Memotret Desa Autentik Bali

Memotret dan memaknai transisi besar yang melanda Bali melalui kehidupan bersahaja di sebuah desa kecil di tengah pulau.

Teks dan foto oleh Putu Sayoga

Warga mencari jamur merang di tumpukan jerami.

Di warung dekat rumah, seporsi bubuh tepeng hadir dengan loteng, keripik yang dibuat dari tepung dan kacang kedelai. Cara terbaik untuk menikmati bubur ini memang dengan loteng yang diremuk dan ditaburkan layaknya toping. Dari segi rasa, bolehlah saya mengutip istilah “maknyus” Bondan Winarno.

Rampung sarapan, saya berjalan-jalan menikmati pagi di sekitar rumah. Sawah membentang luas. Di kejauhan, Gunung Batukaru menjulang gagah, berdampingan dengan Gunung Sanghyang dan Pohen. Sejumlah petani mulai berangkat ke “kantor”: turun ke sawah, menumpuk jerami, menyabet rumput untuk pakan sapi.

Selamat datang di Desa Tunjuk, oasis kecil yang relatif terpisah dari hiruk-pikuk pariwisata. Sempat saya tinggalkan selama delapan tahun untuk studi di Yogyakarta, desa di Kabupaten Tabanan ini tak banyak berubah, kecuali pematang yang sering saya lewati untuk menuju pancuran (pemandian) kini sudah disemen dan bisa dilalui sepeda motor. Kata seorang kawan, dana konstruksinya bersumber dari bantuan pemerintah sewaktu musim Pilkada.

Upacara adat pun kini sering terbentur dengan jam kantor.

Melihat kampung saya tak banyak berubah memang menyenangkan, tapi di saat yang sama juga meresahkan. Tampak sekali regenerasi petani macet. Sawah digarap oleh orang yang itu-itu saja, tapi kini dengan tubuh yang sudah renta dimakan usia. Sawah kini lebih menyerupai panti jompo. Tapi, siapa memang yang mau jadi petani di zaman sekarang? Zaman ketika kantor lebih dihormati ketimbang sawah dan dasi lebih dihargai ketimbang cangkul.

Sejak roda bisnis pariwisata bergulir di Bali sekitar 40 tahun silam, perlahan tapi pasti turisme menggantikan pertanian sebagai tulang punggung perekonomian. Anak-anak muda mengadu nasib ke bidang jasa dan meninggalkan para orang tua mengurus sawah. Transisi zaman itu juga melanda Desa Tunjuk, tempat tinggal saya.

Masih basah dalam ingatan momen masa kecil kala saya dan teman-teman membantu menanam padi atau jagung. Sekadar menebar benih adalah aktivitas yang sangat menggembirakan, apalagi usai menerima imbalan berupa makanan dari si pemilik sawah. Sekarang, sulit sekali menemukan anak-anak yang sudi melakukannya.



Comments

Related Posts

8290 Views

Book your hotel

Book your flight