Kota Favorit Baru di Republik Cheska

  • Lanskap panorama kota berciri distingtif.

    Lanskap panorama kota berciri distingtif.

  • Bangunan bar di kawasan kota tua Cesky Krumlov.

    Bangunan bar di kawasan kota tua Cesky Krumlov.

  • Selain arsitektur kotanya, kulinernya pun menarik untuk dicoba.

    Selain arsitektur kotanya, kulinernya pun menarik untuk dicoba.

  • Interior Museum Josef Fotoatelier.

    Interior Museum Josef Fotoatelier.

Click image to view full size

Cesky Krumlov melesat jadi favorit turis Asia. Kesuksesannya berpangkal pada kemampuan merawat sejarah.

Oleh Cristian Rahadiansyah
Foto oleh Muhammad Fadli

Berkendara 2,5 jam dari Praha menuju Cesky Krumlov seperti berkendara 800 tahun ke masa silam. Cesky Krumlov, kota uzur di selatan Republik Cheska, melestarikan sejarah dengan ketekunan seorang pustakawan merawat arsip tua.

Di jantung kota, sebuah kastel menjulang dingin. Di kakinya, rumah-rumah tua bergandengan tangan, dihubungkan oleh gang-gang cupet berlapis batu. Di antara bangunan-bangunan itu, Sungai Vltava berkelok, mengalir pelan, layaknya musafir yang kelelahan usai menempuh perjalanan panjang dari Black Mountains.

Cesky Krumlov tulis UNESCO, adalah “contoh luar biasa sebuah kota kecil Eropa dari Abad Pertengahan di mana warisan arsitekturnya utuh terjaga.” Mengagumkan memang melihat Cesky Krumlov merawat masa lalunya. Tempat ini seolah tak berubah dan tak sudi berubah. Menatap dari menara kastel, saya tak mendapati satu pun bangunan modern. Banyak rumah sudah beralih fungsi, misalnya menjadi hotel atau restoran, tapi desainnya tunduk pada pakem lama saat kota ini dikuasai oleh klan Rosenberg.

Tangga yang menghubungkan kastel di Cesky Krumlov.

Tangga yang menghubungkan kastel di Cesky Krumlov.

Menyusuri gang-gang yang menyerupai labirin—atraksi utama di sini—saya menemukan biara, sinagoge, juga kafe yang berbaris di meander sungai. Saya lalu singgah di restoran piza yang, konon katanya, pernah menjadi tempat favorit Egon Schiele membunuh waktu. Egon, seniman kontroversial Austria, pernah menetap di Cesky Krumlov pada awal abad ke-20 untuk melukis wanita bugil—hobi yang membuatnya kemudian diusir dari kota ini.

Kota ini juga mengoleksi delapan museum, salah satunya Museum Fotoatelier Seidel yang memajang barang-barang peninggalan fotografer Josef Seidel, misalnya album-album yang sudah menguning, serta sebuah studio dari zaman ketika kamera mengembuskan asap layaknya meriam.

Maret silam, situs reservasi Agoda menempatkan Cesky Krumlov di peringkat kelima dalam daftar destinasi wisata di Eropa dengan pertumbuhan turis Asia tertinggi. Bisa dipahami mengapa kota ini disukai turis. Di sini, nostalgia bukan sebuah imajinasi yang samar tentang masa lalu, sebab masa lalu berhasil dihadirkan begitu kasatmata dalam wujud situs-situs yang bisa kita lihat dan raba.

Suatu kali, saya makan di sebuah restoran suram berisi meja-meja oak dan berplafon rendah. Sekujur bangunan berderit saat saya berjalan. Dari restoran ini, Cesky Krumlov terasa seperti kampung kecil yang tak peduli di luar sana ada banyak arsitek yang lihai merancang struktur yang lebih nyaman.

Tapi mungkin ketidakpedulian itulah yang membuatnya memikat. Cesky Krumlov bersikukuh untuk menjadi sebuah monumen. Ia tak bergerak, ia anti-waktu, sebab waktu hanya akan membawa kemajuan. Dan kota ini ingin mengumumkan: menampik kemajuan kadang bisa menyenangkan.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Mei/Juni 2016 (“Monumen Memori”)



Comments

Related Posts

1574 Views

Book your hotel

Book your flight