Memulihkan Pamor Danau Toba

Pantai Parbaba, salah satu objek wisata favorit wisatawan di Samosir.

Toba ingin mengembalikan pamornya dengan jargon baru. Sebagaimana galibnya, jargon diizinkan untuk terdengar bombastis, namun jargon Toba sepertinya dirumuskan tanpa wawasan yang memadai. Monako? Di Asia? Setelah Teluk Mandeh dijuluki Raja Ampat-nya Sumatera, kini Toba dipadankan dengan Monako, negeri mungil di tepi Laut Mediterania yang menjadi tempat jutawan memarkir yacht dan menonton ajang balap Formula1. Bisakah jargon “Monako” menyelamatkan pamor Toba yang tercoreng oleh kerusakan alam?

Saya teronggok di Tomok, sebuah perkampungan di bagian timur Samosir, pulau seluas Jakarta yang terapung di danau bagaikan spons raksasa. Uniknya, Samosir juga memiliki dua danau: Natonang dan Sidihoni. Musim kering tengah melanda sepanjang tahun. Kata warga, sehari pun belum ada hujan deras. Debit air susut lebih dari dua meter, lahan pertanian mengering, bukit-bukit berwarna cokelat. Rumah-rumah di sini berkiblat ke danau dan bersandar pada danau. Memakai pipa-pipa yang terentang panjang, warga menyedot air dari Toba.

Toba digerogoti pencemaran, padahal pada danau inilah masyarakat setempat menggantungkan hidup. “Terlebih bila musim kering begini, lahan persawahan kering, kebutuhan hidup hampir sepenuhnya digantungkan ke turis,” kata Surung Sidabutar. Usianya 40 tahun, tatapannya lurus, tulang pelipisnya menonjol di atas kelopak mata. Dia mengaku keturunan ke-17 Raja Sidabutar yang dimakamkan di Tomok. “Bila Tomok ini Indonesia, maka akulah presidennya,” Surung berseloroh.

Berbeda dari Yogyakarta, raja di Toba telah kehilangan kekuasaannya. Di pelosok Samosir, status ningrat hanyalah memorabilia dari masa silam yang tak lagi menyisakan kekuatan politik. Surung tidak seberkuasa moyangnya. Saat saya temui, “Presiden Tomok” ini sedang menjual karcis seharga Rp2.000 per lembar kepada wisatawan.

“Ini akan disetor ke pemerintah kabupaten, 57 juta rupiah setahun,” kata Surung. Kelebihan dari setoran itu masuk kantongnya. Bila ada turis yang minta dipandu, Surung menitipkan loket karcis kepada temannya. Kali ini, dia memandu belasan turis asal Jakarta. Saya membuntutinya membawa turis menziarahi moyangnya yang terbaring dalam peti batu berpahat.

“Tak perlu terkejut, orang Batak sudah disediakan kuburan sebelum ia lahir,” Surung mulai berorasi seperti ketua partai di hadapan simpatisan. “Dulu, moyangku ini tidak makan anjing dan babi. Mereka takut dengan kedua hewan itu. Tapi setelah agama baru datang ke Tano Batak ini, malah anjing yang takut sama orang Batak.” Belasan tamunya meledakkan tawa. Saya tidak terlalu paham apa yang ditertawakan. Mungkin anjing dan babi takut kepada manusia usai melihat warung-warung yang menyediakan B1 dan B2—dua kode untuk daging kedua hewan tersebut.

Surung melanjutkan kisahnya, dan belasan turis kembali menimpalinya dengan tawa. “Cecak merupakan simbol dari ketangkasan,” kata Surung sembari menunjuk ukiran cecak pada tiang gerbang makam. “Maksudnya, orang Batak harus bisa hidup di mana saja, seperti cecak. Bahkan di loteng sekalipun. Di loteng siapa pun.”

Surung kini beralih ke pahatan lain yang berbentuk empat payudara. “Perempuan Batak harus menyusui anaknya sendiri, tidak bergantung pada susu pabrik,” jelasnya. “Bila perempuan Batak berbadan langsing, bah, itu malah yang membuat khawatir akan dikira tidak dikasih makan, tidak bisa menyusukan anak. Makanya perempuan Batak gemuk-gemuk. Subur!”

