Kembalinya Sang Hyang Dedari

Sang Hyang Dedari adalah potret kecil dari sebuah pertanyaan besar: di Bali yang kian modern, mampukah adat bertahan?

Sebagaimana lazimnya ritus sakral di Pulau Dewata, Sang Hyang Dedari ditujukan untuk menolak bala dan memohon berkah. Fungsinya sangat lekat dengan tradisi pertanian. Tarian teatrikal ini digelar menjelang musim panen dengan melibatkan gadis-gadis yang belum memasuki masa puber. Niatnya ialah memanggil roh Dewi Sri yang melambangkan kesuburan bumi.

Tapi zaman kemudian bergeser. Bali makin modern. Pertanian kian dipandang murni sebagai sektor ekonomi di mana kesuksesan lebih ditentukan oleh pupuk dan pemasaran, bukan campur tangan kayangan. Di sisi lain, banyak petani berpindah haluan ke usaha pariwisata. Alih fungsi sawah kian marak dan dengan itu Sang Hyang Dedari pun kehilangan relevansinya.

Perubahan monumental itulah yang didokumentasikan oleh Nyimas Laula, fotografer asal Jakarta yang sudah dua tahun bermukim di Bali. Proyek fotonya digarap di Geriana Kauh, sebuah desa petani di pelosok, yang mulai menanggap kembali ritus Sang Hyang Dedari setelah hiatus selama beberapa dekade.

Geriana Kauh berjarak sekitar tujuh kilometer dari Gunung Agung. Untuk menjangkaunya, Nyimas mesti menyusuri jalan aspal sempit yang cukup menampung hanya satu mobil. Desa ini menyandarkan hidupnya dari alam. Tanahnya yang subur menumbuhkan padi, jeruk, juga salak.

Dari reportasenya, Nyimas mendapati kembalinya Sang Hyang Dedari di Geriana Kauh dilatari pengalaman buruk. Warga meyakini ada korelasi langsung antara terkikisnya adat dan payahnya hasil panen. “Kemudian penduduk Geriana Kauh memutuskan untuk menghidupkan kembali Sang Hyang Dedari dan kembali kepada filosofi hidup yang berkesinambungan dengan alam,” jelasnya.

Nyimas mengaku belum tahu kapan proyek fotonya akan kelar. Dia masih ingin memantau sejauh mana Sang Hyang Dedari dipertahankan kesakralannya oleh warga. Kembalinya ritus ini telah menempatkan Geriana Kauh dalam radar turis, dan datangnya turis rentan menggoda warga untuk mengubah tradisi menjadi atraksi. “Saya pribadi merasa ada dilema, karena ikut andil dalam menyebarluaskan Sang Hyang Dedari,” ujarnya.—CR

Proyek foto ini dipilih lewat proses seleksi oleh editor tamu Beawiharta dan telah diterbitkan dalam DestinAsian Indonesia edisi Juli-September 2019.

NYIMASLAULA_DESTIN_SANGHYANGDEDARI_002 NYIMASLAULA_DESTIN_SANGHYANGDEDARI_003 NYIMASLAULA_DESTIN_SANGHYANGDEDARI_010 NYIMASLAULA_DESTIN_SANGHYANGDEDARI_015 1 NYIMASLAULA_DESTIN_SANGHYANGDEDARI_017 NYIMASLAULA_DESTIN_SANGHYANGDEDARI_021

Nyimas Laula
Fotografer yang berbasis di Jakarta dan Bali ini merintis kariernya di sebagai staf magang Reuters. Pada 2016, dia dianugerahi beasiswa oleh BURN Magazine untuk mengikuti Magnum Photo Workshop di Bangkok. Karyanya pernah dipamerkan di Photoville New York 2017, serta diterbitkan sejumlah media, termasuk The New York Times dan The Wall Street Journal. nyimaslaula.com.

Comments