Menyelamatkan Tradisi Kuno Mentawai

Rajah tubuh, berburu dengan busur, menetap di uma, menyantap sagu. Di tengah metamorfosis Mentawai menjadi destinasi selancar internasional, warga suku pedalaman berjuang mempertahankan tradisi yang membuat mereka dulu melegenda di kalangan operator tur Belanda.

Aman Lepon berburu di tengah belantara.

Pulau Siberut memiliki luas 4.480 kilometer persegi, tujuh kali luas Jakarta. Ia merupakan yang terbesar di antara tiga pulau tetangga dan puluhan pulau lain dalam gugusan Mentawai. Siberut adalah juga satu-satunya pulau di mana hutan masih tersisa di Mentawai. Ombak yang tinggi, badai dan angin kencang, hingga arus yang tak menentu kerap membuatnya terisolasi walau hanya terpisah jarak 150 kilometer dari Padang.

Orang -orang Eropa di masa lalu menyebutnya Poggies. Mereka datang ke kepulauan ini di pertengahan abad ke-18 dengan tujuan berdagang. Di sini tumbuh pala panjang, kayu merbau, juga sagu. Belanda ingin mendirikan koloni di pulau-pulau yang kebanyakan tidak berpenghuni, namun rencananya gagal karena hujan yang turun terus-menerus dan malaria yang mulai mewabah.

Dalam The History of Sumatra, William Marsden menceritakan dengan tergesa-gesa tentang keadaan pulau-pulau yang berjejer di pantai barat Sumatera itu. Tentang orang-orangnya yang berkulit cokelat muda, bersenjatakan busur dan panah yang terbuat dari bambu sementara ujungnya terbuat dari perunggu.

Agama mereka menyerupai agama orang Batak. Tetapi cara mereka menguburkan mayat menyerupai praktik orang Pasifik. Jenazah diletakkan di atas panggung, ditutupi daun,  dibiarkan hancur dengan sendirinya.

Kiri-kanan: Gadis lokal di Pulau Siberut memperlihatkan aksesori tradisional berupa rangkaian bunga dan daun; kehidupan di bawah dermaga di Pulau Simakakang.

Pria Eropa lain, John Christie, pada abad ke-19 melakukan beberapa kunjungan ke Kepulauan Mentawai. Dalam catatannya, gugusan ini disebut Mintaon. Dia datang untuk kepentingan ekspor kayu. Barangkali, sejak saat itu, kepulauan ini menjadi rebutan investor, pemerintah, LSM, dan masyarakat. Sejarah eksploitasi hutan Mentawai adalah sejarah yang tidak pendek. Belanda melakukannya, lalu pemerintah Republik. Di pengujung 1945, pemerintah mencoba melancarkan program relokasi penduduk di Siberut, namun hasilnya jauh dari sukses. Pada 1975, warga lokal yang kerap dicap primitif dikelompokkan dalam sebuah perkampungan baru. Orang-orang Mentawai ditekan agar sudi meninggalkan uma. Tak berapa lama, pembalakan hutan merajalela. Kayu-kayu diangkut dengan kapal-kapal besar untuk memenuhi kebutuhan pabrik kertas dan tripleks di berbagai daerah. Di selatan Padang, sebuah pabrik kayu lapis pernah maju bermodalkan pasokan dari Mentawai. Ketika kayu di hutan menipis, pabrik itu gulung tikar beberapa tahun silam.

Program relokasi dan perkembangan teknologi membuat uma tak memiliki tempat lagi di tanah dan hati orang Mentawai.Hanya sebagian kecil bangunan yang masih bertahan. Hal inimengakibatkan kebudayaan lokal terlihat samar.

Dalam cucuran keringat, kedua sikerei, Aman Lepon dan Aman Lau’lau’, terus menari. Tarian itu dinamakan Turuk Bilou, tarian dari monyet hitam yang berhabitat di hutan Siberut. Hutan yang pada 1981 ditetapkan UNESCO sebagai cagar biosfer. Hutan yang diperebutkan oleh berbagai pihak.

Kiri-kanan: Tengkorak monyet digantung berbaris layaknya pajangan di dalam uma; Aman Lepon mementaskan Tari Turuk Laggai.

Di Taman Nasional Siberut, 60 persen mamalia diberi status endemis. Statistik yang membuat pulau yang berada di kawasan Cincin Api ini disejajarkan dengan Madagaskar dalam hal populasi primata endemisnya. Siamang kerdil bilou dan spesies langka monyet hitam-kuning yang lazim disebut simpai Mentawai oleh penduduk, merupakan sebagian kecil spesies primata yang menampilkan karakteristik primitif dan memikat beberapa peneliti evolusi. Kepulauan Mentawai diperkirakan patah dari Sumatera 500 ribu tahun silam. Pemisahan yang mengakibatkan flora dan faunanya begitu unik dan distingtif.

Lepon memandang tenang ke arah kakek dan ayahnya yang sedang menari. Saya melihat mereka dengan takjub. Menjadi sikerei memang tidak mudah. Dunia pariwisata menjadikan mereka obyek tontonan. Di satu sisi, kepentingan pariwisata meminta mereka untuk tetap lestari di hutan, hidup purba dengan berburu dan mengayak sagu. Namun, di sisi yang lain, mereka berada dalam gejolak masa transisi ke modernisasi. Modernitas mengajarkan tentang hak—hak untuk mengakses berpendidikan, untuk menikmati makanan higienis, untuk menatap masa depan yang dianggap lebih maju, termasuk hak untuk menjadi guru, sebagaimana yang dicita-citakan Lepon.

Comments