fakta yang memicu ambisi Armenia untuk mencaploknya. Isu agama, suku, dan sejarah memanaskan pertarungan yang awalnya bersifat teritorial. Sekitar 30 ribu nyawa melayang dalam salah satu konflik paling berdarah yang tersisa sejak rontoknya Tembok Berlin dan Uni Soviet.

Francesco Alesi, fotografer asal Roma, bertamu ke negara yang luasnya setara Belitung itu, guna memotret realitas yang terbungkam oleh bisingnya muntahan peluru. “Kendati tidak eksis secara de jure, Nagorno-Karabakh secara de facto adalah sebuah komunitas berisi 140 ribu orang yang lebih peduli dengan hidup keseharian ketimbang memusingkan pengakuan legal atas negara mereka,” ujarnya.

Hingga kini, Nagorno-Karabakh masih terjepit di antara sengitnya argumen politik di meja perundingan. Meski gencatan senjata sudah diteken pada 1994, letupan senapan masih kerap terdengar. Pemerintah Armenia sempat hendak membuka bandara di Nagorno-Karabakh, tapi Azerbaijan meresponsnya dengan ancaman bakal menembak jatuh tiap pesawat yang akan mendarat di sana.

“Reportase saya,” kata Francesco, “mencoba menceritakan kehidupan di sebuah negara yang tidak eksis di mata dunia, sekaligus menunjukkan bagaimana warga di sana, walau harus menanggung konsekuensi perang dan kemiskinan, masih bisa hidup bermartabat.” Masihkah layak menukar kedamaian demi status? Hari ini, bagi penduduk Nagorno-Karabakh, kedamaian telah menjadi mimpi tertinggi dari kemerdekaan—mimpi yang tak layak dikorbankan demi mengejar legitimasi internasional.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Jan/Feb 2014. (“Limbo Kaukasus”)

Share this Article


Comments

Related Posts

9136 Views

Book your hotel

Book your flight