Mencicipi Emas Hitam Gayo

  • Seorang bocah berenang di Danau Lut Tawar.

    Seorang bocah berenang di Danau Lut Tawar.

  • Kuda yang dulunya menjadi kendaraan perang. Hal itulah yang membuat hewan ini dihormati hingga sekarang.

    Kuda yang dulunya menjadi kendaraan perang. Hal itulah yang membuat hewan ini dihormati hingga sekarang.

  • Lanskap kota Takengon, Ibu Kota Aceh Tengah.

    Lanskap kota Takengon, Ibu Kota Aceh Tengah.

  • Anak kecil di Takengon dengan ayam peliharaannya.

    Anak kecil di Takengon dengan ayam peliharaannya.

  • Dataran tinggi Gayo memproduksi 50-60 ribu ton biji kopi arabika per tahun.

    Dataran tinggi Gayo memproduksi 50-60 ribu ton biji kopi arabika per tahun.

  • Seorang pria Gayo, suku yang menghuni kawasan interior Aceh.

    Seorang pria Gayo, suku yang menghuni kawasan interior Aceh.

  • Komposisi sirih-pinang yang dikonsumsi di tanah Gayo.

    Komposisi sirih-pinang yang dikonsumsi di tanah Gayo.

  • Seekor kuda Takengon tengah merumput di tepian Lut Tawar.

    Seekor kuda Takengon tengah merumput di tepian Lut Tawar.

  • Danau Lut Tawar dengan latar belakang gunungnya yang indah.

    Danau Lut Tawar dengan latar belakang gunungnya yang indah.

  • Kopi robusta yang lazim dikonsumsi masyarakat Gayo.

    Kopi robusta yang lazim dikonsumsi masyarakat Gayo.

  • Anak-anak Takengon menghabiskan waktunya dengan bermain.

    Anak-anak Takengon menghabiskan waktunya dengan bermain.

  • Empat bahan makan yang lazim dijumpai di dapur orang Gayo.

    Empat bahan makan yang lazim dijumpai di dapur orang Gayo.

  • Metode tradisional menggoreng kopi di Gayo.

    Metode tradisional menggoreng kopi di Gayo.

  • Tribune di gelanggang pacu kuda, ajang yang rutin digelar untuk memeringati hari kemerdekaan.

    Tribune di gelanggang pacu kuda, ajang yang rutin digelar untuk memeringati hari kemerdekaan.

  • Kuda pacu hasil kawin silang kuda Takengon dan Australia.

    Kuda pacu hasil kawin silang kuda Takengon dan Australia.

  • Sebuah masjid yang bertahan dari gempa pada Juli 2013, walau banyak retakan pada dindingnya.

    Sebuah masjid yang bertahan dari gempa pada Juli 2013, walau banyak retakan pada dindingnya.

  • Mengolah bumbu dapur dengan peralatan tradisional.

    Mengolah bumbu dapur dengan peralatan tradisional.

  • Danau Lut Tawar yang dilupakan wisatawan sejak meletusnya perang saudara.

    Danau Lut Tawar yang dilupakan wisatawan sejak meletusnya perang saudara.

Click image to view full size

Kebun-kebun kopi di dataran tinggi Gayo turut mengantarkan Indonesia menjadi salah satu produsen utama kopi arabika. Tapi emas hitam bukanlah satu-satunya daya tarik kawasan di jantung Aceh ini. Di atas tanahnya yang subur dan senantiasa dibalut kabut, ada keindahan yang selama ini luput dari perhatian.

Oleh Fatris MF
Foto oleh Yoppy Pieter

Kopi robusta yang lazim dikonsumsi masyarakat Gayo.

Dulu, saya memasuki Aceh dengan perasaan tak keruan melihat negeri ini porak-poranda diguncang gempa dan diterjang tsunami. Hanya ada puing, kesedihan, dan jasad yang berserakan. Dan bahkan di saat bencana, Aceh masih didera perang yang disebut operasi pemulihan keamanan; senjata masih meletus di sudut-sudut kampung. Hampir dua bulan lamanya saya menjadi relawan di Bumi Serambi Makah, dan semua catatan saya dipenuhi kisah sedih.

Sekarang, setelah delapan tahun, saya kembali datang. Kali ini bukan berstatus relawan, melainkan pelancong. Di terminal Bandara Sultan Iskandar Muda, saya disambut aroma kopi yang menguap dari kafe-kafe. Cuma inikah alasan saya kembali ke sini? Langkah telah tersorong, apa mau dikata. Saya menjadi turis di negeri yang baru berbahagia.

Saya mendarat di Gayo di waktu subuh dengan menumpang bus dari Banda Aceh, ibu kota provinsi yang terletak di lembah yang dikelilingi gunung-gunung tinggi. Tujuh jam lamanya bus membelah hutan kelam, mendaki lika-liku jalan yang mulus menuju pedalaman Nanggroe Aceh Darussalam—nama yang baru pada abad ke-20 disematkan untuk meliputi seantero bumi Aceh. Sebelumnya, nama ini digunakan terbatas untuk menandai wilayah Kuta Raja, ibu kota kerajaan lama, setidaknya demikian kata sejarawan ternama asal Prancis, Denys Lombard, dalam buku Kerajaan Aceh di zaman Iskandar Muda.

Berabad-abad sudah pesisir Aceh menjadi pusat pemberhentian sekaligus pusat perhatian, baik pesisir timur maupun pesisir baratnya. Dua wilayah pesisir ini selalu disinggung jika berbicara tentang kegemilangan Aceh di zaman perdagangan laut masih marak, di saat kota-kota pantai memainkan peran vital. Berjilid-jilid buku telah ditulis mengenai kedua wilayah pesisir ini. Pada 1345, Ibnu Battuta mendatangi dan memuja aroma pohon benzoin dan cengkihnya, serta kerajaan-kerajaannya yang perkasa dan kaya. Sayangnya, sulit menemukan satu dokumentasi utuh mengenai wilayah pedalaman Aceh. Sebenarnya di abad ke-13 Marco Polo sempat berkunjung ke pedalaman Aceh, tepatnya ke Perlak, tapi ia mencatatnya dengan tergesa-gesa, penuh rasa takjub, sekaligus ketakutan akan para kanibal yang menyembah roh. Selama hampir setengah tahun berkelana di utara Sumatera ini, Marco Polo mencicipi anggur racikan penduduk lokal. Kopi belum sampai pada abad itu.

Pedalaman Aceh telah lama luput dari perhatian, tidak saja oleh mata penjelajah asing dan pelancong etnografis, tapi juga oleh pemerhati pariwisata di zaman kita kini. Dengan sudut mata pun bahkan tak dilirik. Termasuk daratan tinggi Gayo. >>>



Comments

Related Posts

8474 Views

Book your hotel

Book your flight