Melihat Sisi Autentik Selandia Baru

  • Panorama Pegunungan Alpen Selatan dilihat dari tepian Danau Matheson.

    Panorama Pegunungan Alpen Selatan dilihat dari tepian Danau Matheson.

  • Padang es Franz Josef, salah satu gletser yang paling mudah dijangkau manusia.

    Padang es Franz Josef, salah satu gletser yang paling mudah dijangkau manusia.

  • Menu pencuci mulut di restoran milik Te Waonui Forest Retreat, penginapan termewah di kaki Gletser Franz Josef.

    Menu pencuci mulut di restoran milik Te Waonui Forest Retreat, penginapan termewah di kaki Gletser Franz Josef.

  • Matheson Café, tempat pengunjung membeli bekal sebelum mengelilingi Danau Matheson.

    Matheson Café, tempat pengunjung membeli bekal sebelum mengelilingi Danau Matheson.

  • Danau Matheson bukan danau terluas di West Coast, tapi pastinya yang paling fotogenik.

    Danau Matheson bukan danau terluas di West Coast, tapi pastinya yang paling fotogenik.

  • Treetop Walk, wahana yang dibuka pada Desember 2012 di tepi Danau Mahinapua.

    Treetop Walk, wahana yang dibuka pada Desember 2012 di tepi Danau Mahinapua.

  • Sejak 2005 hingga 2014, menu daging di Stations Inn memenangkan penghargaan tertinggi dari organisasi New Zealand Beef & Lamb.

    Sejak 2005 hingga 2014, menu daging di Stations Inn memenangkan penghargaan tertinggi dari organisasi New Zealand Beef & Lamb.

  • Dick, peternak sapi lokal, di lahan yang membentang di tepi Laut Tasman.

    Dick, peternak sapi lokal, di lahan yang membentang di tepi Laut Tasman.

  • Lokomotif tua di Shantytown, taman rekreasi sejarah.

    Lokomotif tua di Shantytown, taman rekreasi sejarah.

  • Pemancing dari Melbourne yang rutin datang ke Danau Brunner demi memancing ikan trot.

    Pemancing dari Melbourne yang rutin datang ke Danau Brunner demi memancing ikan trot.

  • Pameran mobil dan motor klasik bertajuk Big Boys Toys di Kota Greymouth.

    Pameran mobil dan motor klasik bertajuk Big Boys Toys di Kota Greymouth.

  • Menumpang adalah aktivitas lazim di West Coast, provinsi yang terkenal akan keramahan warganya.

    Menumpang adalah aktivitas lazim di West Coast, provinsi yang terkenal akan keramahan warganya.

  • Salah satu kamar di Archer House, penginapan butik yang menempati rumah buatan 1890.

    Salah satu kamar di Archer House, penginapan butik yang menempati rumah buatan 1890.

  • Artefak penambang batu bara disulap menjadi memorabilia di wahana Denniston Mine Experience.

    Artefak penambang batu bara disulap menjadi memorabilia di wahana Denniston Mine Experience.

  • Pegunungan Alpen Selatan dipotret dari pesawat milik Wilderness Wings, operator yang dulu mengangkut Peter Jackson saat mencari lokasi syuting The Lord of the Rings.

    Pegunungan Alpen Selatan dipotret dari pesawat milik Wilderness Wings, operator yang dulu mengangkut Peter Jackson saat mencari lokasi syuting The Lord of the Rings.

  • Tasman Glacier, lidah es yang membentang 27 kilometer, dipotret dari Cessna milik Wilderness Wings.

    Tasman Glacier, lidah es yang membentang 27 kilometer, dipotret dari Cessna milik Wilderness Wings.

  • Perpaduan antara hutan subtropis dan glasier yang langka di dunia.

    Perpaduan antara hutan subtropis dan glasier yang langka di dunia.

Click image to view full size

West Coast mengajak kita terbang ke puncak salju, lalu menembus lorong-lorong di perut bumi. tempat ini juga mengundang kita menyapa anjing laut dan menyelami legenda kota emas. Tanpa rumah hobbit dan bungy jumping, tanpa mal dan pencakar langit. Inilah Selandia Baru versi autentik.

Oleh Cristian Rahadiansyah
Foto oleh Rony Zakaria

Di West Coast, kita akan selalu dipaksa menengok masa lalu: tentang provinsi yang dihuni kota-kota yang makmur, di mana pesta-pesta bergulir tiap akhir pekan, kala manusia digerakkan oleh gairah pada emas dan batu bara. Di perut bekas tambang batu bara, masa lalu itu direkam dalam sebuah film. Alkisah, seorang pria plontos terkulai lemas di lorong gelap. Kakinya terjepit bongkahan. Bebatuan acap kali rontok dari langit-langit. Pria itu berteriak-teriak meminta bantuan, tapi tak ada yang mendengar. Dia sendirian, terperangkap, merana. Kisah kelam di bukit Denniston, West Coast.

