Mendaki Gunung Tertinggi di Daratan Korsel

  • Lampion kertas di Kuil Silsangasa.

    Lampion kertas di Kuil Silsangasa.

  • Aula utama Kuil Silsangsa.

    Aula utama Kuil Silsangsa.

  • Pohon pinus tua di rute antara Geumgye dan Inwol.

    Pohon pinus tua di rute antara Geumgye dan Inwol.

  • Namulbap (nasi campur rempah-rempah) dengan roti daging, acar renyah deodeok, serta acar di restoran Jirisan Namulbap.

    Namulbap (nasi campur rempah-rempah) dengan roti daging, acar renyah deodeok, serta acar di restoran Jirisan Namulbap.

  • Pemandangan sublim dalam perjalanan ke Unbong.

    Pemandangan sublim dalam perjalanan ke Unbong.

  • Barisan bukit di Jirisan.

    Barisan bukit di Jirisan.

  • Paviliun rindang di jembatan Kuil Cheoneunsa.

    Paviliun rindang di jembatan Kuil Cheoneunsa.

  • Para biksu mengunjungi Kuil Cheoneunsa.

    Para biksu mengunjungi Kuil Cheoneunsa.

  • Papan penunjuk arah bergaya klasik.

    Papan penunjuk arah bergaya klasik.

  • Panorama di tepi Desa Dangdong.

    Panorama di tepi Desa Dangdong.

  • Atap aula Kuil Silsangsa yang didekap pepohonan rimbun.

    Atap aula Kuil Silsangsa yang didekap pepohonan rimbun.

  • Aula doa di kaki Kuil Silsangsa.

    Aula doa di kaki Kuil Silsangsa.

Click image to view full size

Sebuah sirkuit trekking di kaki perbukitan Taman Nasional Jirisan membius para petualang dengan panorama persawahan, warga desa yang ramah, serta aneka makanan berbahan segar. Semuanya tersaji dengan latar gunung tertinggi kedua di Korea Selatan.

Oleh Jonathan Hopfner
Foto oleh Craig C. Lewis

Di negara yang ditumbuhi gunung ini, beberapa gunung tampil mencolok dan mengendap di benak. Bertahun-tahun menetap dan menjelajahi Korea Selatan, saya pernah mendaki banyak puncak yang menatap perbatasan Korea Utara, memanjat kubah vulkanis Pulau Jeju, dan mengarungi lereng rindang di interior semenanjung negeri.

Tapi entah mengapa saya selalu menghindari Jirisan, gunung tertinggi di daratan Korea Selatan (Hallasan, gunung tertinggi di seantero Korea, terletak di Jeju). Jirisan dicintai oleh kaum petualang berkat panoramanya yang anggun sekaligus galak, juga berkat rutenya yang mengetes batas stamina. Jirisan, satu-satunya kawasan yang dihuni beruang asli negara ini, memang menyuguhkan tantangan yang tak terpermanai.

Jirisan memang belum saya taklukkan, tapi saya setidaknya bisa berada selangkah lebih dekat darinya. Hari ini, saya meniti Jirisan Dulle-gil, rute jalan kaki sepanjang 300 kilometer yang baru saja diresmikan. Rute ini melingkari kaki gunung, bergulir lembut di kawasan pedesaan. Suguhannya antara lain: pemandangan memukau, desa-desa kuno, dan kuliner lezat. Saya datang dengan kereta cepat dari Seoul, meluncur ke Kota Namwon di selatan. Lawatan ke Korea selalu menyenangkan, terutama di musim gugur, momen di mana—mengutip kata-kata warga lokal—“langit menjulang tinggi dan kuda-kuda menggemuk.” Pemandangan di balik jendela seolah mempercantik ungkapan itu. Lanskap abu-abu Seoul berganti menjadi langit biru dan sawah mengilap dalam warna emas.

Berjarak kurang dari tiga jam dengan kereta api dari Seoul, Namwon adalah salah satu dari beberapa gerbang untuk menyambangi Taman Nasional Jirisan—suaka seluas 472 kilometer persegi yang merentang di tiga provinsi: North Jeolla, South Jeolla, and South Gyeongsang. Area konservasi ini diresmikan pada 1967, sebuah keputusan langka dari diktator Korea yang terobsesi pada pembangunan—Park Chung-hee. Jirisan juga merupakan titik paling selatan dari rangkaian agung Baekdudaegan (White Head, Great Ridge), rantai pegunungan yang membentang hingga perbatasan Korea Utara dan Cina. >>



Comments

Related Posts

6646 Views

Book your hotel

Book your flight