Koleksi Seni di Bandara

Selain restoran dan butik, bandara kini menawarkan karya seni.

bandara schipol schiphol the bird changi
Menikmati instalasi seni tanpa meninggalkan bandara.

Oleh Yohanes Sandy

Bagaikan ruang tamu sebuah negara, bandara internasional berperan vital dalam membentuk kesan pertama di mata dunia. Itulah sebabnya banyak negara sudi menggelontorkan investasi mahal demi mengerek gerbang udara yang memukau. Satu perkembangan yang menarik, seni kini mulai dilirik sebagai pemanis visual.

Contoh paling dekat adalah Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta (soekarnohatta-airport.co.id). Terminal yang diresmikan pada Agustus 2016 ini dihiasi karya-karya seni dari seniman kondang nasional. Kita bisa menemukan, misalnya, patung dari Ichwan Noor, mobil berlukis dari Nasirun, serta mural buatan Eko Nugroho dan Indieguerillas. Bagaikan sebuah galeri, terminal ini juga sempat menggelar pameran temporer yang menampilkan 28 karya dari pematung Nyoman Nuarta. Terobosan artistik ini cukup mengejutkan mengingat Bandara Cengkareng dikelola oleh perusahaan pelat merah.

Terobosan serupa terlihat di Bandara Changi (changiairport.com). Salah satu suguhannya yang atraktif adalah instalasi Kinetic Rain di Terminal 1. Karya buatan firma Art+Com ini dirangkai dari 1.216 bulir tetesan air berbahan tembaga yang diprogram untuk secara konstan bergerak naik-turun guna memproduksi 16 bentuk berbeda, misalnya pesawat dan naga. Sajian artistik juga dipasang di terminal lain Changi. Di Terminal 3 menjulang patung raksasa dari artis Tiongkok Han Meilin, sementara di Terminal 4 ada patung-patung burung transparan buatan perupa Prancis Cedric Le Borgne.

Tak mau hanya memajang karya, beberapa operator bandara menghadirkan ruang seni di dalam terminal. Bandara Charles de Gaulle (easycdg.com) di Paris mendirikan museum seni Espace Musees, sementara Bandara Incheon (airport.kr) di Seoul membuka Cultural Center. Strategi yang sedikit berbeda ditempuh Bandara Schiphol (schiphol.nl) di Amsterdam yang membuka cabang Rijksmuseum. Tentu saja, The Night Watch dari Rembrandt tidak dipajang di sini, tapi setidaknya kita bisa menyaksikan lukisan dari Jan van Goyen, Abraham Mignon, dan Michiel van Mierevelt. Berbeda dari Rijksmuseum versi orisinal, cabangnya di bandara dibuka gratis selama 24 jam saban harinya.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi April/Juni 2018 (“Seni Aviasi”).

Comments