Membelah Oman dari Utara ke Selatan

Oman menampung pegunungan terjal, pantai cantik yang berkilauan, serta gurun mahaluas. Kehadiran sejumlah resor premium di sudut negeri membuatnya kian menarik dikunjungi.

Gurun Rub’ al Khali di kawasan selatan Oman.

Oleh Christopher P. Hill
Foto oleh Martin Westlake

Selamat datang di bulan!” ujar sopir saya, Nabhan Said Al-Nabhani, ketika mobil membelah hamparan datar dan terik di wilayah Ash Sharqiyah. Selama tiga jam semenjak kami transit di Nizwa untuk makan siang, lanskap sepanjang jalan memang berkarakter lunar: tanah berkerikil yang tak berujung, sesekali diselingi permukiman yang berdebu dan masjid sepi di tepi jalan.

Mengarungi medan yang monoton itu, Nabhan mencoba menghibur dengan serangkaian celetukan dan lelucon. Dia mungkin khawatir saya merasa bosan. Tapi upayanya itu justru membuat saya tak enak hati, sebab ide trip ini sebenarnya datang dari saya. Selama di Oman, saya menginap di sepasang resor milik Anantara. Yang pertama bertengger di pegunungan di luar kota Muscat. Yang kedua berlokasi di kota pelabuhan Salalah di selatan negeri. Keduanya terpisah jarak hampir 1.000 kilometer, dan saya ingin melintasinya lewat jalur darat.

Dalam perjalanan ini, awalnya saya berencana transit di bumi perkemahan di Wahiba Sands, sebelum kemudian menggapai Salalah melalui kota Duqm. Tapi berhubung waktu terbatas, saya melupakan ide kamping dan memilih mengambil jalur yang lebih ringkas via “padang bulan” Ash Sharqiyah.

Kiri-kanan: Seorang pria lokal menikmati pemandangan pesisir berbatu Mughsail Beach, 40 menit berkendara dari Salalah, kota di belahan selatan Oman; hammam di Anantara Spa di Salalah.

Setelah beberapa kali rehat, salah satunya akibat diterjang badai pasir yang ganas, kami akhirnya merapat ke Duqm di kala senja. Menatap hamparan aspal yang tak berkesudahan di belakang, saya menguatkan mental untuk etape berikutnya menuju Salalah. Durasinya delapan jam!

Saya mendarat di Oman lima hari silam. Dari Bandara Muscat, sebuah SUV mula-mulanya membawa saya ke kaki hitam Perbukitan Jabal Akhdar. Lokasinya di Pegunungan Hajar, rangkaian menara batu terjal yang menjulang tegap layaknya benteng pemisah antara pesisir utara Oman yang kosmopolitan dan hamparan padang pasir di jantung negeri.

Selama berabad-abad dihuni suku-suku dataran tinggi dan para imam garis keras, Jabal Akhdar hampir sepenuhnya terkunci bagi pendatang. Perubahan mulai berembus pada 2005 ketika kawasan ini secara perlahan merekah jadi destinasi wisata. Pemerintah membentangkan jalan raya hingga Saiq Plateau yang bertengger di ketinggian 2.000 meter. Kemudian, dua resor mewah hadir di sini: Alila Jabal Akhdar, disusul oleh Anantara Al Jabal Al Akhdar. Yang terakhir ini diklaim sebagai resor bintang lima tertinggi di Timur Tengah.

Matahari sudah raib saat saya menggapai Jabal Akhdar. Tak banyak yang bisa dilihat. Kompleks Anantara bersemayam di tepi ngarai yang dulu merupakan bagian dari dasar laut purba. Mayoritas kamar dan vilanya hanya dibatasi oleh segaris jalan tanah berbatu dari jurang yang menganga dan bukit-bukit yang menyerupai jalur pengembaraan para nabi.

Kiri-kanan: Sesi minum teh lokal di restoran resor Anantara Al Jabal Al Akhdar, sisi utara Oman; seorang staf Anantara Al Jabal Al Akhdar.

Panorama alam yang megah itu bisa diserap dari banyak titik di resor, termasuk dari Diana’s Point, sebuah platform kaca yang berdiri di tempat Putri Diana merenung pada 1986. Tapi saya lebih suka melihatnya dari vila. Berdiri di bibir tebing dan dilengkapi sepasang binokular, vila-vila di sini memberi tamu sudut pribadi yang leluasa untuk menonton alam dari teras, bahkan dari matras.

Resor seluas enam hektare ini dirancang oleh Lotfi Sidirahal, arsitek blasteran Prancis Maroko. Maskulin dan tegas, desainnya terilhami budaya lokal dan alam keras di sekitarnya. Restorannya, Al Qalaa, ditempatkan di menara kerucut yang terinspirasi sebuah puri warisan abad ke-17 di utara Oman, sementara taman airnya mengadopsi sistem irigasi local yang disebut falaj.

Iklim yang bersahabat adalah daya tarik lain Jabal Akhdar. Suhunya relatif sejuk, cocok bagi tamu yang datang dari Muscat atau kawasan lain di seputar Teluk Persia. “Percaya enggak percaya, salju turun di Februari,” ujar seorang staf. Saya agak sangsi dengan kata-katanya, walau tak bisa dimungkiri suhu April ini memang cukup ramah. Sepanjang siang, temperature tidak pernah menembus 25 derajat celsius. Dengan kata lain: sempurna untuk aneka kegiatan, mulai dari panjat tebing, tenis, hingga tur perbukitan.

Baca juga: Lembaran Baru IranOase Elok di Timur Maroko

Kamar tipe Canyon View di Anantara Al Jabal Al Akhdar.

Suatu pagi, seorang pemandu membawa saya ke Wadi Al Bawaarid. Kami menuruni bukit melalui ngarai, kemudian meniti bantaran sungai yang telah mengering, selanjutnya melewati genangan air hijau dan desa-desa yang sepertinya sudah terbengkalai. Kebunkebunnya masih ditanami, tapi mayoritas petaninya telah mengungsi ke kota.

Jabal Akhdar terkenal sebagai penghasil delima, walnut, badam, persik, aprikot, dan pir. Tapi ada satu hasil buminya yang membuatnya digemari turis. Setiap Mei, banyak lereng di sini diselimuti mawar damask yang berwarna jambon. Ekstrak sari bunga ini lazim digunakan sebagai bahan masak, parfum, obat-obatan, dan, baru-baru ini, perawatan di spa. Hari ini, bunga belum merekah dan desa-desa masih sepi manusia. Saya berjalan sembari membayangkan harumnya mawar dan semaraknya suasana musim panen.

Saya menetap selama tiga hari di Jabal Akhdar. Untuk perjalanan ke selatan menuju Salalah, pihak resor menyewa mobil dan sopir dari operator tur Bahwan Travels. Disopiri Nabhan, Nissan Patrol yang dilengkapi WiFi membawa kami meninggalkan dataran tinggi.

Comments