Misteri di Tepi Batanghari

  • Candi Tinggi di kompleks Candi Muarajambi

    Candi Tinggi di kompleks Candi Muarajambi

  • Candi Gumpung tampak dari depan.

    Candi Gumpung tampak dari depan.

  • Puing-puing Candi Koto Mahligai yang dimakan alam.

    Puing-puing Candi Koto Mahligai yang dimakan alam.

  • Cahaya sore menembus pepohonan di kompleks Candi Muarajambi.

    Cahaya sore menembus pepohonan di kompleks Candi Muarajambi.

  • Candi Tinggi diambil dengan teknik fotografi landskap.

    Candi Tinggi diambil dengan teknik fotografi landskap.

  • Candi Gampung dari kejauhan.

    Candi Gampung dari kejauhan.

  • Pohon-pohon tinggi yang mengelilingi situs Candi Muarajambi.

    Pohon-pohon tinggi yang mengelilingi situs Candi Muarajambi.

  • Jalanan sepi menuju kompleks candi.

    Jalanan sepi menuju kompleks candi.

  • Gerbang Candi Gedong II yang rapi.

    Gerbang Candi Gedong II yang rapi.

Click image to view full size

Candi-candi di Muarajambi adalah bagian dari jaringan kultural yang membentang antara Tiongkok dan India. Beragam interpretasi mewarnai sejarahnya.

Oleh Fatris MF
Foto oleh Muhammad Fadli

Dari tepian Batanghari, perahu-perahu terlihat kecil bagai lalat di atas punggung naga. Tongkang-tongkang penambang pasir mengepulkan asap kelabu ke langit sejak fajar bangkit. Sementara di tubir sungai, rumah-rumah panggung berdiri di atas tiang-tiang penyangga dari kayu. Atapnya genting tembikar kusam, senada dengan permukaan Batanghari yang keruh.

Pagi tampaknya tidak dimulai dengan tergesa-gesa di sini. Kami menumpang getek dengan mesin berbahan bakar solar yang bunyinya memekakkan telinga. “Kenapa mesinnya berisik sekali, pak?” tanya saya pada Arif sang nakhoda. “Ha!?” jawabnya. Selalu begitu setiap kali saya bertanya. Mesin getek membuat kami diam dalam angan masing-masing. Setiap kata yang keluar ditelan bulat-bulat oleh deru mesin.

Perahu kecil bermesin tempel merayap pelan mengikuti arus Batanghari, meninggalkan kota Jambi, menuju hilir. Kadang, kami melewati jembatan yang panjang tempat truk-truk dengan bak besar sarat muatan sawit melintas. Sawit telah mengubah Jambi dari kota tertinggal menjadi kota kaya di tengah Sumatera, sebagaimana karet pada periode Hindia Belanda menyulap Kesultanan Jambi yang papa menjadi imperium makmur.

Berjarak 30 kilometer dari kota Jambi, di tanah seluas 20 kilometer persegi, terdapat sebuah kompleks situs bernama Muarajambi, rumah bagi bangunan-bangunan suci yang konon berasal dari abad ketujuh, warisan Kerajaan Melayu Kuno yang pernah jaya. Kompleks ini selama berabad-abad tenggelam ditimbun tanah dan ditutup hutan. Tapi dunia belum melupakannya. Pada abad ke-20, para arkeolog menemukan Muarajambi. Ke sanalah kami meluncur.

Beberapa penambang batu bara berskala kecil beroperasi di tepian Batanghari. Emas hitam itu tak lagi sepopuler di abad ke-19, namun sejumlah orang masih mengekstraknya. Sementara tambang emas dengan mesin pengeruk seadanya juga beberapa kali kami temukan terserak di pesisir sungai. Dari dasar Batanghari, pasir-pasir diangkat, disaring, lalu diperiksa dengan penuh kejelian dan kecemasan. Pada serpihan kemilau di tengah butiran hitam itu, ribuan keluarga menggantungkan hidup, ribuan nyawa menyandarkan harapan.

Masa kejayaan emas juga telah lama berlalu. Sejak abad ke-16, dari muara sungai besar itu hingga nun ratusan kilometer ke arah hulu di pedalaman Minangkabau, penduduk lokal mengeruk logam mulia. Bahkan, kerajaan-kerajaan patah tumbuh dan hilang-berganti di tanah Melayu berdasarkan fluktuasi kejayaan emas. Sumatera memang pulau emas—Swarnadwipa.

Getek yang kami tumpangi merapat tidak sampai sejam kemudian. Mesin tempel yang meraung-raung kini sunyi-senyap. Hutan hujan tropis terkangkang di hadapan. Pohon-pohon tinggi hijau memayungi tanah. Dalam bisu, Candi Tinggi menyambut kami. Bangunan yang terbuat dari batu bata kuning ini dikelilingi pohon-pohon besar yang rampak dan rindang. Candi Tinggi berbentuk persegi empat dengan tiga lapis anak tangga.

Tiga meter ke arah selatan, terdapat bangunan lain yang diperkirakan sebagai pendopo atau aula, ruangan tanpa dinding berukuran 40 meter persegi yang terdiri dari tiga atau empat lapis susunan bata. Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Kota Jambi menyebutkan, di beberapa reruntuhan aula ini, pernah ditemukan benda-benda berbahan emas dan batu mulia. Lagi-lagi emas.

Share this Article


Comments

Related Posts

10578 Views

Book your hotel

Book your flight