Menikmati Pesona Seni di Waiheke

Waiheke dilihat dari udara.

Wine dan pantai masih menjadi magnet utama Waiheke, tapi seni kini giat mencuri perhatian.

Oleh Cristian Rahadiansyah
Foto oleh Rony Zakaria

Waiheke dilihat dari udara.

Waiheke: seonggok pulau, serumpun komunitas, setumpuk galeri yang mengetuk imajinasi. Di pulau ini, 26 tahun silam, Kazu Nakagawa mendarat. Lalu tertambat. Kemudian terperangkap. Perangkap yang tak hendak dilepaskannya. Usai bertahun-tahun berkelana, perupa asal Tokyo itu akhirnya menemukan wadah yang membuat kreativitasnya mengalir deras. “Saya tidak pernah memilih Waiheke,” katanya. “Pertama tiba di sini, saya langsung tersedot oleh pesonanya dan sejak itu tak ingin beranjak.”

Saya menemuinya di depan sebuah perpustakaan umum. Pria gondrong itu sedang menggarap instalasi besar berbentuk ukiran kayu yang memberi efek ilusi optikal: rangkaian 49 huruf yang timbul-tenggelam mengikuti sudut cahaya. Berikut bunyinya: “Lots of Rain, Lots of Sun, Lots ofWind, Lots of Day, Lots of Night.”

Melalui karyanya itu, Nakagawa hendak menggambarkan Waiheke. “Di Tokyo ada hujan, tapi kita tak benar-benar merasakannya. Di sana juga ada sinar mentari, tapi kita tak benar-benar merasakannya. Di sini, kita merasakan itu semua.” Waiheke adalah satu dari sekitar 30 pulau di Teluk Hauraki, perairan di sisi timur North Island, Selandia Baru. Jarak Waiheke dari Kota Auckland hanya 19 kilometer, tapi keduanya seperti berasal dari galaksi yang berbeda. Waiheke dihuni hanya 8.000 manusia (Auckland 1,4 juta).

Turis dan warga membaur menikmati seni dan pemandangan laut.

Di sini tak ada bungy jumping, kemacetan, juga hotel bermerek internasional. Atraksinya yang paling “liar” bukanlah bar underground, melainkan nude beach.  Teluk Hauraki bagi warga Auckland mirip Kepulauan Seribu bagi penduduk Jakarta. Ke sanalah kaum urban melarikan diri dari keriuhan dan kemacetan. Tapi fenomena itu baru menggejala dalam 20 tahun terakhir. Sebelumnya, pulau-pulau di teluk ini ditinggali warga Maori.

Penjajah Eropa meliriknya pada abad ke-18 usai tergoda oleh kayu-kayu di sana. Setelah hutan menipis, barulah Teluk Hauraki bersalin peran menjadi destinasi liburan. Puncaknya terjadi saat layanan feri cepat diperkenalkan pada 1987. Hari ini, saya tidak datang dengan kapal feri, melainkan pesawat amfibi. Steve, pilot operator Auckland Seaplanes, membawa saya melayang di atas teluk yang terhampar menawan. Pulau-pulau bertaburan seperti noda di laut biru. “Feri memiliki rute tetap, tapi kami bisa melayani tur hingga pulau-pulau terjauh,” kata Steve berpromosi. >>

Comments