Menjelajah Gua Terbesar Sejagat

Awalnya tersembunyi di belantara di jantung Vietnam, beberapa gua raksasa kini mulai menampakkan sosoknya pada dunia.

Kami menghampiri Gua Hang Ken, lalu berenang menyusuri sungai di perutnya. Kami terus merangsek, terus menembus gelap. Bagaikan maling, saya meraba mengandalkan senter seraya menyoroti pahatan-pahatan unik yang diukir oleh air. Tiba di ujung gua, saya menemukan formasi bebatuan yang sangat memukau: pilar setinggi gedung enam lantai dengan permukaan yang menyerupai Braille.

Mungkin berkat tidur pulas semalaman di hammock, atau mungkin karena keindahan Gua Hang Ken masih membayangi kepala, pagi ini saya terbangun dengan perasaan bahagia, dengan tubuh yang tak sabar menanti petualangan di hari kedua.

Di Gua Tu Lan, kami mengenakan harness dan menuruni tebing setinggi 15 meter menuju sungai. Selanjutnya, kami menaiki rakit dan mendayung menuju air terjun di rahim gua.

Senter dipadamkan dan kami mendengarkan deru air dalam kegelapan yang pekat. Kami lalu berbalik arah dan mendayung ke arah mulut gua. Seperti adegan di film, matahari menyinari stalaktit dan membentuk siluet dengan latar belantara berkabut.

Di pemberhentian berikutnya, rombongan menikmati makan siang ala DIY: melintang sendiri lumpia berisi jamur hutan. Selanjutnya, kami menembus gunung melalui Gua Hang Kim, singgah di sebuah danau untuk berenang, lalu duduk-duduk malas di kaki jeram dan membiarkan tubuh dipijat oleh siraman air.

Perjalanan diteruskan menuju Gua Hung Ton yang dipenuhi stalagmit raksasa hingga menyerupai kulit landak. Jungleman Ken berulang kali mengingatkan trip hari ketiga ini bakal lebih memukau: mendaki 13 kilometer menuju bumi perkemahan yang dilengkapi “kolam renang terindah” di dekat “gua terindah.”

Mengenang panorama dari dua hari terakhir, saya tak lagi meragukan sesumbarnya. Kami mendaki dengan santai, berpindah dari satu etape ke etape berikutnya dengan transit di tiap sungai dan danau di sepanjang jalan, layaknya manusia yang meniru rutinitas kerbau: berenang, berjalan, makan; berenang, berjalan, makan.

Di etape berikutnya, kami menikmati sesi barbeku yang disiapkan oleh porter. Menu malam ini: daging babi, sapi, ayam, tahu goreng, telur rebus dalam saus tomat segar; sop berisi telur rebus dan sayuran; tumis kangkung dan kubis; serta arak lokal. Menikmati sajian yang kaya endorfin itu, saya sebenarnya sudah merasa terpuaskan. Tapi para porter berhasil membuat atmosfer lebih menyenangkan dengan menyanyikan lagu-lagu rakyat Vietnam.

Salah seorang porter memimpin kor dengan energik hingga membuat saya terpaku. Tiba-tiba, semua porter berpaling ke arah peserta tur dan meminta kami menyumbangkan lagu. Rombongan saya terdiri dari satu orang Australia, satu Jerman, enam Amerika, dan tiga Inggris. Tidak mudah menentukan lagu yang dipahami bersama. Pilihan akhirnya jatuh pada nomor-nomor populer dari zaman kaset, sebut saja Country Roads, Coming ‘Round the Mountain, serta Hokey Pokey.

Peserta tur melewati jembatan kayu yang membentang di dekat kantor Oxalis.

Pada 1994, musim hujan memaksa Deb mengurungkan salah satu ekspedisinya. Gua dilanda banjir. Seorang pria lalu mengajaknya masuk lewat pintu alternatif—Gua Hang Tien. Gua inilah yang menjadi target terakhir dalam trip saya. Jungleman Ken lagi-lagi benar, Hang Tien adalah gua yang cantik. Usianya ditaksir sekitar 550 juta tahun. Sosoknya seperti istana bagi para dewa.

Kami menjangkau mulut gua dengan melewati bebatuan yang seolah terus membesar. Di teras liang, matahari menyinari stalaktit yang bergelantungan sekitar 30 lantai di atas kepala, sementara di kakinya terdapat kolam-kolam berbentuk kelopak bunga. Kami menyusuri bilik-bilik di perut bumi, menembus gulita, melakoni apa saja yang lazim dilakoni seorang caver: duduk di interior cemani, menyimak suara kepakan kelelawar, melantunkan gema, mengagumi pahatan alam.

Ketika saya berpikir petualangan sudah rampung, Deb meminta kami menjajal jalur sulit di belakang gua. Seperti tengah mengikuti sirkus akrobat, kami menjaga keseimbangan di atas jalur setipis tambang, memasuki aula berisi air, menyelinap di celah sempit, hingga akhirnya mendarat di sebuah danau hijau.

Kata Deb, tak seorang pun pernah melampaui danau itu. Dibutuhkan peralatan selam untuk melakukannya. Untuk sementara, Hang Tien tetap menjadi gua yang belum tuntas dipetakan. Dan mungkin lebih baik dibiarkan seperti itu. Sisi tergelap dunia lebih memikat jika dibiarkan dalam kegelapan.

Detail

Rute
Phong Nha, titik awal pendakian bersama operator Oxalis, berjarak sekitar satu jam dari Dong Hoi, Provinsi Quang Binh. Penerbangan dari Ho Chi Minh City ke Dong Hoi dilayani oleh Jetstar (jetstar.com) dan Vietnam Airlines (vietnamairlines.com). Kedua maskapai tersebut juga melayani penerbangan ke Ho Chi Minh City dari Jakarta.

Informasi
Gua-gua raksasa Vietnam tersebar di area Taman Nasional Phong Nha-Ke Bang. Operator tur Oxalis (oxalis.com.vn) menawarkan beragam paket ekspedisi, misalnya Adventure Tours (mulai dari Rp1.200.000 per orang untuk tur sehari ke Gua Tu Lan) dan Expedition Tours (mulai dari Rp40.000.000 per orang untuk tur ke Gua Son Doong). Penting diingat, beberapa paket tur tidak tersedia di musim hujan yang berlangsung dari September hingga Januari. Datanglah di April untuk cuaca terbaik.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Januari/Februari 2016 (“Liang Yang Lekang”).

Comments