Melihat Indahnya Bima

Resor Kalimaya dilihat dari bukit di belakangnya. Seluruh bungalo resor ini dibangun menghadap laut.

Akibat citranya yang suram dan objek wisatanya yang minim, Bima kesulitan memikat turis. Tapi sejumlah investor tak peduli.

Teks oleh Cristian Rahadiansyah
Foto oleh Nyimas Laula

Seperti orang yang terlambat kencan di bioskop, sopir saya terus memacu gas meski jalan berkelok tajam. Dari tepian teluk tipis yang merobek pundak Sumbawa, saya meluncur ke timur menuju Selat Sape. Mobil meliuk gesit di lereng, terengah-engah di tanjakan curam, merayap cemas di ruas jalan yang amblas beberapa bulan silam.

Usai merandai jantung pulau yang rindang, mobil memasuki kawasan pesisir yang gersang. Semak meranggas. Pohon-pohon jati menjulang kurus seperti orang yang kurang gizi. Mobil meninggalkan jalan aspal dan berbelok ke jalur tanah. Di kejauhan, pondok-pondok berbaris di tepi laut. Saya telah mendekati Kalimaya, resor yang terpencil dan sepertinya memang ingin terpencil.

Pemilik resor, Eric dan Loren, menyambut saya. Keduanya ramah. Keduanya asal Kanada, sebuah negeri di mana, menurut sebait stereotip, orang-orang selalu memohon maaf sebelum bertindak. Delapan tahun bekerja untuk majalah wisata, ini pertama kalinya saya menemukan orang Kanada yang memiliki resor di Indonesia, dan mereka memilih tempat yang janggal untuk berbisnis.

Bima bersemayam di pojok timur Pulau Sumbawa. Kabupaten ini berbatasan dengan Selat Sape, perairan yang memisahkan Sumbawa dan Flores. Ini lawatan perdana saya ke Bima. Kecuali ajang pacuan kuda yang melibatkan joki-joki cilik, tempat ini hemat saya tak menawarkan banyak alasan untuk dikunjungi. Justru sebaliknya, Bima menyodorkan banyak alasan untuk tidak dikunjungi.

Menggali informasi seputar Bima, kita akan menemukan banyak berita yang tak sedap. Oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Bima ditempatkan dalam zona merah. Di mata pemerintah, kabupaten ini mewakili noda hitam dalam agenda pengentasan kemiskinan. Bima dan pariwisata seperti dua kata yang berseberangan. Untuk apa mendirikan resor di sini?

Kiri-kanan: Dua turis asal Australia bersantai di kolam renang milik Kalimaya, resor pertama di pesisir timur Bima; kamar tidur di bungalo Kalimaya.

Kalimaya menempati lahan bekas kebun bawang merah, komoditas andalan lokal. Resor ini menampung enam unit rumah panggung yang berbaris di kaki tebing cadas. Tiap bungalonya dirakit dari kayu jati dan mahoni, dipayungi atap ilalang, dihubungkan oleh jalan setapak berlapiskan bata merah. Rural dan bersahaja, tapi nyaman. Listrik menyala nonstop. Air tawar mengalir dari shower. Hanya televisi yang absen.

Sebelum mendarat, saya sempat mencari referensi literatur tentang Bima. Hasilnya minim. Dalam The Malay Archipelago, Alfred Russel Wallace tak sedikit pun mengulas Bima. Dia memang tidak menginjakkan kakinya di sini. Dari Lombok, sang naturalis langsung melompat ke Timor. Wallace hanya sempat menyinggung Gunung Tambora di barat Bima, yang meletus tiga dekade sebelum ekspedisinya digelar.

Catatan tentang Bima justru saya temukan dalam jurnal yang jauh lebih sepuh: Suma Oriental. Pada abad ke-16, Tome Pires menggambarkannya sebagai tempat yang makmur. Bima, tulisnya, diperintah oleh seorang raja pagan. Warganya berkulit gelap. Tanahnya mengandung emas. Perdagangannya ramai. Bima menghasilkan ikan, asam, serta budak dan kuda yang dikapalkan ke Jawa. Yang membingungkan, Pires menganggap Byma (Bima) dan Cimbava (Sumbawa) sebagai dua pulau yang terpisah.

Pagi baru dibuka di Kalimaya. Matahari menembus celah gorden dan memaksa saya membuka mata. Di muka pondokan, laut bercorak perak, pulau-pulau tampak samar di kejauhan. Dengan wajah mengantuk, para tamu berjalan gontai ke restoran dan mengambil kursi. Tak ada yang mengeluh. Hari memang dimulai lebih awal di Kalimaya. Sarapan tersaji pukul tujuh. Tur selam bergulir pukul delapan. Resor ini didirikan oleh penyelam dan didedikasikan bagi penyelam.

