Melihat Sisi Autentik Selandia Baru

Tasman Glacier, lidah es yang membentang 27 kilometer, dipotret dari Cessna milik Wilderness Wings.

West Coast mengajak kita terbang ke puncak salju, lalu menembus lorong-lorong di perut bumi. tempat ini juga mengundang kita menyapa anjing laut dan menyelami legenda kota emas. Tanpa rumah hobbit dan bungy jumping, tanpa mal dan pencakar langit. Inilah Selandia Baru versi autentik.

Oleh Cristian Rahadiansyah
Foto oleh Rony Zakaria

Di West Coast, kita akan selalu dipaksa menengok masa lalu: tentang provinsi yang dihuni kota-kota yang makmur, di mana pesta-pesta bergulir tiap akhir pekan, kala manusia digerakkan oleh gairah pada emas dan batu bara. Di perut bekas tambang batu bara, masa lalu itu direkam dalam sebuah film. Alkisah, seorang pria plontos terkulai lemas di lorong gelap. Kakinya terjepit bongkahan. Bebatuan acap kali rontok dari langit-langit. Pria itu berteriak-teriak meminta bantuan, tapi tak ada yang mendengar. Dia sendirian, terperangkap, merana. Kisah kelam di bukit Denniston, West Coast.

Pria itu bukan korban satu-satunya. Tambang di sini sudah mencabut banyak nyawa. Tapi orang-orang tak mau ambil pusing. Mereka terus saja menggali dan menggali. Berkat tambang pula mereka mampu mengerek permukiman. Di sebuah dusun kecil di atap bukit yang sulit dijangkau, kaum pekerja mendirikan rumah, sekolah, bar, juga klub rugbi yang berlaga di liga nasional. Bahkan tempat ini memiliki kantor posnya sendiri. Pada 1885, Denniston adalah produsen batu bara tersubur di Selandia Baru. Dan kita tahu, seperti di Indonesia, batu bara menelurkan banyak jutawan.

Artefak penambang batu bara disulap menjadi memorabilia di wahana Denniston Mine Experience.

Abad lalu berganti dan emas hitam susut. Denniston perlahan kehilangan pamornya. Dusun kaya itu terbengkalai. Di sana-sini, perkakas besi warisan penambang berserakan dan berkarat dalam balutan kabut. Benda-benda ini sekarang dijadikan memorabilia. Sedangkan lorong-lorong tambangnya disulap jadi wahana tur. Salah satu suguhannya adalah film tentang si pria botak nahas tadi. Saya tak pernah membayangkan bioskop bisa dijejalkan di perut tambang. Apalagi dalam format tiga dimensi.

Saya memasuki wahana itu dengan mengendarai lori. Bersama sejumlah turis, saya meniti lorong-lorong hitam yang seolah tak berujung. Lorong ini terbelah tiap beberapa meter, terpecah menjadi terowongan yang lebih sempit, hingga membentuk sebuah kompleks labirin yang gelap dan lembap. Tapi pengunjung bukan cuma datang untuk melihat-lihat. Mereka diberi tugas yang spesifik. Ada yang menyekop batu bara, meledakkan dinamit mainan, memimpin serikat buruh, mendirikan balok-balok penyangga, lalu menonton film di akhir tur. Denniston Mine Experience, nama wahana ini, agaknya sedang menawarkan mimesis, sebuah reka ulang sejarah.

Di West Coast, masa lalu memang tak dibiarkan berlalu. Kita senantiasa diajak untuk membesuknya. Saya datang di musim panas. Udara cerah, tapi angin dingin yang terus berembus membuat tubuh tak sudi lepas dari jaket tebal. Awalnya saya mendarat di Kota Christchurch, lalu terbang dengan pesawat baling-baling menuju West Coast.

Pemancing dari Melbourne yang rutin datang ke Danau Brunner demi memancing ikan trot.

Di atas peta, Selandia Baru bagaikan kuldesak: seonggok negeri di ujung selatan bumi, sebuah tempat terakhir bagi peradaban di kaki khatulistiwa. Setelahnya, hanya ada samudera kosong yang berujung di Antartika. Buku-buku mencatat, Suku Maori yang pertama menemukan negeri ini. Mulai abad ke-17, pelaut-pelaut Eropa berdatangan “West Coast berbeda dari daerah lain di Selandia Baru; karakternya off the beaten track,” kata LeeAnne Scott, yang memandu saya selama delapan hari. “Tak banyak yang mau menetap di sini. Warganya adalah orang-orang yang telah mampu beradaptasi dengan alam. Dan alam di sini keras terhadap manusia.” Menaiki van, kami membelah jalan-jalan sepi, melewati lahan-lahan peternakan dan perbukitan rindang yang menatap Laut Tasman, pemisah antara Selandia Baru dan Australia. “Tapi kami ingin memikat lebih banyak turis,” kata LeeAnne lagi. “West Coast punya alam yang asri dan sejarah yang kaya.”

Dia menggambarkan West Coast sebagai versi autentik Selandia Baru. Dalam banyak hal, memang seperti itu keadaannya. Provinsi ini tidak memiliki mal. Hanya ada satu gerai McDonald’s. Terminal bandaranya lebih kecil dari kantor kecamatan. Hotel cukup banyak, tapi tak ada merek internasional. Mayoritas hotel hanya menampung tiga hingga tujuh kamar, dan biasanya dikelola langsung oleh pemiliknya yang bekerja rangkap sebagai manajer, resepsionis, koki, hingga petugas housekeeping. >>



Comments

Related Posts

6045 Views

Book your hotel

Book your flight