Lika-Liku Dunia Perhiasan Perak di Bali

Bagaimana sebuah pulau tanpa tambang perak bisa menjadi produsen perhiasan perak terbesar di Indonesia.

“Selalu ada kisah di balik tiap karya,” jelas Guy. Dia mengambil beberapa lembar kertas berisi dongeng seekor naga. Hewan perkasa itu jatuh cinta pada mutiara laut. Tiap pagi, ia menceburkan diri ke laut untuk mencium mutiara di perut tiram. Malam harinya, ia melingkari puncak gunung sembari mengawasi pesisir. Dari dongeng itu, John Hardy melahirkan gelang-gelang perak yang teksturnya menyerupai kulit naga. Di ujung gelang, terpasang kepala naga dengan mata menyala. Guy lalu menunjukkan gelang di tangannya. “Ketika kepala naga menghadap ke luar, ia memberikan perlindungan. Saat menghadap ke dalam, ia membawa kesejahteraan.”

Arsitektur toko perhiasan John Hardy didominasi bambu dan bahan-bahan alam lainnya.

Dari Mambal, John Hardy mengapalkan perhiasan ke butik-butik bergengsi di banyak negara. Seiring dengan itu, kasta kerajinan perak Bali terangkat. Mungkin tak banyak yang membayangkan perhiasan yang diproduksi di tengah sawah bisa memikat dunia. Saya lalu teringat analogi teman saya. Orang Swiss juga dulu mungkin tak membayangkan negaranya bisa mengirimkan batangan-batangan cokelat ke penjuru planet.

Pande. Nama itu selalu terngiang di kepala. Banyak cerita menarik tentangnya. Pande adalah nama sebuah klan dari kasta bawah. Tapi bukan sembarang klan. Dalam kisah-kisah lawas, mereka bertugas membuat perkakas pesanan raja dan bangsawan. Bentuknya apa saja. Keris, tombak, pisau, mangkuk, alat musik… pokoknya apa saja. Di zaman sekarang, Pande mungkin bisa disejajarkan dengan tukang, tapi tukang untuk orang-orang penting. Tukang yang sangat disegani.

Roda zaman lalu berputar. Kekuasaan politik raja-raja di Bali sirna dan Pande pun kehilangan fungsinya. Awalnya hidup di sekitar pusat-pusat imperium, contohnya Klungkung dan Buleleng, mereka lalu menyebar, melebur dalam masyarakat modern. Demi bertahan hidup, mayoritas telah beralih peran. Mereka kini bekerja, bukan mengabdi. Klan ini masih eksis, tapi populasinya minim. Made Gede Suwardika adalah salah seorang yang tersisa.

“Dulu, Pande dibayar dengan tanah. Satu keris bisa dibayar dengan tanah seluas dua hektare,” Made Gede mengenang masa lalu keluarganya dengan nada lirih. Kakeknya seorang Pande. Bapaknya juga. Made Gede mewarisi keahlian dan gairah seni keduanya. Di balai sejuk samping rumahnya, Made Gede duduk bersila. Tubuhnya tegap. Tangannya kekar. Sosok yang ditempa oleh pergulatan dengan baja dan bara bertahun-tahun. Dia memperlihatkan salah satu karyanya: sebilah keris yang  dipenuhi ukiran perak. Detailnya menakjubkan.

Lekukan-lekukannya sangat dalam. Seekor naga mungil melekat di dekat gagangnya. Inikah ukiran perak tradisional Bali? “Saya hanya membuat bilah keris. Ukiran dibuat teman saya. Namanya Made Pada. Dia tinggal di Taro Kelod,” jawabnya. Taro Kelod, desa adat di utara Ubud. Ke sanalah saya meluncur.

Kiri-kanan: Bangunan dengan arsitektur rumah adat Minang di Bambu Indah yang digunakan untuk latihan yoga; pemandangan lanskap Ubud dari Hotel Bambu Indah.

Di pagi yang dingin di awal September, saya menelusuri rute sepi di jantung Bali. Jalannya sempit dan berkelok-kelok layaknya ukiran di gelang Suarti. Tiga jam saya habiskan di jalan. Berhenti beberapa kali, kadang berputar arah karena salah jalan. Made Pada berambut gondrong. Iris matanya berwarna kuning. Sosok yang tak mudah dilupakan. “Awalnya saya membuat perhiasan perak untuk aksesori. Tapi saya tidak suka. Rasanya membosankan,” jelasnya. “Sekarang saya membuat ukiran perak untuk keperluan adat. Saya membuat barang pusaka.”

