Lika-Liku Dunia Perhiasan Perak di Bali

Bagaimana sebuah pulau tanpa tambang perak bisa menjadi produsen perhiasan perak terbesar di Indonesia.

John Hardy mendarat di Bali sebagai turis lebih dari tiga dekade silam. Waktu itu, kerajinan perak belum menjadi industri besar. John, pria eksentrik yang hobi melancong, menyambung hidup dengan bekerja serabutan: membuat satu-dua buah perhiasan perak, lalu menjualnya ke konsumen dengan berdagang di jalan atau pantai. Satu perhiasan laku, John punya cukup uang untuk hidup seminggu. Saat koceknya menipis, dia kembali berdagang keliling.

Kiri-kanan: Kolam dengan hiasan jembatan bambu di Bambu Indah; resepsionis menyambut tamu di penginapan bernuansa alam, Bambu Indah.

Metode serabutan itu tak berlangsung lama. John didesak sang istri untuk lebih serius berbisnis. Bermodalkan gantungan kunci berbahan perak, dia terbang ke Amerika untuk merayu sebuah butik perhiasan terkenal. Upayanya kandas. “Kami berbisnis perhiasan, bukan gantungan kunci,” kata si pemilik butik. Untungnya, John tidak pulang dengan tangan hampa. Pihak butik memintanya menciptakan anting perak. Karyanya kali ini sukses, atau mungkin terlalu sukses. Pemilik butik memesan 300 anting. Bagaimana mungkin seorang pedagang keliling bisa menciptakan produk sebanyak itu? John pun meminjam uang dari sejumlah pihak sebagai modal usaha. Sejak hari itu, bendera John Hardy sebagai produsen perhiasan perak mulai dikerek.

Guy Bedarida menuturkan kisah dramatis itu dengan nada takjub. Dia tak habis pikir bagaimana sebuah perusahaan perak berskala kakap ternyata dirintis dari berdagang keliling. Gantungan perak yang dulu dibuat John masih disimpannya sebagai memorabilia. Guy mengambilnya dari lemari kaca, lalu memperlihatkannya. Wajahnya masih tidak percaya.

Pada 2007, Guy bersama Damien Dernoncourt membeli perusahaan yang dirintis John Hardy. Merek orisinal “John Hardy” dipertahankan. John, sang pendiri, juga masih menetap di Bali, tapi kali ini untuk mengelola hotel. Dia belum mau meninggalkan pulau yang telah mengubah garis hidupnya. Perusahaan perak John Hardy punya tempat spesial dalam peta industri perhiasan dunia. Seluruh produknya dibuat dari bahan daur ulang, metode yang bertujuan mereduksi kerusakan lingkungan. Juga penting dicatat, tiap perhiasannya dibuat mengandalkan tangan. Ada nilai seni tinggi yang terkandung di sana.

Proses produksinya dipusatkan di area seluas dua hektare di Mambal, tak jauh dari Ubud. Kompleks ini dikelilingi sawah, dan sepertinya sengaja didesain untuk menyatu dengan sawah. Di antara bangunan beratap ilalang, padi-padi tumbuh subur di lahan becek. Semuanya ditanam oleh para karyawan. “Menanam padi adalah salah satu job desc di sini,” kata seorang staf. Saya seperti berada di sebuah desa di tengah sawah. Jalan setapak membawa saya ke kandang-kandang hewan yang berbaris rapi. Ada kandang sapi, kambing, dan kelinci. Aroma tanah becek dan ternak begitu kental. Kadang baunya terbawa oleh angin dan menerpa tamu-tamu asing yang datang dengan dandanan rapi. “Kami ingin menjaga keaslian lahan,” Guy bercerita sembari memberi makan kambing. “Jika properti ini suatu hari nanti angkat kaki, lahan bisa dipulihkan ke kondisi semula.”

Rambutnya putih. Kemejanya putih. Celananya putih. Guy terlihat mencolok di tengah ratusan karyawannya yang berbusana jingga. Pria berdarah Prancis-Italia ini terlibat di industri perak Bali sejak 1999. Berbeda dari John, dia tak memulai usaha dengan berdagang keliling. Karirnya di bisnis perhiasan merentang panjang. Jejaknya penuh catatan wangi. Dia pernah bekerja untuk nama-nama besar sekaliber Boucheron dan Van Cleef & Arpels.

Kiri-kanan: Perhiasan perak hasil karya Made Pada, yang akan digunakan sebagai pelengkap topi seorang Pedanda (pendeta Hindu); giwang perak produk dari Suharti Maestro.

Saat John menawarkan pekerjaan di Bali, Guy meresponsnya dengan sebelah mata. Wajar. Sebagai desainer perhiasan, dia telah berada di puncak karir. Tak ada alasan membuang semua pencapaian itu untuk Bali, sebuah pulau yang terlihat begitu jauh dari kantornya yang mentereng di New York. Waktu itu, dia bahkan belum pernah berkunjung ke Asia. Tapi Bali punya magnet yang sulit ditepis. Banyak warga asing enggan berpaling usai menginjakkan kakinya di sini. Setelah bertemu para perajin dan berjalan-jalan di Mambal, Guy seperti tersihir. Apa sebenarnya yang dirasakannya saat itu? Guy tak punya jawaban tunggal. Dia melihat sekeliling, lalu kembali bercerita: tentang alam Hindu yang mengandung banyak ilham, tentang lanskapnya yang memesona, tentang orang-orangnya yang terampil.

“Kunjungan pertama saya mengubah segalanya,” kenangnya. Diiringi bau kambing dan tanah yang berseliweran terbawa angin, saya memasuki sebuah ruangan di mana puluhan remaja mengolah batang-batang perak menjadi gelang. Perkakas mereka simpel. Ada tang, pinset, dan pahat. Tangan mereka berpindah-pindah dengan cekatan. Prosesnya runtut dan rapi, tapi penuh daya kreasi. >>>

Comments