Mendaki Gunung Tertinggi di Daratan Korsel

Atap aula Kuil Silsangsa yang didekap pepohonan rimbun.
Atap aula Kuil Silsangsa yang didekap pepohonan rimbun.

Sebuah sirkuit trekking di kaki perbukitan Taman Nasional Jirisan membius para petualang dengan panorama persawahan, warga desa yang ramah, serta aneka makanan berbahan segar. Semuanya tersaji dengan latar gunung tertinggi kedua di Korea Selatan.

Oleh Jonathan Hopfner
Foto oleh Craig C. Lewis

Di negara yang ditumbuhi gunung ini, beberapa gunung tampil mencolok dan mengendap di benak. Bertahun-tahun menetap dan menjelajahi Korea Selatan, saya pernah mendaki banyak puncak yang menatap perbatasan Korea Utara, memanjat kubah vulkanis Pulau Jeju, dan mengarungi lereng rindang di interior semenanjung negeri.

Tapi entah mengapa saya selalu menghindari Jirisan, gunung tertinggi di daratan Korea Selatan (Hallasan, gunung tertinggi di seantero Korea, terletak di Jeju). Jirisan dicintai oleh kaum petualang berkat panoramanya yang anggun sekaligus galak, juga berkat rutenya yang mengetes batas stamina. Jirisan, satu-satunya kawasan yang dihuni beruang asli negara ini, memang menyuguhkan tantangan yang tak terpermanai.

Kiri-kanan: Paviliun rindang di jembatan Kuil Cheoneunsa; Para biksu mengunjungi Kuil Cheoneunsa.

Jirisan memang belum saya taklukkan, tapi saya setidaknya bisa berada selangkah lebih dekat darinya. Hari ini, saya meniti Jirisan Dulle-gil, rute jalan kaki sepanjang 300 kilometer yang baru saja diresmikan. Rute ini melingkari kaki gunung, bergulir lembut di kawasan pedesaan. Suguhannya antara lain: pemandangan memukau, desa-desa kuno, dan kuliner lezat. Saya datang dengan kereta cepat dari Seoul, meluncur ke Kota Namwon di selatan. Lawatan ke Korea selalu menyenangkan, terutama di musim gugur, momen di mana—mengutip kata-kata warga lokal—“langit menjulang tinggi dan kuda-kuda menggemuk.” Pemandangan di balik jendela seolah mempercantik ungkapan itu. Lanskap abu-abu Seoul berganti menjadi langit biru dan sawah mengilap dalam warna emas.

Berjarak kurang dari tiga jam dengan kereta api dari Seoul, Namwon adalah salah satu dari beberapa gerbang untuk menyambangi Taman Nasional Jirisan—suaka seluas 472 kilometer persegi yang merentang di tiga provinsi: North Jeolla, South Jeolla, and South Gyeongsang. Area konservasi ini diresmikan pada 1967, sebuah keputusan langka dari diktator Korea yang terobsesi pada pembangunan—Park Chung-hee. Jirisan juga merupakan titik paling selatan dari rangkaian agung Baekdudaegan (White Head, Great Ridge), rantai pegunungan yang membentang hingga perbatasan Korea Utara dan Cina.

Jangan berharap alam liar akan langsung menyambut begitu pintu kereta dibuka, sebab yang tersaji pertama adalah lanskap Kota Namwon yang menjemukan. Saya menemui Craig, fotografer yang berbasis di Hong Kong, lalu menaiki taksi. Di menit-menit awal, kami menikmati beberapa kali teriakan klakson dan bundaran yang ramai, lalu menyusuri rute timur menuju distrik rural Sannae (artinya “di dalam gunung”).

Di kejauhan terlihat bukit-bukit yang diselimuti pepohonan lebat. Selemparan batu dari balai kota yang terlihat mengantuk, terdapat kompleks perumahan yang sunyi. Di sinilah untuk pertama kalinya kami mencicipi keramahan lokal. Di sebuah minbak (guesthouse) bernama puitis Persimmons Flower on May, seorang wanita berlari menyambut kami, sibuk mengurus tas kami, lalu segera menawarkan makanan dan minuman. Setelah yakin tamunya tidak di ambang kelaparan, Cho Hoe-eun mengantar kami melalui gerbang kayu kokoh, menuju rumah berusia 80 tahun yang mendekap sebuah halaman dan taman yang berantakan. Dinding rumah dibuat dari bahan hwangto yang memang lazim dipakai di rumah-rumah tua khas Korea. Atapnya ditopang kayu kasar. Interiornya diramaikan aksen bunga dan aneka motif. Usai melewati pintu geser, terdapat sebuah kamar mungil. Gulungan kasur lalu dibuka. Malam ini, kami akan tidur di atas lantai yang dihangatkan oleh tungku kayu.

Kiri-kanan: Aula doa di kaki Kuil Silsangsa; panorama di tepi Desa Dangdong.

Penginapan ini nyaman, sederhana, dan sedikit berantakan. Dengan kata lain: sempurna. Cho bukan sekadar pengusaha guesthouse. Mantan warga Seoul yang jenuh dengan kehidupan megapolitan ini sudah tiga tahun mengelola Persimmons Flower. Di kurun itu pula dia ikut menciptakan beberapa etape dari total 15 etape rute Dulle-gil. Katanya, warga desa di sepanjang sirkuit menyambut baik kedatangan turis, tapi mereka masih khawatir orang-orang asing bakal menerobos kebun dan mencuri hasil panen.

Cho juga mengakui, pariwisata mulai mengubah daerah yang hingga kini tergolong paling konservatif di Korea ini. Beberapa rumah sepuh dijadikan penginapan dan restoran; jalan-jalan yang tadinya senyap kian berdenyut berkat aktivitas komersial; dan daerah tetangga Sancheong County bakal segera melansir kereta gantung guna mengangkut lebih banyak turis ke hulu Jirisan. “Kami berusaha meyakinkan orang-orang di sepanjang rute Dulle-gil untuk mempertahankan panorama asli. Tapi, secara alami, uang akan mendorong mereka untuk membangun sesuatu yang lebih besar,” ujar Cho cemas. Meski begitu, kami hanya melihat segelintir perubahan saat menjelajahi daerah Sannae. Kami justru disuguhi jalur-jalur berliku dan rumah-rumah mungil yang berdiri di antara barisan kol dan cabai, serta jembatan yang mengangkangi sungai deras di mana anak-anak sibuk bersepeda.

Saat matahari mulai terlelap, kami meluncur ke Silsangsa, salah satu kuil Buddha di rute Dulle-gil. Situs kuno ini menjulang di tengah sawah. Aula utamanya diayomi atap yang melebar anggun, sementara pekarangannya dihuni beberapa harta bersejarah nasional, termasuk dua pagoda batu berhiaskan ukiran. Silsangsa juga menghadap titik tertinggi di Jirisan: Heavenly King Peak atau Cheonwangbong (1.915 meter). >>

Comments