Melawan Penurunan Populasi Lewat Seni

Populasi penduduk di Jepang terus menyusut. Menyewa arsitek dan perupa ternama, sebuah kota kecil di utara negeri mencoba mengerem tren itu melalui pendekatan yang unik: seni dan desain.

Air terjun Choshi Otake, salah satu objek wisata alam di luar pusat kota Towada.

Salah satu pemuda yang minggat itu adalah anak mereka sendiri. Memegang gelar master di bidang arkeologi, putra tunggal Komukai dan Yuki itu gagal menemukan pekerjaan yang sesuai dengan latar pendidikannya. “Dia sempat bekerja di minimarket,” kenang Yuki. “Lalu suatu hari saya bilang kepadanya, ‘kami sudah habiskan banyak uang untuk biaya kuliah, jadi sekarang kamu harus cari uang sendiri’.”

Problem eksodus sebenarnya tidak hanya mendera Towada. Banyak kota kecil di Jepang kesulitan mempertahankan anak-anak mudanya dari godaan merantau. Kondisi itulah yang membuat kota-kota besar kelewat padat, sedangkan kota-kota kecil berangsur lengang. Greater Tokyo misalnya, terasa sesak lantaran didiami hampir sepertiga populasi negeri. Sementara di kawasan pelosok, sekolah-sekolah ditutup atau dimerger akibat kekurangan siswa.

Ketimpangan itu kemudian diperparah oleh angka kelahiran yang rendah—tragedi yang berlangsung di tingkat nasional, tapi lebih memukul kota kecil akibat gelombang urbanisasi. Merujuk hasil sensus terakhir, populasi Jepang telah menurun dari 128 juta jiwa pada 2010 menjadi 127 juta pada 2015. Jika tren ini berlanjut, Jepang hanya akan dihuni 88 juta manusia separuh abad lagi.

Kiri-kanan: Dua tamu Towada Art Center sedang mengamati Cause and Effect, karya yang dirangkai dari ribuan figur berbahan resin; patung Standing Woman buatan Ron Mueck, pematung ternama asal Australia.

Tentu saja, Jepang tidak sendirian menghadapi bencana itu. PBB pernah mengumumkan puluhan negara yang mengalami prahara demografis serupa. Bulgaria misalnya, diprediksi kehilangan lebih dari separuh populasinya. Bedanya, Bulgaria bukan kekuatan yang penting dalam percaturan ekonomi global, sedangkan Jepang merupakan mitra dagang yang vital bagi banyak negara, termasuk Indonesia. Problem di sini bisa berimbas ke banyak tempat.

Bagi Towada, semua fakta itu terdengar lebih menakutkan. Kota ini tidak memiliki industri besar. Ia lebih dikenal sebagai penghasil yamaimo, sejenis ketela yang lazim disantap bersama mi atau nasi. Di mata kaum mudanya, Towada bukanlah tempat yang menjanjikan untuk membina karier. Pilihan profesi minim dan kesenangan hidup terbatas. Tapi justru karena itulah Towada berbenah. Didesak kondisi genting, Pemkot meluncurkan slogan baru “Exciting, Creative City,” lalu meluncurkan serangkaian proyek guna menyuntikkan gairah baru pada kotanya. “Salah satu alasan anak muda eksodus adalah absennya creative scene,” jelas Takahiro Motoshuku, staf Tourism & Industry Department of Towada City. “Isu inilah yang sekarang coba kami tanggulangi.”

Dalam kerangka itulah saya mencoba memahami inisiatif-inisiatif mahal yang diluncurkan oleh Towada, termasuk saat berkunjung ke City Library. Perpustakaan umum yang dilansir pada 2015 ini dirancang oleh arsitek masyhur Tadao Ando, seorang jauhari dalam memberi tafsir modern pada gaya spasial Jepang. Desain City Library mirip hasil kawin silang antara bungker dan ryokan. Tubuhnya berbahan beton, sementara ornamennya didominasi kayu.

Kiri-kanan: Yoshitaka, pemilik toko camilan di Taman Oirase; Yoroshiku Girl 2012, mural buatan seniman Jepang Yoshitomo Nara, yang melapisi dinding luar Cube Café di Towada Art Center.

Saat saya datang, sekelompok ibu sedang menggelar acara bedah buku anak. Di ruang baca utama, belasan remaja dan manula khidmat membaca di meja-meja panjang yang menyerupai area kerja coworking space. Tadao Ando mengusung konsep “educational plaza” untuk City Library. Dia berharap bibliotek ini tak sekadar menjadi wadah untuk memperluas wawasan, tapi juga medium untuk berbagi gagasan, kecuali mungkin bagi saya. Semua koleksi literatur tempat ini berbahasa Jepang. Mencoba mencari info, sang pustakawan tidak bisa berbahasa Inggris.

