Lika-Liku Dunia Perhiasan Perak di Bali

Bagaimana sebuah pulau tanpa tambang perak bisa menjadi produsen perhiasan perak terbesar di Indonesia.

Kiri-kanan: Pekerja yang tengah sibuk membuat perhiasan perak di perusahaan John Hardy; Guy Bedarida dari John Hardy.

Hanya manusia yang bisa memohon Taksu dari langit. Peralatan secanggih apa pun mustahil menjalankan fungsi tersebut. Mesin tidak bisa berdoa. Mesin tidak memiliki Taksu. Di Bali, kerajinan perak bukan semata bisnis kreatif yang mengandalkan keahlian tangan. Di dalamnya bersemayam dimensi spiritual yang luhur. Mesin tak mungkin menggantikan peran perajin perak, seperti juga penari mustahil digantikan oleh robot.

Di Bali, perak bersinar lebih kemilau dibandingkan emas. Celuk adalah salah satu buktinya. Menyusuri Celuk seperti memasuki pabrik perak raksasa. Dari tepian jalan utama hingga gang-gang sempit, tokoperak bertaburan. Kadang saling menempel. Kadang saling berhadapan. Pelang-pelang toko perak menyembul di depan rumah layaknya barisan papan nama kafe di Legian. Merujuk data BPS , 78 persen ekspor perhiasan perak Indonesia berasal dari Bali, dan Celuk adalah salah satu simpul terpenting yang membentuk statistik tersebut.

Bisnis perak di sini memutar perekonomian rumah tangga dan menghidupi ribuan nyawa. Puluhan kilogram gelang, kalung, dan cincin diproduksi saban bulannya. Hari ini, saya memulai penjelajahan dengan metode yang keliru: menaiki mobil. Untuk mengarungi sudut-sudut labirin Celuk, sepeda motor adalah moda transportasi yang ideal. Mayoritas gang ukurannya terlalu cupet untuk dilewati kendaraan roda empat. Saya pun memarkir mobil, berpindah dari satu rumah ke rumah lain, dari satu toko ke toko lain, mencoba memahami mengapa kampung sesak ini bisa menjadi produsen perhiasan perak ternama.

“Celuk sudah menjadi sentra kerajinan sejak saya kecil, bahkan sebelum Belanda datang,” kenang I Komang Nuriantara, pria kelahiran 1971. Dia mengelola Putra Kembar Silver, perusahaan warisan ayahnya. Keahlian mengukir perak di sini seperti kode DNA yang diwasiatkan turun-temurun. Istilah perajin autodidak barangkali tidak eksis di Bali. Hampir 90 persen warga Celuk kini menekuni bisnis perhiasan perak. Kendati bisnis mereka punya sejarah panjang, toko-toko yang kini bertaburan di Celuk usianya belum terlalu tua. Mereka produk modern yang diciptakan Komang dan rekan-rekannya.Di masa lalu, mengukir hanyalah metode untuk menambal kas keluarga. “Di zaman orangtua saya,” ingat Komang, “mengukir perak adalah pekerjaan sambilan, selain menjadi petani.” Celuk berkembang berkat pariwisata. Daerah ini menghubungkan kawasan selatan dan utara Bali. Turis yang ingin merasakan hangatnya pantai di tepi Samudra Hindia dan sejuknya desa-desa di utara, pasti melewati Celuk.

Sayangnya, kisah Celuk tak melulu kemilau seperti perhiasan yang dihasilkannya. Karena bergantung pada sektor pariwisata, naik-turunnya jumlah turis berpengaruh signifikan pada kehidupan warga. Masih basah dalam ingatan Komang bagaimana dua serangan bom di Bali melumpuhkan usahanya. Sebelum tragedi itu, karyawannya lebih dari 20 orang. Sekarang Cuma tujuh yang bertahan. “Setelah bom, bisnis seperti mati. Tidak ada pembeli,” timpal pengusaha perak yang lain.

Dalam beberapa kasus, perkembangan turisme pun bisa mengancam. Kehadiran banyak hotel di pelosok Bali mendorong pertumbuhan infrastruktur. Jalan-jalan baru bermunculan untuk menghubungkan utara dan selatan pulau. Celuk kini bukan lagi jalur satu-satunya bagi bus wisata. Belum lama, para pengusaha mendirikan Celuk Design Centre. Lantai satunya diisi etalase yang memamerkan perhiasan dari puluhan perusahaan. Dihadapkan pada ancaman lesunya pasar, juga fluktuasi harga bahan baku, para pengusaha Celuk bersinergi untuk membuat terobosan. “Rombongan-rombongan bus sering singgah di sini,” kata seorang staf Design Centre. “Kami juga memiliki koperasi perajin. Anggotanya 160-an orang.”

Saya kembali menyusuri kompleks labirin Celuk. Beberapa toko telah ditutup dan dijual. Saya lalu singgah di UD. Romo, perusahaan yang fokus melayani pasar ekspor. Tiap bulannya, puluhan kilogram perak yang dibeli dari Aneka Tambang diolahnya menjadi perhiasan. Beberapa produknya dikirim hingga ke negara-negara di Amerika Selatan. Dengan melayani pasar asing, Romo berhasil melepaskan diri dari ketergantungan pada turis di Bali. Bisnis boleh pasang-surut, namun kisah Celuk untuk mempercantik dunia belum berakhir.

Swiss dan cokelat. Seorang teman memilih analogi itu untuk menjelaskan hubungan Bali dan perak. Swiss yang tidak memiliki kebun kakao berhasil menjadi produsen utama cokelat dunia. Meski tak punya tambang logam, Bali sukses menjadi sentra perhiasan perak. Kita pun menyimpulkan: kreativitas manusia sanggup mengatasi keterbatasan alam. Dan kreativitas itu bisa datang dari mana saja. >>>

Comments