Artefak penambang batu bara disulap menjadi memorabilia di wahana Denniston Mine Experience.

Pria itu bukan korban satu-satunya. Tambang di sini sudah mencabut banyak nyawa. Tapi orang-orang tak mau ambil pusing. Mereka terus saja menggali dan menggali. Berkat tambang pula mereka mampu mengerek permukiman. Di sebuah dusun kecil di atap bukit yang sulit dijangkau, kaum pekerja mendirikan rumah, sekolah, bar, juga klub rugbi yang berlaga di liga nasional. Bahkan tempat ini memiliki kantor posnya sendiri. Pada 1885, Denniston adalah produsen batu bara tersubur di Selandia Baru. Dan kita tahu, seperti di Indonesia, batu bara menelurkan banyak jutawan.

Abad lalu berganti dan emas hitam susut. Denniston perlahan kehilangan pamornya. Dusun kaya itu terbengkalai. Di sana-sini, perkakas besi warisan penambang berserakan dan berkarat dalam balutan kabut. Benda-benda ini sekarang dijadikan memorabilia. Sedangkan lorong-lorong tambangnya disulap jadi wahana tur. Salah satu suguhannya adalah film tentang si pria botak nahas tadi. Saya tak pernah membayangkan bioskop bisa dijejalkan di perut tambang. Apalagi dalam format tiga dimensi.

Saya memasuki wahana itu dengan mengendarai lori. Bersama sejumlah turis, saya meniti lorong-lorong hitam yang seolah tak berujung. Lorong ini terbelah tiap beberapa meter, terpecah menjadi terowongan yang lebih sempit, hingga membentuk sebuah kompleks labirin yang gelap dan lembap. Tapi pengunjung bukan cuma datang untuk melihat-lihat. Mereka diberi tugas yang spesifik. Ada yang menyekop batu bara, meledakkan dinamit mainan, memimpin serikat buruh, mendirikan balok-balok penyangga, lalu menonton film di akhir tur. Denniston Mine Experience, nama wahana ini, agaknya sedang menawarkan mimesis, sebuah reka ulang sejarah.

Pemancing dari Melbourne yang rutin datang ke Danau Brunner demi memancing ikan trot.

Di West Coast, masa lalu memang tak dibiarkan berlalu. Kita senantiasa diajak untuk membesuknya. Saya datang di musim panas. Udara cerah, tapi angin dingin yang terus berembus membuat tubuh tak sudi lepas dari jaket tebal. Awalnya saya mendarat di Kota Christchurch, lalu terbang dengan pesawat baling-baling menuju West Coast.

Di atas peta, Selandia Baru bagaikan kuldesak: seonggok negeri di ujung selatan bumi, sebuah tempat terakhir bagi peradaban di kaki khatulistiwa. Setelahnya, hanya ada samudera kosong yang berujung di Antartika. Buku-buku mencatat, Suku Maori yang pertama menemukan negeri ini. Mulai abad ke-17, pelaut-pelaut Eropa berdatangan “West Coast berbeda dari daerah lain di Selandia Baru; karakternya off the beaten track,” kata LeeAnne Scott, yang memandu saya selama delapan hari. “Tak banyak yang mau menetap di sini. Warganya adalah orang-orang yang telah mampu beradaptasi dengan alam. Dan alam di sini keras terhadap manusia.” Menaiki van, kami membelah jalan-jalan sepi, melewati lahan-lahan peternakan dan perbukitan rindang yang menatap Laut Tasman, pemisah antara Selandia Baru dan Australia. “Tapi kami ingin memikat lebih banyak turis,” kata LeeAnne lagi. “West Coast punya alam yang asri dan sejarah yang kaya.”

Dia menggambarkan West Coast sebagai versi autentik Selandia Baru. Dalam banyak hal, memang seperti itu keadaannya. Provinsi ini tidak memiliki mal. Hanya ada satu gerai McDonald’s. Terminal bandaranya lebih kecil dari kantor kecamatan. Hotel cukup banyak, tapi tak ada merek internasional. Mayoritas hotel hanya menampung tiga hingga tujuh kamar, dan biasanya dikelola langsung oleh pemiliknya yang bekerja rangkap sebagai manajer, resepsionis, koki, hingga petugas housekeeping. >>



Comments

Related Posts

5595 Views

Book your hotel

Book your flight