Towada, sebagaimana banyak kota di Jepang, dihuni warga yang mayoritas tak lancar berbahasa Inggris. Tapi mereka senantiasa ramah. Semua orang selalu berusaha merespons setiap ucapan saya dengan tutur yang santun. Khas kota di Jepang pula, Towada mengidap kegandrungan pada vending machine, kaum prianya gemar mengenakan kemeja putih, komik dewasa berisi adegan-adegan absurd dijajakan bebas di toko kelontong. Berbeda dari kunjungan terakhir saya ke Jepang, sebagian komik vulgar ini sekarang dilengkapi bonus DVD yang tak kalah vulgar.

Jika ada satu hal yang membedakan Towada dari kota lainnya, jawabannya pastilah kuda. Berkelana ke sudut-sudut kota, saya kerap menemukan ornamen bertema kuda. Ada arca kuda di perempatan. Ada ukiran kuda pada penutup gorong-gorong. Ada juga emblem kuda pada dinding gedung. Konon, obsesi janggal ini terpaut dengan sejarah kota. Di masa lalu, Towada merupakan sentra pengembangbiakan kuda yang memasok kebutuhan pasukan kavaleri kekaisaran Jepang.

Kiri-kanan: warga sedang berlatih tarian Bon Odori di Art Station Towada; barayaki, masakan khas lokal yang terdiri dari irisan daging sapi dan bawang dengan saus kecap.

Di siang lainnya, saya menyusuri trotoar yang ditaburi tapal kuda menuju Towada Art Center (TAC), terobosan kreatif Towada yang paling marak diperbincangkan. Kompleks yang diresmikan pada 2008 ini menampung karyakarya buatan perupa tersohor. Yang lebih menghebohkan, semua koleksinya tidak dibeli di balai lelang, melainkan diorder langsung dari tiap seniman.

Menginjakkan kaki di lobi TAC, saya disambut oleh mural rangkaian pita buatan Jim Lambie. Usai membeli tiket, saya memasuki ruangan berisi patung seorang nenek setinggi empat meter. Figur gigantik buatan Ron Mueck ini terasa begitu bernyawa berkat detailnya yang “manusiawi.” Helai rambut, bercak kulit, juga keriput tubuhnya, tampak natural.

TAC mengoleksi total 38 benda seni buatan 33 seniman prominen. Mayoritas disebar di areagedung, sementara sisanya dibiarkan tumpah ke trotoar dan padang rumput Art Square di seberang jalan, termasuk dua instalasi yang saya singgung di awal tulisan. Hampir seluruh karya menonjolkan permainan bentuk yang menghibur secara instan, tanpa makna-makna yang menukik terlalu tajam.

Seorang pengunjung Civic Center Plaza, gedung serbaguna yang dirancang oleh Kengo Kuma, arsitek asal Jepang.

Satu karya yang menurut saya cukup menggigit dihadirkan oleh Takashi Kuribayashi. Bentuknya berupa dua ruangan kontras yang disandingkan secara vertikal. Ruangan bawah ditaburi mebel putih yang polos dan mencekam. Sementara ruangan atas menampung sebuah rawa becek yang berkabut dan teduh. Takashi, seniman sekaligus penyelam, memang piawai dalam membenturkan alam dari dimensi yang berbeda, dan lewat karyanya dia mengundang kita merenungkan realitas hidup.

Bagi Towada, sebuah kota kecil yang tidak memiliki bandara, TAC jelas sebuah eksperimen yang berani dan mahal. Kompleks ini menghabiskan dana 2,4 miliar yen, setara biaya pengamanan tujuh demonstrasi di Jakarta. Anggaran kolosal itu tak cuma dipakai untuk berbelanja karya, tapi juga membayar arsitek.

Di TAC, gedung menjadi bagian dari pengalaman estetis. Kompleks ini terdiri dari 16 balok putih yang sebagian dicetak transparan, kadang dibiarkan terbuka di banyak titik. Tujuannya melebur batas antara “dalam” dan “luar.” Ryue Nishizawa, sang arsitek, berniat menciptakan dialog antara arsitektur, seni, dan manusia— iktikad yang memang hanya dimungkinkan jika seluruh karya dipesan khusus. Berkat pendekatan itu pula, di TAC, proses mencerna karya berkesinambungan dengan proses menikmati desain bangunan.

Instalasi berisi delapan patung polkadot warna-warni karya Yayoi Kusama berjudul Love Forever, Singing in Towada yang merupakan bagian dari eksebisi permanen di kompleks Towada Art Square.

