“Trinity: Maudy adalah Saya Versi Jinak”

Trinity sudah 12 tahun lebih melancong dan menulis buku.

Film yang mengangkat kisah Trinity, penulis 13 buku perjalanan, tayang di pertengahan Maret. Sang tokoh berbicara tentang isinya, maknanya, juga konsekuensinya.

Wawancara oleh Cristian Rahadiansyah

Trinity, The Nekad Traveler sebuah biopik?
Bagi saya, biopik. Tapi sutradara dan produser menyebutnya romantic comedy. Memang susah dikategorikan. Film ini berkisah tentang saya yang diangkat dari dua buku pertama saya, dan buku saya isinya kumpulan cerita. Film ini lebih seperti tafsir bebas tentang saya. Isinya 60 persen akurat, 40 persennya fiksi. Misalnya tentang sahabat saya, Nina. Dia benar ada, tapi bedanya di dalam film dia memakai jilbab.

Seberapa jauh terlibat?
Setelah hak adaptasi buku dibeli, saya tidak bisa ikut campur proses produksi. Tapi produser masih melibatkan saya, misalnya untuk berdiskusi dengan penulis skenario agar mereka bisa memahami karakter saya. Untuk urusan casting, saya juga tidak ikut menentukan.

Artinya potret Trinity dalam film bisa berbeda dari aslinya?
Saya sudah tahu risiko ini. Sebelum film tayang saja sudah banyak orang mempertanyakan kenapa Maudy Ayunda yang dipilih sebagai pemeran utama, padahal dia berbeda banget dari saya. Tapi saya memahami alasan bisnis di baliknya. Saya belajar, bahasa film berbeda dari bahasa buku. Untuk Harry Potter saja, banyak penonton kecewa usai menemukan perbedaan antara versi novel dan filmnya. Dalam The Nekad Traveler, Trinity hadir dalam versi yang “jinak”: tidak pakai bikini, tidak minum bir, tidak merokok.

Perbedaan Trinity dulu dan sekarang?
Dulu saya lebih cuek. Setelah 12 tahun menulis, perspektif saya dalam melihat sesuatu berbeda. Sekarang saya lebih teratur, mencoba lebih dalam. Tapi saya tetap menulis apa adanya, setidaknya di blog, karena untuk buku ada sensor. Perubahan lain dalam diri saya disebabkan oleh norma yang juga berubah. Dulu misalnya saya bisa menulis bebas tentang kelakuan lucu pramugara gay di Emirates. Sekarang, orang yang membacanya menuding saya anti-LGBT . Dulu hal seperti itu tidak ada. Analoginya mungkin Baywatch. Dulu bebas tayang. Sekarang, pasti banyak bagian tubuh yang dikaburkan.

Salah satu adegan dalam The Nekad Traveler yang dibintangi oleh Maudy Ayunda dan Hamish Daud.

Arti film bagi karier?
Pastinya sebuah kehormatan. Saya bukan pahlawan, bukan presiden, bukan Wiji Thukul, tapi bisa difilmkan. Produser melihat saya sebagai sosok yang unik: tidak menikah, mengejar passion, nekat, dan buku saya menginspirasi banyak orang, terutama cewek-cewek.

Agenda berikutnya, mencoba vlogging?
Saya sudah punya YouTube channel sejak 2012. Waktu itu dibuat saat akan RTW [round the world] selama setahun. Proses bikin video lebih mudah karena saya bepergian dengan teman. Kita buat banyak footage, yang kemudian tayang di televisi. Sekarang saya sadar video kian penting karena kian banyak permintaan bikin video. Tapi jika trip sendirian, susah membuatnya. Jika ditanya agenda berikutnya, sebenarnya saya ingin menikah. Ini adventure yang belum saya lakukan. Menikah memicu adrenaline rush bagi orang seperti saya. Bayangkan, dari sekian banyak laki-laki, saya harus memilih satu.

Pencapaian terbesar?
RTW selama setahun dan pulangnya menghasilkan dua buku. Kisah saya difilmkan juga sebuah pencapaian. Tapi di luar itu semua, pencapaian terbesar saya adalah sekarang I’m living my dream.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Maret/April 2017 (“In The Spotlight”).



Comments

Related Posts

2035 Views

Book your hotel

Book your flight