Merenda Dunia

Salah stau karya NeSpoon dalam bentuk mural.

Seorang seniman asal Polandia bertekad mempercantik sudut-sudut dunia dengan mengeksplorasi kode estetik yang bersemayam di balik motif renda.

Oleh Suhartina Sindukusumo

Apa yang dilakukannya tidaklah baru. Sudah banyak perupa yang mengolah benda-benda sehari-hari menjadi karya seni. Yang membuat NeSpoon memikat adalah pilihan objeknya.

Renda, kriya ornamental yang lazim memaniskan taplak, kini menginvasi ruang-ruang publik untuk berdialog dengan khalayak. Renda buatannya mempercantik dinding kusam yang terbengkalai, batang-batang kayu yang sekarat, juga aspal yang retak atau lempengan logam yang berkarat.

Metode kerjanya partisipatif. Dia menggandeng seniman lokal untuk mendesain pola dan memilih lokasi. Dimulai dari kampung halamannya, Warsawa, NeSpoon kini telah melebarkan gerakan “rendanisasi” dunia hingga ke lima benua. “Melalui seni, saya berkelana dan menemukan jati diri yang positif, lalu menularkannya kepada orang lain,” jelasnya.

Tapi, kenapa renda? NeSpoon percaya renda adalah benda yang universal, dengan begitu tak akan menghadapi kendala budaya untuk dicerna. Selain itu, dia menganggap renda menyimpan kode estetik yang bermakna luhur. “Dalam tiap renda kita menemukan keselarasan, sejenis tata dan harmoni,” ujarnya. “Bukankah itu yang kita dambakan secara naluriah?”

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Janurai/Februari 2016 (“Petualang Kerawang”).

Comments