“Menyadari mahalnya biaya proyek, sebagian orang awalnya melayangkan penolakan,” kenang Takahiro. “Tapi suara-suara protes itu perlahan reda. Target awal kami hanya 45.000 pengunjung per tahun. Tapi, di tahun pertamanya, TAC sukses menuai 170.000 pengunjung. Dampak ekonominya signifikan.”

Gaung yang ditiupkan TAC tak kalah signifikan. Kehadiran tempat ini cukup menggemparkan jagat seni Jepang. Towada tidak punya jejak dalam dunia seni, tidak pula memiliki akademi seni. Kitasato University, kampus satu-satunya di sini, dikhususkan untuk ilmu kedokteran hewan. Proyek TAC bisa dibilang memang tidak merefleksikan identitas kota, tapi lebih mewakili harapannya: membalik arus eksodus. “TAC didirikan bukan semata untuk memikat pengunjung, tapi juga pendatang,” kata Takahiro lagi. “Harapannya mereka akan menetap di sini, lalu membuka bisnis.”

Tahun ini, genap satu dekade TAC beroperasi. Sebenarnya tak jelas betul sejauh mana dampaknya dalam mengerem laju penurunan populasi. Tapi Takahiro mencoba melihat sisi baiknya: pamor kota mulai terkerek. Melalui beragam ajang yang ditanggapnya, TAC mulai menempatkan Towada dalam sirkuit seni. Mei silam, Takashi Murakami datang untuk memberi ceramah. Beberapa bulan sebelumnya, Yutaka Oyama menggelar konser musik.

Kiri-kanan: Seorang turis memasukki On Clouds, instalasi ruang terapung terbuat dari airpillows karya Tomas Saraceno; seorang turis tengah mengamati semut pemotong rumput raksasa karya Noboru Tsubaki.

“Seni kontemporer adalah sesuatu yang baru di Towada. Saya tidak yakin warga setempat benar-benar memahaminya,” jelas Midori Mitamura, seniman yang pernah menggelar diskusi di TAC pada 2014. “Tapi setidaknya di kalangan seniman Towada kini mulai dikenal.” Bagi kota kecil yang ditulis samar di atas peta, “dikenal” mungkin sebuah pencapaian yang patut dibanggakan.

PANDUAN

Rute
Towada bisa dijangkau dari Tokyo menaiki Shinkansen Hayabusa (jreast.co.jp) dengan waktu tempuh sekitar tiga jam. Ada dua stasiun di dekat Towada: Shichinohe yang berjarak 25 menit dari pusat kota, serta Hachinohe yang lokasinya lebih jauh tapi menawarkan opsi bus yang lebih banyak. Agar lebih praktis berkelana di Jepang, Anda bisa membeli Japan Rail Pass (japanrailpass.net), semacam tiket terusan untuk kereta dan bus yang dioperasikan oleh perusahaan JR. Penerbangan langsung ke Tokyo dilayani salah satunya oleh Garuda Indonesia (garudaindonesia.com).

Penginapan
Towada belum memiliki hotel merek asing dan mayoritas hotel di sini belum memiliki situs reservasi berbahasa Inggris. Dua hotel yang berlokasi strategis di pusat kota ialah Route Inn (13-2 Inaoicho; 81-176/212-020; route-inn.co.jp; mulai dari Rp1.000.000) dan Super Hotel (17-43 Inaoicho; 81-176/239-300; superhoteljapan.com; mulai dari Rp500.000). Hoshino, merek premium lokal, mengelola Oirase Keiryu Hotel (231 Tochikubo, Oze; 81-50/3786-1144; oirase-keiryuu.jp; mulai dari Rp3.600.000).

Informasi
Tiga bangunan yang menarik dikunjungi adalah Civic Center Plaza (81-176/585-670), Towada Art Center (towadaartcenter.com), serta City Library (towada-lib.jp). Civic Center Plaza dan City Library didedikasikan bagi warga lokal, tapi Anda setidaknya bisa menikmati desainnya yang impresif. Saat berkunjung ke Towada Art Center, pilih jalur yang melewati pertokoan Inaoicho untuk menikmati beberapa instalasi bertema “street furniture.” Oirase dan Danau Towada, dua objek wisata andalan kota, berlokasi di sisi barat dan bisa dijangkau menaiki bus JR yang beroperasi tiga kali per hari. Untuk informasi lain seputar Towada, kunjungi situs resmi Pemkot Towada (city.towada.lg.jp).

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi April/Juni 2018 (“Karsa Kota Kuda”).

Comments