Kiri-kanan: Seorang turis berziarah di kompleks makam Raja Sijabat, Samosir; Surung Sidabutar keturunan ke-17 Raja Sidabutar, memasuki rumah adat Batak di Tomok, Samosir.

Saya tak ingat lagi apa yang dikatakan Surung. Menjadi pemandu, bagi orang Batak, barangkali tidak butuh pendidikan khusus. Setiap orang di sini pencerita yang piawai, dan mereka susah didebat. Tapi bukan berarti kemampuan itu tidak dilatih. Orang Batak punya tempat guna mengasah kemampuan bercerita dan berdebat: lapo tuak. Di sepanjang tepian Toba, warung-warung dipenuhi kaum pria yang suka mengobrol sambil meneguk cairan putih seperti susu. Bila bosan bergunjing, mereka bernyanyi. Orang Batak seperti mustahil larut dalam sepi. Mereka melakukan apa saja di lapo tuak: main domino atau bernyanyi, bercerita atau berdebat sampai penat. Di mana ada orang Batak, di sana tercipta lapo tuak, begitu anekdotnya.

Makam moyang Surung dikelilingi pasar. Saya berjalan-jalan menemui ibu-ibu penjual ikan kering, gadis-gadis penjaja kacang goreng, pedagang ulos yang murung dan terkantuk-kantuk. Di hadapan mereka, wisatawan Malaysia, turis berkulit putih, dan pelancong dari Jakarta, melintas dengan langkah gontai. “Tidur sajanya di rumah aku,” sergap Surung dengan suara santer. Orang Batak hidup di dataran tinggi dan berbicara lantang—kontradiktif dari anggapan antropolog bahwa masyarakat agraris berperangai lebih halus dibandingkan warga pesisir. Kendati demikian, mereka selalu ramah kepada orang asing.

Malam ini, saya diundang menginap di rumah keturunan ke-17 Raja Sidabutar yang berjarak sejengkal dari riak Toba. Kamar saya berukuran 2×2 meter dan disekat tripleks. Saya berbaring di atas kasur empuk, sementara istri dan keempat anak Surung yang berdarah biru justru berjejal di atas sehelai tikar. Surung sebenarnya bercita-cita memiliki penginapan di samping rumahnya, tapi wujudnya baru sebatas fondasi. Cita-cita itu, kata Surung, belum kandas, apalagi dia kini punya motivasi lebih untuk segera mewujudkannya: Toba sedang diselamatkan.

Andaliman, rempah khas Sumatera Utara yang lazim dipakai sebagai bahan bumbu dalam kuliner khas Batak.

Pagi-pagi sekali, Surung membangunkan saya. Angin bertiup kencang, menggoyang pepohonan, menggugurkan daun-daun. Istri Surung menyuguhkan minuman yang mengepulkan asap, lalu menyapu halaman rumahnya: pantai berpasir putih. Di hadapan saya, perempuan-perempuan membawa bakul cucian, anak-anak mandi di pinggir danau, perahu lalu lalang, lelaki menebar jala. Hutan berwarna cokelat berlapis-lapis. Asap pembakaran di bukit masih saja membubung.

Tak jauh dari rumah Surung terdapat jalan berbatu yang mengarah ke parsaktian, rumah ibadah Ugamo Malim, ajaran lama yang masih bertahan di Tano Batak. (Malim secara harfiah berarti suci, dan penganutnya disebut Parmalim.) Di belakang parsaktian, Hotdiman Sijabat tinggal bersama keluarganya. Dia seorang ulu pungoan, pendeta Malim. Jemaahnya tersisa hanya 11 keluarga.

“Toba harus selalu dijaga,” kata Hotdiman. Menurut ajaran Malim, Toba merupakan boru saniang naga, artinya “titisan Tuhan yang menghuni air.” Dalam kepercayaan yang menyembah Opung Debata Mulajadi Nabolon ini, menjaga lingkungan adalah kewajiban yang tidak bisa ditawar. “Engkau harus menanam sebanyak yang engkau tebang,” kata Hotdiman lagi. Tapi mengapa Toba mesti diselamatkan bila telah ada ajaran tua yang menjaganya? Hotdiman diam tak menjawab. >>>



Comments

Related Posts

5143 Views

Book your hotel

Book your flight