Main Ski di Musim Panas

Zermatt tersohor sebagai destinasi ski yang bisa dikunjungi sepanjang tahun. Uniknya, industri pariwisata tempat ini dimulai dari sebuah tragedi.

Bar terbuka di Igloo Village yang menjadi tempat hangout favorit para turis.

Oleh Cristian Rahadiansyah

Zermatt menawarkan anomali: ski di musim panas. Hanya ada segelintir tempat di Eropa di mana kita bisa mengarungi salju pada pertengahan tahun. Tapi 2015 agaknya bakal menjadi momen yang berbeda. Orang-orang tak akan datang untuk ski, melainkan mengenang tragedi paling monumental dalam riwayat pendakian gunung di Zermatt. Tragedi yang mengubah wajah tempat ini selamanya. Mungkin satu-satunya tragedi yang “disyukuri.”

Saya datang di awal Desember, saat bola-bola putih berjatuhan dari langit, ketika gelombang turis musim dingin sedang menerjang. Saya datang menaiki kereta berwarna merah-putih. Namanya Glacier Express. Jendela-jendelanya didesain lebar guna memudahkan penumpang melihat pemandangan. Gerbong besi ini merangkak dan berliku perlahan di pinggang perbukitan. Kadang meluncur di tepi jurang dan meniti jembatan tipis, kadang melewati kandang yak dan sungai yang mulai membeku.

Zermatt teronggok di perbatasan selatan Swiss, terpisahkan hanya oleh beberapa gunung dari Italia. Populasinya sekitar 5.000 jiwa. Uniknya, mayoritas warganya berbicara dalam dialek Jerman, termasuk pemandu saya hari ini. “Lihat, di atas sana ada Stadion Ottmar Hitzfeld,” kata Christoph seraya menunjuk sebuah puncak bukit terjal. “Tingginya 2.000 meter!”

Panorama Matterhorn, gunung paling ikonis di Zermatt.

Lebih dikenal sebagai produsen pemain tenis, Swiss memang tak punya prestasi cemerlang dalam sejarah sepak bola, tapi setidaknya negeri ini memiliki stadion tertinggi di Eropa. Begitu tinggi hingga rumputnya terpaksa artifisial dan seluruh pemainnya diangkut dengan kereta gantung. Dan berhubung lokasinya persis di bibir tebing, stadion yang hanya dikelilingi jaring ini kerap kehilangan bola di tengah pertandingan.

Kereta mulai mendekati pusat kota Zermatt. Bentuknya lebih mirip desa di kaki pegunungan. Saya kini berada 1.600 meter dari permukaan laut, elevasi yang memicu pening. Zermatt seperti kota impian aktivis Walhi. Jalan-jalannya hanya mengizinkan mobil bertenaga listrik. Jumlahnya pun minim dan lazimnya cuma dipakai untuk mengangkut koper turis menuju hotel. Saat banyak kota sibuk menambah ruas jalan, Zermatt membuat gebrakan kecil yang mengirimkan pesan penting: hidup tanpa bahan bakar fosil bukanlah tindakan muskil. >>

Comments