Menyambut Dewa Gunung

Warga Dusun Geriana Kauh menyusuri jalan menuju Sungai Sabuh yang mengalir di kaki Gunung Agung, sekitar 6,5 kilometer dari kawah.

Makna spiritual erupsi Gunung Agung bagi masyarakat Hindu Bali.

Oleh Anggara Mahendra

Berjarak hanya sembilan kilometer dari puncak Gunung Agung, Dusun Geriana Kauh tercantum dalam kategori Kawasan Rawan Bencana (KRB) II. Beberapa ruas jalan di sini telah jebol akibat terjangan lahar dingin. Banyak warganya direlokasi. Mereka yang berstamina kuat kadang mudik ke dusun pada pagi hari demi sekadar menengok rumahnya, kemudian kembali ke pengungsian sore harinya.

Letusan gunung kerap dianggap semata sebagai mala atau nasib sial. Tapi warga Hindu Bali memiliki persepsi yang berbeda dalam melihatnya. Bagi mereka, duka, sebagaimana suka, dipandang mengandung makna spiritual. Dan layaknya peristiwa yang bermakna spiritual, ritual khusus pun digelar guna meresponsnya.

Kristina menggunakan air dari Sungai Sabuh untuk membersihkan jiwa dan raga secara spiritual.

Batu besar yang dipercaya sebagai tempat pemujaan Dewa Gunung yang bergelar Ida Bhatara Lingsir Giri Tohlangkir.

Ketika Gunung Agung pertama kali meletus pada 21 November 2017, warga Geriana Kauh menanggap upacara untuk menghormati lahar dingin. Mereka percaya, muntahan dari perut gunung ini merupakan bagian dari dewa yang bertakhta di Gunung Agung. Prosesi upacara ini cukup sederhana. Warga melayangkan canang (sesaji) dan menyulut dupa, sementara pemangku (pendeta) merapal mantra kepada Dewa Gunung yang bergelar Ida Bhatara Lingsir Giri Tohlangkir.

Pada 18 Desember 2017, bertepatan dengan Tilem Sasih Kanem (“Bulan Mati” pada bulan keenam dalam kalender Bali), warga menggelar upacara kedua. Lokasinya kali ini di sekitar sebongkah batu besar yang merupakan tempat pemujaan Dewa Gunung. Batu ini masuk zona yang lebih berbahaya, KRB III. Jaraknya hanya 6,5 kilometer dari kawah Gunung Agung.

Persembahan dalam upacara Mendak Tirtha Ida Bhatara atau penyambutan Dewa Gunung yang hadir dalam wujud lahar dingin.

Warga bersimpuh di depan seorang pemangku dan sebongkah batu yang diyakini mengandung dimensi spiritual.

Dalam upacara tahap kedua, warga menyusuri tepian Sungai Sabuh, meletakkan canang dan dupa, lalu membasuh tubuh dan meminum air sungai. Di dekat batu besar, lima pemangku mengucapkan mantra dengan iringan gamelan. Seekor ayam hitam kemudian disembelih sebagai simbol persembahan kepada Bhuta Kala atau penghuni alam bawah. “Apa pun yang datang dan menjadi bencana besar mengakibatkan dunia tidak seimbang, karena itu kami menghaturkan sesajen samblehan untuk Bhuta Kala”, ujar Nyoman Bratha, warga Geriana Kauh.

Pembagian benang Tri Datu yang terdiri dari warna merah (lambang Dewa Brahma), putih (Dewa Siwa), dan hitam (Dewa Wisnu).

Suara gamelan mengiringi upacara Mendak Tirtha Ida Bhatara di tepi Sungai Sabuh.

Berada di tempat yang mengancam nyawa, warga tetap khidmat menjalankan upacara. Saat banyak orang memilih menjauhi amukan alam, mereka justru mendekati pusat bencana, kemudian bersimpuh dan berupaya berkomunikasi dengan Dewa Gunung. Jika kita memandang erupsi sebagai petaka, laku spiritual itu tentu bisa dicap sebagai kenekatan. Tapi agama kerap punya cara pandang yang kadang hanya bisa dipahami melalui iman, bukan pikiran. “Kita percaya penuh apa yang dilimpahruahkan lewat lubang kepundan Gunung Agung adalah anugerah. Kita bersyukur bahwa Beliau bisa melintasi kita yang dianggap seperti memberi berkah. Kita justru menyesal jika Beliau tidak dapat mampir ke Geriana Kauh,” ujar Wayan Bratha, Kepala Dusun Geriana Kauh.

 

Anggara Mahendra
Fotografer lepas asal Bali, pernah berkontribusi antara lain untuk The Jakarta Post, Le Monde, Reuters, dan Forbes Indonesia. Sejumlah pelatihan fotografi pernah diikutinya, antara lain Permata Photojournalist Grant 2014 dan Foundry Photojournalism Workshops 2015. anggaramahendra.com.



Comments

Related Posts

2393 Views

Book your hotel

Book your flight