Lika-Liku Dunia Perhiasan Perak di Bali

  • Resepsionis menyambut tamu di penginapan bernuansa alam, Bambu Indah.

    Resepsionis menyambut tamu di penginapan bernuansa alam, Bambu Indah.

  • Perhiasan perak hasil karya Made Pada, yang akan digunakan sebagai pelengkap topi seorang Pedanda (pendeta Hindu).

    Perhiasan perak hasil karya Made Pada, yang akan digunakan sebagai pelengkap topi seorang Pedanda (pendeta Hindu).

  • Nyoman Suarti dari Suarti Silver dengan dandanan eksentriknya.

    Nyoman Suarti dari Suarti Silver dengan dandanan eksentriknya.

  • Giwang perak produk dari Suharti Maestro.

    Giwang perak produk dari Suharti Maestro.

  • Tempat tidur di Hotel Bambu Indah milik mantan pengusaha dan desainer perhiasan perak, John Hardy.

    Tempat tidur di Hotel Bambu Indah milik mantan pengusaha dan desainer perhiasan perak, John Hardy.

  • Ornamen pajangan dari kayu di Hotel Bambu Indah.

    Ornamen pajangan dari kayu di Hotel Bambu Indah.

  • Bangunan dengan arsitektur rumah adat Minang di Bambu Indah yang digunakan untuk latihan yoga.

    Bangunan dengan arsitektur rumah adat Minang di Bambu Indah yang digunakan untuk latihan yoga.

  • Pemandangan lanskap Ubud dari Hotel Bambu Indah.

    Pemandangan lanskap Ubud dari Hotel Bambu Indah.

  • Peralatan makan yang terbuat dari perak dan bambu karya John Hardy.

    Peralatan makan yang terbuat dari perak dan bambu karya John Hardy.

  • Toko perhiasan John Hardy dengan fasad unik.

    Toko perhiasan John Hardy dengan fasad unik.

Click image to view full size

Bagaimana sebuah pulau tanpa tambang perak bisa menjadi produsen perhiasan perak terbesar di Indonesia.

Oleh Cristian Rahadiansyah
Foto oleh Putu Sayoga

Usianya lebih dari setengah abad, tapi tubuhnya masih memancarkan energi seorang remaja. Di ruang kerjanya, Desak Nyoman Suarti, seorang pengusaha perak paling berpengaruh di Bali, bergerak-gerak gemulai layaknya penari di atas panggung. Ibu tiga anak ini hendak menunjukkan tarian yang menginspirasi motif ukiran. Telapak tangannya bergerak memutar. Jari-jarinya membentuk simbol-simbol. Tak mudah memahami maksudnya. Menangkap wajah bingung saya, dia hanya tertawa.

Desak lalu membongkar tumpukan katalog, kemudian menunjuk gambar sebuah gelang. Lekukan-lekukan motif di badan gelang itu menyerupai alur putaran tangannya. “Motif ini disebut util,” katanya. “Alurnya melengkung.”

Desak juga menunjuk sebuah lukisan, lalu sebuah ukiran. Ada lebih banyak lekukan di sana. Ada lebih banyak motif yang tercipta. “Seluruh desain saya merujuk pada tradisi,” katanya. “Masing-masingnya memiliki akar budaya, yang kemudian dikembangkan menjadi perhiasan modern.”

Budaya, inikah penjelasan bagi asal-usul kerajinan perak Bali? Orang-orang lazim memanggilnya Mami atau Mangku, sebutan bagi pemimpin ritual di pura. Rambutnya disasak dengan bunga kamboja terselip di telinga. Menjadi seniman bagaikan takdir hidupnya. Ibunya penari. Ayahnya perupa. Rudolf Bonnet kerap bertandang ke rumahnya untuk berkarya. Desak masih ingat bagaimana dia berlari-lari riang di rumahnya, ketika ayahnya berdiskusi dengan pelukis ternama asal Belanda itu.Saat berusia 20 tahun, bakat menarinya tertangkap radar pengamat. Desak dikirim sebagai duta budaya ke Amerika untuk mengajarkan tarian dari kampung halamannya kepada warga asing. Jauh sebelum mengekspor perhiasan, wanita kelahiran Ubud ini sudah memperkenalkan seni Bali kepada dunia. Saya kembali bertanya tentang motif ukiran perak, dan Desak kembali menjawabnya lewat tarian. Memori tarian dari masa muda telah merasuk ke tiap sendinya. Atau barangkali dia lebih mudah berbicara lewat bahasa tubuh ketimbang kata-kata.