“Saya dan Loren gemar bertualang,” Eric menuturkan kisah resornya saat kami menanti menu sarapan. Dulu dia bekerja di perusahaan simulator pesawat. Sementara Loren, istrinya, menekuni bisnis energi hidroelektrik. Keduanya memiliki pekerjaan yang menjanjikan sebenarnya, tapi mimpi mereka adalah membuka resor di daerah terpencil. “Tiga bulan usai menyelam di Komodo, mimpi itu teringat kembali, dan kami pun mulai serius mewujudkannya,” sambung Eric.

Kiri-kanan: Pemandangan pegunungan di Sumbawa Timur; warga lokal di Desa Poja mencari ikan-ikan kecil di pantai yang akan digunakan sebagai umpan para nelayan.

Gayung bersambut, seorang kenalannya menawarkan sebidang lahan di Bima. Eric dan Loren lalu memutuskan meninggalkan pekerjaannya, kemudian menulis lembaran baru di Indonesia. Pertengahan Oktober 2016, Kalimaya resmi membuka pintunya.

Rampung sarapan, kami menaiki perahu, lalu meluncur ke titik penyelaman. Abdul, segani yang jenaka asal Lembata, membawa kami menuju utara Selat Sape, mengarungi segara pagi yang datar layaknya seprai biru. Setelah setengah jam, kami mulai mendekati Gunung Sangeang. Gumpalan-gumpalan awan tersangkut di lerengnya. Tubuhnya dipenuhi guratan luka sisa letusan.

Perahu berlabuh di pelataran pulau dan sesi penyelaman pun dimulai. Di rahim laut, koral menebarkan warna-warna yang semarak. Seekor moray eel melongok penasaran dari sarangnya di celah karang. Belasan nudibranch melata anggun dengan tubuh yang mencolokdi atas pasir gelap. Mendekati Sangeang, saya menemukan puluhan lubang yang menyemburkan gelembung, hasil dari aktivitas vulkanis gunung. Air laut terasa begitu hangat.

Berkat keindahan alamnya, Sangeang rutin dijadikan titik pemberhentian dalam jalur pesiar yang bertolak dari Bali menuju Taman Nasional Komodo. Padahal, dulu, tak banyak orang yang berani menghampirinya. “Pulau ini,” tulis Tome Pires lagi, “memiliki bazar khusus perampok. Mereka ke sini untuk menjual apa saja yang mereka curi dari pulau-pulau lain. Pulau ini diperintah oleh seorang raja kafir, dan semua orang di sini kafir.”

Di sela penyelaman, kami rehat di tepi Sangeang. Di pantai berpasir hitam, puluhan rumah panggung reyot berdiri malas. Ayam dan kambing berkeliaran di kolong-kolong rumah. Kampung kumuh ini dihuni sekitar 200 orang, setidaknya selama beberapa bulan. Mereka datang dari Bima untuk menanam wijen dan kacang tanah, lalu hengkang selepas panen. “Tapi tahun lalu kebun kami gagal panen. Hujan jarang turun di sini,” keluh seorang warga.

Kiri-kanan: Seorang kelasi melepas lelah di haluan saat perahu meluncur ke titik penyelaman di pelataran Pulau Sangeang, sisi utara Selat Sape; snorkeling dan menyelam menjadi aktivitas wajib di pesisir timur Bima.

Masyarakat di sekitar Selat Sape umumnya hidup bersandar pada alam. Di darat, mereka berladang wijen, bawang merah, dan kacang tanah. Di laut, mereka membidik cumi-cumi. Tak ada padi di sini. Tanahnya terlalu cadas. Curah hujan minim dan labil.

Kami kembali ke resor menjelang senja. Para tamu bersantai di kolam renang, sementara saya melepas lelah di serambi bungalo. Alam di sini memang tak ramah bagi sawah, tapi pemandangannya mengagumkan. Di bawah langit jingga, Gili Banta tampak kering di kejauhan. Di baliknya, samar-samar terlihat Pulau Komodo. Selepas magrib, laut kalem ini berubah semarak. Dari desa-desa nelayan, puluhan bagan meluncur beriringan, lalu berbaris panjang di laut lepas. Sepanjang malam, perahu-perahu itu membuat Selat Sape berpendar oleh cahaya neon.

Mungkin tak banyak yang ingat, di masa lalu, Selat Sape tak cuma diramaikan oleh bagan. Kawasan ini merupakan salah satu pijakan untuk menyambangi Taman Nasional Komodo. Saban hari, kapal bertolak dari Pelabuhan Sape untuk mengantarkan turis menuju habitat kadal raksasa. Durasinya tiga jam, kurang-lebih sama dengan waktu tempuh dari Labuan Bajo. Tapi itu dulu. Setelah Labuan Bajo memugar bandaranya dan menambah konektivitas penerbangan, Selat Sape perlahan tenggelam dan dilupakan.

Menyewa mobil, saya menjelajahi interior Bima bersama Yamin, pria lokal yang telah bekerja sebagai sopir sejak 1993. Kami melihat-lihat kampung adat, berhenti di tubir lembah, mampir di warung kopi.

