Mengenal Seni Bela Diri Khas Kamboja

Dibandingkan zaman dulu, kini lebih mudah bagi petarung bokator untuk mengeruk uang dan kejayaan.

Sempat diberangus oleh rezim Khmer Merah, seni tarung mematikan bokator kembali mengaum di tanah Kamboja. Berencana tampil di SEA Games 2023.

Oleh Denise Hruby
Foto oleh Hannah Reyes

Kiri-kanan: Seorang petarung bokator tengah mempersiapkan diri; alih-alih menggunakan hand wrapper seperti muay Thai, petarung bokator membungkus tangannya dengan tali tambang.

Jauh sebelum Kekaisaran Khmer menguasai hampir seantero Indocina, para kesatria Kamboja sudah menekuni seni tarung maut yang mengombinasikan teknik tinju, siku, dan lutut. Mereka mengasah keahlian selama beberapa dekade, kadang hingga akhir hayat. Dibekali kemampuan membunuh cukup dengan sekepal bogem, para kesatria ini jelas disegani. Saat mereka berkeliaran, para musuh akan saling berbisik tentang cabang bela diri mereka yang sangat mematikan—bokator.

Di masa lalu, bokator—secara harfiah berarti “menghajar singa”—menyebar dan diwariskan dari mulut ke mulut. Nyaris punah di masa rezim brutal Khmer Merah, seni bela diri elusif ini kini tengah bersinar. Para kesatria di masa silam mungkin tak pernah membayangkan jurus-jurus ofensif yang mereka tempa bakal memasuki dunia gemerlap ajang bela diri campuran: dilombakan di atas panggung glamor yang menjanjikan kekayaan bagi sang juara, ditonton oleh jutaan pasang mata di depan layar kaca. Tapi, sebagai cabang olahraga profesional, bokator sejatinya masih jauh dari menara gading.

Kiri-kanan: Karena minimnya pertandingan resmi, sejumlah organisasi menggelar pertarungan di pasar malam; dua orang petarung bokator tengah pemanasan sebelum pertandingan.

Di kancah internasional, pengakuan dunia baru sayup-sayup terdengar. Masih banyak pekerjaan rumah yang mesti dituntaskan agar bokator berdiri sama tinggi dengan seni bela diri Asia Tenggara lainnya seperti silat dan muay Thai. Tapi, setidaknya di negeri asalnya, angin segar mulai berembus. Sasana terus bermunculan. Para kesatria bokator abad ke-21 juga punya komitmen untuk membawa keterampilan leluhurnya ke jalur yang layak.

Salah seorang petarung Kamboja pertama yang berhasil menembus panggung dunia adalah Tharoth Sam. Dengan mengusung nama panggung “Little Frog,” gadis energik berusia 24 tahun ini berpartisipasi dalam beberapa laga yang digelar One FC, salah satu promotor ternama khusus turnamen ajang bela diri campuran di Asia.

Comments