Menyelami Alam dan Budaya di Wakayama

Wakayama, provinsi lengang di selatan Jepang, menawarkan daya tarik berlimpah, mulai dari rute ziarah legendaris, air terjun tertinggi, hingga kebun-kebun wisata.

Kuil Seiganto-ji yang menjadi salah satu pusat ziarah di Kumano Kodo dengan latar belakang air terjun tertinggi sedunia.

Teks dan foto oleh Yohanes Sandy

Luasnya hampir tujuh kali Jakarta, tapi penduduknya kurang dari satu juta jiwa. Wakayama memang kawasan yang sepi, tapi bukan berarti hampa. Provinsi di selatan Jepang ini telah lama tercantum dalam radar turis sebagai tempat ideal untuk melebur dengan alam serta menikmati banyak hal yang khas Jepang, mulai dari seafood, kuil Shinto, onsen, hingga ryokan. Untuk menyelaminya, road trip adalah metode terbaik.

Di November yang dingin, saya mendarat di Bandara Internasional Kansai, Osaka. Angin menampar-nampar wajah, memaksa saya merapatkan jaket dan bergegas menuju kendaraan. Misi saya hari ini adalah menjauh dari kota dan menuju pedesaan. Misi yang tak sulit diwujudkan di Wakayama.

Belum sampai 30 menit meninggalkan bandara, saya sudah bisa menyaksikan gunung dan sawah. Rumah relatif jarang. Gedung tinggi nyaris nihil. Di Wakayama, ada lebih banyak ladang ketimbang bangunan. Provinsi yang terletak di wilayah Kansai ini memang bukan sentra industri. Alih-alih, ia justru lebih dikenal sebagai produsen utama mikan (jeruk Jepang).

“Kita akan mampir di Stasiun Itakiso,” ujar Kumiko, pemandu saya. Berbeda dari stasiun kebanyakan, Itakiso dikomandani oleh seekor kucing. Syahdan, stasiun ini dulunya rumah seorang warga yang gemar memelihara kucing. Saat rumahnya hendak diambil alih oleh pemerintah, sang pemilik mengajukan satu syarat: kucing-kucing kesayangannya boleh tetap tinggal. Alhasil, hewan piaraan itu dinobatkan menjadi “kepala stasiun.” Tentu saja, dalam kenyataannya mereka hanya menghabiskan waktu di kandang dan menjadi tontonan turis.

Fasad Stasiun Kishi yang mirip dengan bentuk kepala kucing.
Kucing primadona turis di Stasiun Itakiso.

Kereta di sini cukup berbeda dari kereta Jepang umumnya. Pihak manajemen, Wakayama Electric Railway, mengaplikasikan tiga tema desain khusus: Ichigo (stroberi), Omocha (mainan), serta Tama (kucing). Masing-masing tubuh kereta dilukis sesuai tema tersebut. Pernak-pernik lucu juga disematkan di interiornya, membuatnya lebih mirip kereta-kereta wisata di taman rekreasi. Kereta Omocha misalnya, dijejali lemari yang memajang beragam karakter buatan Jepang, mulai dari Doraemon hingga Gundam. Seluruh kereta berdesain ceria ini melayani jalur Kishigawa dengan pemberhentian akhir Stasiun Kishi yang bentuknya mirip kepala kucing.

Selain buah-buahan, Wakayama menyandarkan hidupnya pada sektor perikanan. Bisnis ini didukung oleh posisi strategis Wakayama di mulut Teluk Osaka. Dan layaknya kawasan perikanan, pasar seafood mudah ditemukan, salah satunya Kuroshio di Marina City. Seperti Pasar Tsukiji di Tokyo, Kuroshio tak cuma menjadi arena transaksi hasil laut, tapi juga objek wisata. Turis berdatangan untuk menyaksikan proses bongkar muat, menyimak alotnya negosiasi jual beli, serta menyelami geliat hidup kaum nelayan. >>

Comments