Merujuk statistik BPS, Bima hanya berhasil menjala sekitar 3.000 turis per tahun. Hotelnya hanya lima buah. Kepada Yamin, saya sempat menanyakan apa yang membuat tempat ini sulit memikat wisatawan, dan menurutnya rapor Bima yang meresahkan di bidang keamanan merupakan salah satu faktor utamanya. Warga Bima terkenal bersumbu pendek. Pertikaian antar-kampung adalah peristiwa jamak.

“Warga di sini mudah tersinggung,” ujar Yamin. Katanya, saat memasuki sebuah kampung, sekadar alpa menegur warga lokal bisa berbuntut panjang. “Di sini orang biasa berkelahi pakai parang. Tapi itu sudah biasa. Yang bahaya kadang mereka bawa senapan rakitan.” Yamin menduga, darah panas tersebut diwariskan dari raja-raja Bima yang terkenal gigih melawan penjajah, walau bisa jadi kemiskinan punya andil yang tak kalah besar.

Kabupaten ini berpopulasi sekitar 460.000 jiwa dengan 74.000 di antaranya masuk kategori miskin. Dari 36 desa tertinggal di Nusa Tenggara Barat, 15 di antaranya bersemayam di Bima. Saat hidup tak menawarkan banyak pilihan, harga diri kerap menjadi barang berharga yang mesti dijaga dengan tinju terkepal. Dan kemiskinan kerap tak cuma membuat orang bersumbu pendek, tapi juga berpikir pendek. Banyak problem yang mendera Bima sekarang juga bisa dilacak kaitannya ke problem kemiskinan.

Kiri-kanan: Pantai cantik yang terletak di kompleks Kalimaya; rumah adat suku Bima Uma Lengge Wawo yang berdiri di antara kampung warga.

Memasuki kota Bima, Yamin mengantarkan saya melewati sebuah permukiman di mana gembong teroris Santoso ditengarai membentuk jaringan dan merangkul pengikut. Awal 2016, tiga anak buahnya diringkus oleh tim Densus 88.

Mungkinkah pariwisata tumbuh di lanskap sosial seperti itu? Bisakah bisnis tur dan hotel merekah di daerah yang membuat analis risiko mengernyitkan dahi? “Tentu saja saya pernah mendengar tentang teroris, tapi mereka berada di kota, jauh dari sini,” ujar Loren, pemilik Kalimaya. “Kawasan timur karakternya berbeda. Orang-orangnya ramah. Resor ini bisa berdiri berkat bantuan mereka.”

Loren bukan satu-satunya yang berpikir optimistis. Kalimaya adalah resor pertama di timur Bima, tapi bukan yang terakhir. Empat hari berkelana di sini, saya sering mendengar orang-orang menggunjingkan rencana pembangunan resor baru di tepi Selat Sape. “Sebenarnya tak semua orang suka dengan pariwisata. Mereka takut dengan budaya asing,” ujar seorang pria di Poja To’i, kampung nelayan di Sape. “Tapi pariwisata bagus untuk Bima. Akan ada lapangan kerja baru.”

Detail

—Rute
Banda Udara Sultan Muhammad Salahuddin di Bima dilayani oleh Garuda Indonesia (garuda-indonesia.com) dari Lombok, serta Wings Air (lionair.co.id) dari Bali, Makassar, dan Lombok. Menuju Selat Sape, Anda bisa menyewa kendaraan di bandara dengan tarif tergantung dari jenis mobil dan kemampuan negosiasi, umumnya berkisar Rp400.000-425.000, termasuk sopir dan bensin. Salah satu sopir yang bisa diandalkan adalah Yamin (0852-3953-7704), pria lokal yang bisa mengantarkan Anda ke objek wisata seperti istana sultan, stadion pacuan kuda, dan kompleks rumah adat Di Uma Lengge Wawo.

—Penginapan
Sejumlah hotel kelas menengah bisa ditemukan di Kota Bima. Khusus tepian Selat Sape, sementara ini hanya ada Kalimaya Dive Resort (Poja, Sape; kalimayadiveresort.com; mulai dari Rp7.000.000 per orang untuk tiga malam, termasuk makan tiga kali per hari). Resor yang berjarak dua jam dari bandara ini menaungi dive center, enam bungalo yang ditata menatap laut, serta sebuah restoran yang dilengkapi kolam renang. Kecuali untuk sarapan, seluruh menu di restorannya berganti setiap hari. Bagi penyelam dan petualang, Kalimaya menawarkan kesempatan mengarungi kawasan elok yang jarang terjamah di timur Indonesia, misalnya Pulau Sangeang, Gili Banta, dan pesisir barat Pulau Komodo.

—Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Maret/April 2017 (“Asa Dari Tepi Sape”)



Comments

Related Posts

4673 Views

Book your hotel

Book your flight