Nyoman Suarti memantau anak buahnya yang bekerja membuat perhiasan perak di studio miliknya.

Nyoman Suarti memantau anak buahnya yang bekerja membuat perhiasan perak di studio miliknya.

Desak merintis bisnis pada 1976. Pergaulan yang luwes di luar negeri membuka jalan baginya untuk memasarkan perhiasan Bali. Desak ingat, di masa itu, barang-barang etnik Nusantara hanya digemari kalangan pemilik museum. Melalui sejumlah negosiasi, wanita yang pernah menikah dengan pria Amerika ini berhasil meyakinkan seorang pemilik butik bergengsi di New York untuk menjual perhiasan asal Bali. Ini pencapaian yang monumental.

Bisa menembus salah satu pusat mode dunia membuka jalan bagi penetrasi pasar yang lebih luas. Jika kini perhiasan Bali telah menjadi aksesori busana, tak sekadar barang pajangan museum, Desak punya andil besar di dalamnya. Suarti Company, perusahaan milik Desak, kini mempekerjakan sekitar 100 karyawan, ditambah ratusan perajin lepas di luar kantor. Nyaris seluruh produknya diekspor. Kenapa tidak menekuni emas? “Dari segi harga, perak lebih murah dibandingkan emas. Proses mengukirnya juga lebih mudah,” jawab Desak. “Bagi konsumen, mereka juga bisa membeli perak lebih banyak ketimbang emas—dan tidak akan merasa terlalu rugi jika ada yang hilang, ha ha ha…”

Mulai 2008, Desak rajin berburu inspirasi dari luar Bali, contohnya Kalimantan dan Papua. Ukiran kayu Suku Dayak dan Asmat melahirkan ide-ide desain yang lebih segar, lebih bercitarasa Nusantara. “Tiap produk kami memiliki filosofi. Melalui perhiasan perak, saya bercerita tentang budaya, pulau, dan masyarakat Indonesia,” ujarnya. Suarti Company berjarak hanya beberapa langkah dari Pantai Ketewel, di mana ombak deras Samudra Hindia terus menggerus daratan. Di sebuah bengkel kerja yang mungil, lima lelaki mengukir lempengan-lempengan perak di meja panjang. Jari-jari mereka bergerak luwes. Gesit, tapi teliti. Orang-orang yang terampil. Bengkel ini bertugas menciptakan produk prototipe, yang kemudian hasilnya dikirimkan ke ratusan perajin untuk diproduksi dalam partai besar. Kata Desak, semua karyanya dibuat memakai tangan, karena itulah lebih dihargai di luar negeri. Tapi, bukankah mesin bisa bergerak lebih cepat? Bukankah dengan teknologi canggih ukiran-ukiran yang rumit bisa dibuat lebih presisi, lebih minim kesalahan? Desak percaya, budaya Bali juga menyimpan jawaban atas pertanyaan itu.

“Melalui doa dan ritual sebelum bekerja, seorang seniman bisa membuat karyanya hidup,” jawab Desak. “Itu artinya, karyanya sudah di-Taksu-kan.” Taksu? Membaca wajah bingung saya, dia melanjutkan penjelasannya. “Taksu berasal dari Tuhan. Manusia hanya menjadi perantaranya. Penari yang memiliki Taksu lebih menarik disaksikan. Kerajinan perak juga sama.” “Taksu itu mirip roh,” katanya lagi. >>>



Comments

Related Posts

10866 Views

Book your hotel

Book your flight