Menyimak World Photography Awards

Cheung Lai San asal Hong Kong mengabadikan migrasi bison di Kenya. Foto ini juara satu di kategori National Awards—Hong Kong.

Jika World Press Photo Awards dianalogikan dengan Oscar di jagat fotografi, maka World Photography Awards agaknya layak disejajarkan dengan Golden Globe. World Press Photo fokus pada genre jurnalistik dengan standar yang sangat ketat, sedangkan World Photography Awards menerapkan aturan yang lebih longgar dengan segmen peserta yang lebih beragam. Bagi banyak fotografer amatir, World Photography Awards merupakan wadah yang ideal untuk memupuk prestasi dan reputasi. Ajang tersebut disponsori oleh Sony dan digelar secara anual oleh World Photography Organisation sejak 2007. Tahun ini, panitia menerima sekitar 139 ribu foto kiriman fotografer di 166 negara. Tiap karya dievaluasi oleh dewan juri yang dipimpin W.M. Hunt, seorang kolektor foto terpandang sekaligus profesor di School of Visual Arts, New York.

Dua tahun silam, Hunt sempat menjadi juri World Press Photo. Ada empat kelas yang dipertandingkan, yakni Professional, Open, Student (siswa sekolah fotografi), serta Youth (umur maksimum 19 tahun). Tiap kelas kemudian dipecah lagi menjadi beberapa kategori, contohnya arsitektur, potret, dan lanskap. Seluruh karya para finalis dan pemenang tahun ini sudah dilansir ke publik dan dipajang dalam pameran yang bergulir pada 1-18 Mei di Somerset House, gedung neoklasik bersejarah di jantung London.

Di antara para kontestan, dua nama yang dianggap paling menonjol menerima penghargaan khusus dari dewan juri. Li Chen, fotografer amatir asal Hunan, meraih titel Open Photographer of the Year melalui foto bertajuk “Rain in an Ancient Town,” yang menggambarkan perjuangan warga menembus hujan dengan latar kompleks bangunan uzur. Sementara trofi paling prestisius L’Iris d’Or disabet oleh Sara Naomi Lewkowicz asal New York melalui esai “Shane and Maggie,” yang menuturkan drama kekerasan dalam rumah tangga melalui reportase lapangan yang sangat intim. “Warnanya berani. Karyanya menohok, dramatis, berdampak, mendalam, serta provokatif dengan cara yang meresahkan,” ujar Hunt tentang esai fenomenal Lewkowicz.

Indonesia juga berhasil menempatkan wakilnya di ajang bergengsi ini. Lewat karya “Side of Sunda Kelapa,” Michael Theodric menjadi kampiun di kelas Youth khusus kategori lingkungan. Fotografer berbakat asal Banten ini sepertinya layak dipantau para redaktur foto. Pada 2012, saat usianya 11 tahun, Michael berhasil menduduki peringkat ketiga dalam Children’s Eyes on Earth International Youth Photography Contest. “Mengasah kemampuan,” jelas Michael tentang alasannya berpartisipasi dalam World Photography Awards. “Ini salah satu ajang penghargaan fotografi yang bergengsi. Tidak mudah bersaing dengan ribuan foto berkualitas dari banyak negara.”

Arup Ghosh membawa pulang gelar juara di kategori Open—People berkat foto tentang pengamen cilik di kereta di India ini.

Pendaftaran untuk Sony World Photography Awards 2015 sudah dibuka. Layak dinanti siapa penguasa Somerset House tahun depan. Simak sejumlah foto pemenang di halaman selanjutnya:



Comments

Related Posts

9758 Views

Book your hotel

Book your flight