Menjelajah Gua Terbesar Sejagat

Sungai mengalir di perut Hang Ken, gua yang ditemukan oleh Martin Holroyd asal Inggris.

Awalnya tersembunyi di belantara di jantung Vietnam, beberapa gua raksasa kini mulai menampakkan sosoknya pada dunia.

Oleh Gabrielle Lipton
Foto oleh Ryan Deboodt

Gua adalah objek wisata alam yang paling saya remehkan. Saya pernah menyelam jauh demi mencari karang yang sehat, rela menyeret kaki ke puncak gunung demi menyaksikan mentari pagi, sudi membiarkan tubuh menggigil demi menyaksikan gletser. Tapi saya belum pernah sekalipun memasuki gua. Kini, sikap tak acuh saya resmi hilang. Saya berhasil menemukan kenikmatan di sisi tergelap dunia.

Kenikmatan itu saya rasakan saat melawat ke Vietnam, persisnya ke Taman Nasional Phong Nha–Ke Bang di Provinsi Quang Binh. Di sinilah, pada 2009, sekelompok penjelajah Inggris berhasil menjadi tim pertama yang memasuki Son Doong, gua terbesar sejagat.

Tak lama berselang, Chau Nguyen, pria asli Phong Nha, mendirikan Oxalis, operator tur yang merangkap jagawana bagi kawasan ini. Oxalis mengedukasi warga perihal prinsip-prinsip konservasi, juga mendorong pemerintah setempat untuk mengesahkan regulasi perlindungan hutan dan gua. Gerakan mereka menuai banyak simpati. Kini, sekitar 200 orang mengantre untuk bisa bekerja sebagai pemandu, koki, atau porter bagi Oxalis. Dan operator ini punya banyak lowongan untuk menampung mereka, seiring melambungnya pamor Vietnam di kalangan caver.

Paket tur dari Oxalis beragam, mulai dari satu hingga lima hari. Karena tur ke Gua Son Doong sudah dipesan banyak orang, saya pun memilih Gua Tu Lan. Tripnya empat hari, mencakup trekking 35 kilometer serta blasak-blusuk enam gua.

Perjalanan dimulai dengan menjelajahi padang kering dan menonton kerbau-kerbau pemalas yang berendam di Sungai Rao Nan. Sungai penuh cabang inilah yang selama jutaan tahun mengukir pegunungan kapur dan membentuk lorong-lorong Tu Lan.

Salah satu kenikmatan berada di alam liar adalah—meminjam kata-kata novelis Joan Didon—“perubahan berlangsung instan.” Sesaat setelah kami mencapai bukit pertama, medan ekstrem langsung menghadang. Jalan yang tadinya datar berubah menjadi tanjakan curam. Kami memanjat dan merangkak seraya menghindari daun-daun hijau kekuningan yang rentan memicu gatal selama lima hari.

Aula megah di interior Hang Tien, gua raksasa yang diperkirakan terbentuk 550 juta tahun silam.

Saat kedua paha saya tengah mengerang kelelahan, jalan perlahan terbuka. Pohon-pohon kian berjarak dan sebuah lubang besar pun muncul di hadapan. Dipadati oleh stalagmit, gua ini bisa dengan mudah dinobatkan sebagai aset wisata andalan sebuah negara.

Tapi, bagi kami, ia sejatinya hanya sebuah jalan pintas untuk menjangkau Gua Tu Lan. Pemandu saya adalah pemuda lokal yang menjuluki dirinya sendiri “Jungleman Ken.” Dia berjanji, pemandangan yang lebih menawan sudah menanti di perkemahan. Dia bahkan menyebutnya “bumi perkemahan tercantik sejagat!”

Selang satu jam, usai melompat-lompat di antara batu dan akar, kami tiba di area perkemahan. Awan mendung mulai berkerumun. Untungnya, porter kami sudah kelar merangkai terpal, ruang makan, serta toilet kompos berdinding bambu. Semuanya ditata di bantaran sungai. Di kejauhan, sebuah lorong hitam menumpahkan air terjun menuju laguna bertingkat dua. Jungleman Ken tidak berbohong.

Ini memang bumi perkemahan tercantik. Martin Holroyd, salah seorang turis di rombongan saya, adalah caver gaek asal Inggris sekaligus kawan lama Deb Limbert, penemu gua fenomenal Son Doong. Sejak 1997, Martin sudah beberapa kali datang ke kawasan ini guna melacak gua-gua baru, dan Gua Hang Ken adalah salah satu temuannya.



Comments

Related Posts

6565 Views

Book your hotel

Book your flight