Made Pada bukan seorang Pande. Pria kelahiran 1973 ini mempelajari keahlian mengukir dari keluarganya. Ayahnya seorang pematung. Kakaknya pemahat kayu. Hidup menjadi perajin seperti sebuah keniscayaan sejarah. Tapi Made Pada tak mau menjadi perajin. Dia ingin berkarya, bukan bekerja. Dia ingin menjadi seniman. Dan dia seniman yang berhasil. Banyak keris yang dipajang di Neka Museum, Ubud, merupakan buah tangannya. Satu ukiran dibuatnya selama berbulan-bulan. Harganya bisa mencapai ratusan juta rupiah. “Saya suka berkunjung ke tempat-tempat suci untuk memperhatikan ukiran bangunan dan patung,” kata Made Pada.

“Saat mendesain keris, apa yang saya lihat itu memberikan inspirasi. Ide-ide muncul, semuanya terinspirasi tradisi ukir tua.” Dia membawa saya ke ruang kerjanya: kamar tidur. Di depan matras yang lusuh, keris-keris setengah jadi berserakan. Di sekitarnya ada tengkorak kepala babi, tanduk rusa yang diukir, dan patung dinosaurus berbahan perak. Salah melangkah, saya bisa menginjak karya seni yang harganya lebih mahal dari mobil sewaan yang saya parkir di gerbang desa.

Tapi kamar bukanlah “studio” kerja satu-satunya. Di samping kamar ada sanggah, area sembahyang. Bentuknya mirip pura, tapi ukurannya mini. Menurut Made Pada, sanggah adalah bagian integral dalam prosesnya berkarya. “Sebelum membuat benda pusaka, saya bersembahyang untuk memutuskan pikiran dari hal-hal lain, lalu memfokuskan pikiran semata untuk bekerja. Taksu berasal hanya dari Tuhan.”

Kiri-kanan: Tempat tidur di Hotel Bambu Indah milik mantan pengusaha dan desainer perhiasan perak, John Hardy; ornamen pajangan dari kayu di Hotel Bambu Indah.

Taksu? Kata itu lagi-lagi muncul. Desak Nyoman Suarti sempat menyinggungnya saat berbicara tentang kerajinan perak Bali. Di kalangan seniman, Taksu sepertinya punya peran vital. “Taksu bisa datang jika kita fokus saat bekerja dan menyenangi pekerjaan kita. Jika kerja dipaksakan, hasilnya pasti tidak bagus,” kata Made Pada. “Ukiran yang dibuat benar, tegas, makin lama makin bagus Taksu-nya. Itu yang saya percayai.” Made Pada menjadi seniman karena panggilan hati. Kehadirannya mengembuskan harapan bagi eksistensi tradisi ukiran perak Bali. Sebuah tradisi yang ditempa dan dipandu oleh Taksu.

Detail
Bali

Rute
Penerbangan ke Bali dilayani oleh Garuda Indonesia (garuda-indonesia.com) dari banyak kota, antara lain Kupang, Jayapura, Makassar, Surabaya, dan Yogyakarta. Maskapai anyar Batik Air (batikair.com) juga memiliki rute ke Bali dari Jakarta.

Penginapan
Salah satu hotel terdekat dari sentra perak Celuk adalah Aston Denpasar (Jl. Gatot Subroto Barat No. 283, Denpasar; 0361/411-999; aston-international.com; doubles mulai dari Rp528.000). Tak jauh dari butik-butik perak di Mambal dan Ubud, terdapat Bambu Indah (Banjar Baung, Sayan, Ubud; 0361/977-922; bambuindah.com; doubles mulai dari $125), hotel berkonsep ramah lingkungan yang menawarkan pondokan-pondokan dengan arsitektur tradisional Nusantara. Butik perak juga tersebar di kawasan belanja di selatan Bali dan Villa de daun (Jl. Raya Legian, Kuta; 0361/756-276; villadedaun.com; doubles mulai dari $400) menawarkan akses strategis untuk menjangkaunya.

Aktivitas
Di Bali, bisnis kerajinan perak ditekuni beragam pemain, mulai dari perusahaan keluarga berskala kecil, seniman yang setia pada gaya tradisional, hingga korporasi internasional yang melayani pasar ekspor. Di Celuk, toko perhiasan bisa ditemukan dari jalan utama hingga gang-gang sempit. Jika tak tahu arah, kunjungi saja Celuk Design Centre di Jalan Raya Celuk. Di dalamnya terpajang produk dari 50 perusahaan. Di Desa Kamasan dan Taro Kelod, kita bisa menemukan seniman yang umumnya fokus membuat barang-barang berbahan perak untuk keperluan adat, mulai dari wadah sesajen hingga keris. Pusat produksi dan butik John Hardy (johnhardy.com) di Mambal terbuka bagi publik, tapi Anda harus melakukan reservasi jika ingin datang.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Maret-April 2014 (“Risalah Taksu”)

Comments